22.23

22.23
Tunda Dulu


__ADS_3

❤ Gak tau kenapa, lagi kangen Arion aja!


Yang nungguin Babang Rey yang habis makan telur burung unta di sebelah, sabar ya! Doain author khilaf biar bisa crazy up ❤


Selamat membaca!


Semoga alurnya gak lupa!


-


-


-


Pagi ini Arion bangun terlebih dulu, dia mengelus rambut indah Pinky dan mencium keningnya. Bulu mata lentik itu perlahan-lahan terbuka. "Kamu cantik sekali." Arion kemudian mencium pipi yang merona malu itu. "Mau lagi?"


Pinky menutupi sebagian wajahnya dengan selimut. "Sebenarnya masih perih, tapi ... terserah kamu lah!"


Arion terkekeh. "Kayak perawan aja." Pinky merengut kesal mendengar keledekan suaminya. "Kamu ingat semalam keluar berapa kali?" Arion mengangkat kedua alisnya.


"Ih," Pinky memukul pelan dada bidang itu. Malu banget jika mengingatnya. "Kenapa kamu masukin dalam. Aku udah bilang belum siap hamil."


"Maaf kelepasan, kita juga gak beli pengaman." Arion beralasan padahal ada unsur kesengajaan. Keguguran dulu membuatnya sedikit takut. Dia bahkan ingin bisa berjalan dulu sebelum hamil.

__ADS_1


"Aku tak mampu membayangkan, kalau aku hamil. Pasti kamu sangat kerepotan mengurusku."


Arion mengelus pipi mulus itu. Pinky terlihat menikmati sentuhannya dengan memejamkan mata. "Itu tak menjadi masalah besar bagiku. Percayalah kamu suatu saat nanti pasti bisa berjalan. Lagian aku 'kan gak sibuk apa-apa."


"Kakekmu nyuruh kamu megang perusahaannya, kenapa kamu gak mau?"


"Kamu sama seperti wanita lain mendambakan suami kayak gitu?" Wajah Arion berubah merengut. "Itu bukan impianku." Dia menggelengkan kepala.


"Aku juga gak mau, nanti kamu pasti malu punya istri lumpuh sepertiku." Pinky membuang wajahnya.


Arion menarik dagunya. "Jangan berkata seperti itu! Aku tak pernah malu. Aku bangga padamu!" Dia mencium bibir indah di depannya. Kemudian turun ke leher dan berakhir di dada.


"Makasih ya!"


"Heem." Arion berdehem, dia terlalu fokus memberi tanda kepemilikan disana. Wanita itu menjambak rambut Arion hingga tak berantakan.


Wanita itu hanya mampu terdiam mengikhlaskan. "Kamu tau gak? Tanda merah-merah ini tuh lama-kelamaan akan jadi biru gitu. Jelek banget aku gak suka."


Arion menghentikan aktivitasnya. "Lagian ini di dalam orang gak akan tau. Tenang aja aku bukan cowok yang main kasih gigitan di area terbuka."


"Apaan ih." Pinky mengernyit.


"Pagi ini kamu godain aku dong!"

__ADS_1


Pinky menggelengkan kepalanya. "Aku udah bilang dari semalam, aku gak bisa."


"Dulu bisa."


"Dulu kamu cuek banget gitu aku godain. Aku juga males ngulangin."


"Sekarang gak."


Wanita itu mencoba duduk "Aku lapar." Arion memeluk dari belakang, menyibakkan rambut panjang Pinky dan menghirup dalam-dalam tengkuk leher yang ada di depannya.


"Andai dulu kamu kayak gini. Pasti malam pertama kita indah sekali," ucap Pinky dengan mencebikkan bibirnya. Wanita itu masih kecewa dengan sifat dingin Arion dulu padanya.


"Aku dulu juga tersiksa nahannya."


"Sok cool." Pinky meledeknya.


"Tau aja." Arion menarik hidung mancung istrinya. "Mandi dulu sana! Aku siapin sarapan."


Pinky terkekeh. "Kebalik." Dia mendorong pelan Arion. Laki-laki itu kemudian memeluknya lagi. "Kita tunda dulu ya punya baby-nya!" usul Pinky.


Arion mengangguk. "Tapi semalam bagaimana?"


"Gak apa-apa. Aku lagi dapet kemarin jadi ini bukan masa suburku."

__ADS_1


"Oh ya?" Arion memiringkan kepalanya. "Kenapa dulu kamu ngasih hadiah aku pas waktu gak subur? Jadi urusannya gak belibet kayak gini. Aku juga gak kehilangan anakku."


"Aku sengaja hamil, biar Papa mau terima kamu."


__ADS_2