22.23

22.23
22.23


__ADS_3

Sebelum pernikahan dilangsungkan, Arion sudah merencanakan mengajak Pinky tinggal di apartemennya. Ya, itu adalah hak dia sebagai suami. Pinky pun tak keberatan, dia bahkan terlalu nyaman di apartemen Arion sejak dulu.


Malam ini mereka akan menempati kembali apartemen itu.


Arion membuka pintu kamarnya. Ini akan menjadi malam panjang mereka. Malam pertama, malam yang paling ditunggu. Tapi, tunggu dulu! Ini bukan malam pertama mereka lebih tepatnya malam kedua.


Arion berjongkok dan mencium tangan Pinky. "Jika malam itu aku tak merayumu, mungkin malam ini akan sempurna," ucap lirih Pinky dengan penuh penyesalan.


"Memang apa kurangnya malam ini, sampai kamu tak menyebutnya sempurna?"


"Ya kita 'kan pernah ngelakuinnya. Jadi ...."


"Kurang degdegnya?"


Pinky memukul dada Arion. "Apaan sih?" Dia tertunduk malu.


Mereka hanya terdiam. "Apa kamu tak berniat merayuku seperti dulu!" Pinky menggelengkan kepalanya. "Aku akan senang hati membalasnya." Dia hanya tertunduk malu.

__ADS_1


Arion menggaruk kepalanya, "Hei aku sudah menjadi suamimu malah kamu malu-malu!"


"Aku gak bisa seperti dulu. Kakiku ...."


"Ssssttttt," Arion langsung memeluknya. Dia menyatukan keningnya dengan kening Pinky. Menyelipkan anak rambut indah istrinya ke telinga. Sentuhan ujung jemari Arion membuatnya seperti tersengat. Ini baru ujung jarinya belum yang lainnya. Arion memiringkan kepalanya dan mencium bibir indah yang menggoda itu.


Biasanya Pinky yang memulai dulu tapi, kali ini tidak. Mereka memejamkan mata bersama seraya menikmati suara decapan yang semakin membuat menggila. Berbeda, kali ini ciuman mereka sangat berbeda. Ada perasaan nyaman tanpa rasa takut diantara keduanya karena hati mereka sudah menyatu.


Arion sekarang melepas bibirnya. "Aku mandi dulu ya!" Pinky mengangguk malu seraya mengelap bibirnya yang basah.


"Tidak perlu, aku suka aroma tubuhmu seperti ini." Arion menghirup aroma vanila dari tengkuk leher Pinky. "Tunggu aku!" bisiknya.


Dia berdiri dan memasuki kamar mandi. Pinky bingung terdiam. Kenapa dia jadi seperti ini? Dia juga merasa aneh dengan perasaannya.


Menunggu Arion mandi, Pinky mengambil lingerie-nya yang dulu dia beli dan masih tertinggal di lemari Arion. Dia menatap ke arah pintu kamar mandi itu. Masih terdengar gemericik air tanda laki-laki itu masih lama menyelesaikan membersihkan tubuhnya.


Dengan cepat Pinky mengganti baju yang dia kenakan dengan kain tipis berwarna hitam itu. Dia mendorong kursi rodanya kedepan meja rias kamar itu dan cepat-cepat menyisir rambutnya seraya berkaca semoga tidak ada yang salah dengan wajahnya.

__ADS_1


Arion tiba-tiba keluar kamar mandi dengan tetesan rambut yang masih setengah basah yang jatuh ke dadanya. Dia masih berusaha mengeringkan dengan mengusap-usapnya dengan handuk. Otot perut, lengan, serta dada sangat nampak terlihat jelas karena dia kini hanya menggunakan sehelai handuk untuk melilit tubuh bagian bawahnya.


Deg deg deg deg


Jantung Pinky terus berdegup kencang. Ini bukan yang pertama tapi kenapa begitu membuatnya bergemetar. Arion mendekatinya dan membelai lembut pipi yang berubah menjadi merah muda itu dengan punggung jari jemarinya.


"Kenapa?" Pinky tertunduk malu tak mampu menjawabnya. "Aku mencintaimu, kamu cinta pertamaku, kamu juga cinta terakhirku," bisik Arion.


Pinky melingkarkan kedua tangannya ke leher Arion dan laki-laki itu membopongnya ke atas tempat tidur. Dia menidurkan wanitanya itu pelan seraya menatap jam yang bergantung di dinding kamarnya. "Jam sepuluh malam lebih dua puluh tiga menit. Aku gak tau kenapa angka itu pas sekali dengan cerita kita."


"Kebetulan."


Arion menggelengkan kepalanya, "Gak ada yang kebetulan. Semua sudah ditakdirkan. Dan kamu adalah takdirku."


❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤


......TAMAT......

__ADS_1


__ADS_2