
Pinky mengangguk dan masih memeluk batu nisan itu. Arion memicingkan matanya. Nama belakang pemilik makam ini memang sama seperti nama belakang Pinky.
"Terus yang ...." Arion menunjuk ke belakang maksud dia Rey.
"Itu Papa Rey, dia Papa tiri aku." Mata Pinky berkaca-kaca, dia mengalihkan pandangannya dari Arion untuk menyembunyikan rasa sedihnya. Pinky menarik napasnya dalam-dalam. "Dan ini Papa kandungku." Dia sekarang menatap tajam Arion.
Arion memiringkan kepalanya. "Maaf aku gak tau Kak!" Pinky tersenyum dengan mengelus batu nisan Papanya. "Lalu Aero?" tanya Arion dengan mengangkat kedua alisnya.
"Dia anak Papa Rey sama Mama. Kami beda Ayah aja."
"Oh ...."
"Papa meninggal waktu aku masih dalam kandungan. Kata mereka, Papa meninggal karena terkena tembak."
Pinky tak kuasa menahan air matanya. Dia mencoba menyapunya beberapa kali namun tetap saja air mata itu tak mau berhenti mengaliri pipinya.
Arion mengelus pundaknya dan ikut menyapu air mata Pinky. "Bagaimana bisa terkena tembak Kak?"
Pinky menggelengkan kepalanya, lalu menengadahkan kepalanya ke langit yang kini berselimut awan hitam itu. "Kata mereka Papa menyelamatkan Papa Rey dari penjahat itu. Aku tak mengerti jalan pikiran Papa. Kenapa dia tega ninggalin aku dan Mama berdua? Namun yang lebih aku tak mengerti, kenapa ada orang sejahat itu, dia yang sudah membuat Papaku pergi meninggalkanku?"
Arion memeluk Pinky yang kini menangis tersedu-sedu. "Aku gak akan pernah maafin penembak itu! Dia harusnya juga mati. Gak adil rasanya jika dia hanya mendekam di jeruji besi. Aku membencinya! Ingin rasanya aku mengutuknya dan juga keluarganya. Agar tau rasa kehilangan orang yang kita sayang."
Duuuuaaaarr
Pinky menghentikan tangisannya dan melihat ke atas. Jantungnya berdegup kencang mendengar suara petir yang menggelegar. Apakah ini pertanda dari Tuhan? Bagaimana jika dia tersadar jika laki-laki yang memeluknya itu adalah anak dari pembunuh Papanya?
"Kak mau hujan."
Pinky mengangguk. Dia menghadap ke makam Kevin dan mengelus batu nisannya kembali. "Papa Pinky pulang dulu ya!" Dia menyapu satu bulir air mata yang jatuh. "Papa sekarang sudah kenal Arion 'kan?" Pinky menoleh ke arah Arion yang sedari tadi tersenyum.
"Aku akan jaga anakmu Om! Aku akan bahagiakan dia!" Pinky memukul pelan dada Arion seraya tersenyum lebar.
Mereka berdiri, Arion kemudian menggandeng tangan Pinky pergi dari area makam ini menuju motornya.
__ADS_1
Arion melihat-lihat ke langit yang semakin gelap. "Ini benar-benar mau hujan. Tau gini aku bawa mobil," sesalnya. Walaupun selama ini kemana pun dia pergi selalu bawa motornya. Namun baginya kenyamanan Pinky lebih dari segalanya.
"Ya udah ayo pulang."
"Ini kalau pulang pasti kehujanan. Lihat langit sebelah sana!" Arion menunjuk arah restoran Pinky yang diselimuti awan hitam tebal. "Kamu mau gak aku ajak ke suatu tempat. Tapi aku tak yakin sih kamu bakal betah sementara disana apa gak?"
Pinky mengernyitkan dahinya, "Kok kamu ngomongnya gitu?" Bibirnya kini mengerucut.
"Ya udah ayo naiklah!" ajak Arion.
Dengan cepat Arion memutar gas motornya. Dia seperti berlomba dengan awan hitam siapa yang sampai pertama di tempat tujuan. Dia menyalip setiap kendaraan yang mencoba memperlambat lajunya. Masuk di sela-sela mobil yang juga berusaha menghalangi jalannya.
Pinky hanya pasrah dengan memeluk erat Arion dari belakang. Dia sesekali menutup matanya karena ketakutan. Namun di hatinya ada kedamaian walaupun suasana sangat mencengkam.
Kini Arion mengajak Pinky di tempat kumuh yang biasa dia kunjungi setiap hari. Arion memberhentikan motornya. Pinky terheran-heran. Tempat apa ini? Kenapa becek dan kotor sekali?
"Turunlah!" seru Arion.
Pinky perlahan-lahan menapaki jalanan yang penuh kubangan air berwarna cokelat. Arion membantu dengan terus memegangi tangannya agar tidak terjatuh.
"Aaaaaahhhkk," teriak Pinky saat terpeleset. Dia hampir terjatuh beruntungnya Arion dengan sigap menangkap tubuhnya. Mereka terdiam, terpaku saling memandang.
"Kak Arion ...." Teriakan anak-anak jalanan itu membangunkan mereka.
"Kamu gak apa-apa?" tanya Arion lirih. Pinky tersimpul malu dan menggelengkan kepalanya. "Pegang tanganku!"
Mereka berjalan kembali ke arah suara anak-anak itu. Bola mata Pinky berkeliling ke sekitar tempat ini. Ini pengalaman pertamanya. Dia tak pernah pergi ke tempat seperti ini bahkan baru kali ini dia tau.
"Duduklah disini!" Arion mengambil kardus sebagai alas duduk untuk Pinky agar tidak kotor. "Disini habis turun hujan?" tanyanya pada anak-anak itu.
"Iya Kak,"
"Kalian sudah makan?" Mereka kompak menggelengkan kepala. "Maaf Kakak tadi buru-buru gak bawa makanan! Asep, tolong kamu belikan nasi bungkus." Arion mengambil dompet di saku belakang celananya dan mengambil beberapa uang untuk diberikan pada anak itu.
__ADS_1
"Siap Kak!" Anak itu berlari dengan semangat.
"Kak ajarin kami gitar lagi!"
"Iya Kak, lama Kak Arion gak main gitar bareng kita. Habis ngasih makan langsung pergi."
Arion mengelus kepala anak-anak itu satu persatu. "Maaf Kakak repot! Ya sudah mana gitarnya ambil!"
Ada getaran di hati Pinky. Dia tak menyangka Arion begitu sangat mengagumkan baginya. Dia terus tersenyum memandang laki-laki itu.
Ah perasaan apa ini?
"Kak dia siapa? Pacar Kak Arion ya?" goda salah satu anak-anak itu.
Arion memicingkan matanya pada anak yang memberi pertanyaan itu, "Anak kecil tau pacaran dari mana?" teriaknya. "Kenalin ini namanya Kak Pinky. Cantik gak?"
"Cantik ...."
❤
❤
❤
❤
Jangan benci Arion ya! 🥺
Jangan menyalahkan anak walaupun mereka anak pengemis, anak pencuri, anak pembunuh, atau anak pelakor sekalipun!
Karena kita tak dapat memilih dari keluarga mana kita dilahirkan.
Yaaah Rey nya belum pulang bawangnya udah transfer duluan 🤣
__ADS_1
Bawangnya emak masih banyak Rey 🧄🧄🧄🥺