
Pinky langsung memencet-mencet bel apartemen Arion sesampainya disana. Dia terlihat kesusahan dengan membawa kue ulang tahun, koper dan juga lingerie yang dia beli tadi.
Dia mendengus kesal. Arion terlalu lama membukakan pintu untuknya. Pinky memencetnya kembali. Tak selang lama, Arion baru membuka pintu dengan wajah ditekuk.
"Gak sabaran banget? Aku kan lagi mandi."
"Jam segini baru mandi?" tanyanya keheranan.
Arion mengangguk. "Tadi ketiduran, baru bangun." Pinky langsung masuk dalam apartemennya dan duduk di sofa.
Mata Arion membulat melihat barang bawaan Pinky. "Banyak banget? Bawa koper juga." Dia terus menatapinya dengan dahi berkerut.
"Ini kuemu," Pinky menyerahkan sekotak kue yang dia beli tadi pada Arion.
"Terus dalam koper itu hadiahnya?"
"Ini bajuku. Aku sementara tinggal disini ya?"
"Hah?" Arion ternganga. "Kamu kabur dari rumah?" Pinky mengangguk. Arion menggelengkan kepalanya. "Gak bisa kamu harus pulang. Aku gak mau ya dituduh menyekap anak orang!"
"Aku gak tau harus kemana?" Bibirnya mengerucut. Arion hanya terdiam. Dia seperti tak mau Pinky tinggal di apartemennya. "Ya udah kalau gitu aku tidur di mobil aja!" Dia kesal, berdiri dan menarik kopernya keluar.
Arion menahannya, dia sebenarnya tak tega. Tapi jika Pinky tinggal bersamanya apa kata orang?
"Coba cerita kenapa kamu bisa kabur? Apa karena aku?" Pertanyaan yang jawabannya pasti iya karena kamu.
Wanita itu tersenyum. "Ceritanya panjang, nanti aku ceritain. Sekarang ayo kita siapkan keperluan ulang tahunmu."
Arion menggaruk-garuk kepalanya. "Ini baru jam berapa? Dia melirik jam dinding. "Masih sore."
__ADS_1
Pinky mencebik. Dia membuang mukanya ke jendela kemudian berdiri dan melihat pemandangan malam dari atas sana.
"Gak mau cerita? Arion mengikutinya.
Wanita itu menekuk mukanya. "Papa mau jodohin aku sama laki-laki itu."
Arion menarik kedua bahu Pinky dan menatap matanya. "Siapa?" Dia penasaran siapa laki-laki itu. Hatinya kini terasa sakit. Bagaimana pun juga dia mencintai wanita yang kini berada di depannya.
Pinky hanya menggelengkan kepalanya. "Aku tak mengenalnya, aku membenci ini semua."
Kemudian dia berjalan duduk kembali ke sofa. Tangannya kini sibuk merogoh ponselnya yang berada di dalam tasnya. Dia mengambilnya dan lupa mematikan ponselnya itu, ada sepuluh panggilan tak terjawab dari Rey. Banyak pesan juga yang dikirim Rey padanya. Namun Pinky langsung mematikan ponselnya tanpa membacanya. Dia berpikir pasti Papanya itu menyuruhnya pulang.
Melihat jam di dinding waktu masih menunjukan pukul 20.35 WIB. Dia mendengus kesal. Kenapa serasa lama sekali menunggu pukul 24.00 WIB.
Pinky mengambil remot televisi dan menyalakannya. Dia menyandarkan kepalanya seraya memejamkan mata. Kepalanya sedikit terasa sakit memikirkan nasibnya kini.
Braaak
Arion tak sengaja menyenggol gitarnya saat akan mengambil minum di kulkas. Suara itu otomatis membangunkan Pinky. Wanita itu mengucek matanya.
"Jam berapa?" tanyanya dengan malas berpikir padahal jam berada tepat di sampingnya.
"Jam sepuluh malam," Arion membawa segelas air minum dan berjalan mendekatinya.
"Aku mau!"
Dia mengambil gelas yang di bawa Arion dan meminumnya. Arion terkekeh kecil melihatnya. Dia kemudian duduk di sampingnya dan mengambil kembali gitarnya.
"Kita rayain ulang tahunmu sekarang aja ya! Kelamaan nunggu jam dua belas malam." Arion tertawa geli mendengar permintaan konyol Pinky.
__ADS_1
"Kalau dirayain sekarang berarti umurku masih dua puluh dua tahun." Dia menggelengkan kepalanya tak mengerti jalan pikiran wanita di sebelahnya. Arion menatap kembali Pinky. "Kamu lapar? Pengen makan kue? Ya udah ayo potong aja kuenya! Ngapain pake acara tiup lilinnya segalanya, kayak bocah aja."
"Kok kamu gitu, aku ingin ulang tahun kamu ke dua puluh tiga ini berkesan gak bakal kamu lupain sepanjang hidupmu!" Pinky mengerucutkan bibirnya.
Arion menggaruk kepalanya. "Ya udah potong kuenya sekarang anggep aja udah dua puluh tiga tahun!"
Pinky tersenyum lebar. Dia menata kue kecil itu dan memberi lilin diatasnya. Kemudian dia mengingat sesuatu. "Kamu tunggu sini!"
"Mau kemana?"
Pinky mengambil salah satu lingerie yang dia beli kemudian pergi ke kamar mandi. Dia mengganti bajunya dengan pakaian dalam yang memiliki desain seksi untuk menarik lawan jenis itu.
Dia berkaca menatap seluruh tubuhnya dari ujung kaki ke ujung kepala seraya merapikan rambut indahnya.
Di sofa Arion masih terlihat sibuk memetik gitarnya seraya bernyanyi. Dia telonjak kaget saat Pinky menutup matanya dengan kedua telapak tangannya dari belakang sofa.
"Mau main petak umpet pakai tutup mata segala?" tanya Arion dengan menaruh gitar di sampingnya.
"Aku mau memberikanmu sesuatu." Pinky membuka mata Arion, dia langsung melingkarkan tangannya ke dada cowok itu dan menempelkan pipinya.
"A-apa?"
❤
❤
❤
❤
__ADS_1