
Pagi-pagi sekali Arion memasuki apartemennya. Terlihat Pinky masih tertidur pulas di kamarnya hanya mengenakan lingerie berwarna merah yang memperlihatkan jelas lekuk tubuh indahnya. Arion menggaruk kepalanya mencoba tegar mengusir perasaan yang bergejolak di dalam dadanya.
Dia menutup rapat tubuh itu dengan menarik selimut. Mengelus pelan pipi lembut Pinky, sehingga membuatnya menggeliat dan mulai membuka kelopak matanya perlahan.
Arion terus memandangi bulu mata lentik itu dengan senyuman tipisnya. Mata Pinky membola mengetahui Arion duduk disamping tempat dimana dia tidur. Dia melihat tubuhnya masih aman tertutup selimut. Walaupun laki-laki itu sudah mengetahui semua lekuk tubuhnya namun Pinky masih merasa malu dengan kejadian tiga hari yang lalu.
Ya, sudah tiga hari ini dia tinggal sendiri di apartemen milik cowok berhidung mancung itu. Dia menyandarkan tubuhnya di sandaran tempat tidur seraya terus menarik selimutnya agar menutupi tubuhnya yang memakai pakaian tipis itu.
"Aku sudah melihatnya tadi," ucap Arion dengan tersenyum kecil. Pinky akhirnya melepaskan selimutnya sehingga memperlihatkan dadanya. Rasanya juga percuma menutupi. Arion melirik tajam ke arah sana. "Tapi gak gitu juga?" Arion menyindirnya. Ada sesuatu menggembung di balik boxer yang dia kenakan. Namun, laki-laki itu terus menahannya.
"Ya udah aku mandi dulu. Nanti aku pulang." Pinky sudah berjanji untuk itu.
Dengan santai Pinky menyibakkan selimutnya dan berjalan di depan Arion yang menundukan pandangannya seraya memegangi dahinya untuk menutupi matanya. Benar-benar ini sangat menggoda imannya.
Dia keluar kamar dan duduk di sofa mengambil gitar seraya memandangi pemandangan pagi yang indah dari jendela apartemennya.
__ADS_1
Tak selang beberapa lama, Pinky keluar dari kamar tidurnya dengan sangat cantik. Arion terus memandanginya seolah-olah pemandangan ini lebih indah dari pada pemandangan dari balik jendelanya itu.
Pinky terlihat sibuk menarik kopernya dan tersenyum pada Arion yang sedari tadi memandanginya. Laki-laki itu tersenyum tipis dan membuang mukanya. Ini membuat malu.
"Aku pulang dulu ya?" Wajah Arion berubah datar. Dia memang menginginkan Pinky untuk kembali ke rumahnya namun dia juga tidak bisa berjauhan darinya.
"Kenapa buru-buru? Ini masih pagi."
"Aku mampir ke resto dulu." Pinky duduk mendekatinya. "Makasih ya kamu udah ngasih aku tumpangan tidur tiga hari ini." Arion menatap mata sayu itu.
"Boleh aku menciummu? Aku gak akan minta lagi," ucap Pinky.
Deg
Jantung Arion seperti berhenti berdegup. Apa maksudnya?
__ADS_1
Arion terus menatapnya. "Apa kita gak akan bertemu kembali?"
Pinky mengangkat kedua bahunya. "Aku gak tau apa yang akan dilakukan Papa ke depannya. Mungkin dia akan memindahkanku ke planet lain sama seperti dulu saat aku kecil." Arion terkekeh.
"Oke baiklah. Semoga ini bukan ciuman terakhir kita," ucap Arion yang sebenarnya juga terus menahan keinginannya.
Mereka saling memiringkan kepalanya dan pelan-pelan menyatukan bibir mereka. Memejamkan mata seraya terus menikmati perpaduan manis dan kenyal. Seperti naik roller coaster ini sangat membuat ketagihan.
Arion semakin mengeratkan ciuman itu, lidahnya berusaha menerobos masuk ke dalam dan mengajak bergerak bersama. Namun, tak lama kemudian dia melepaskan tautan bibir itu, menghembuskan napasnya tepat di dekat wajah Pinky. Yang membuat wanita itu terbuai. Arion juga tak mau berlama-lama ini bisa menjerumuskan lagi ke lembah dosa.
Laki-laki itu mengelap bibir indah Pinky yang basah. Dia melihat senyum malu dan pipi yang menjadi merah muda itu.
"Ya udah aku pulang dulu!" Dia mengucap kalimat itu lagi. Arion berjalan menggandeng tangannya mengantarnya sampai mobil.
"Semoga Tuhan mengizinkan kita bertemu kembali!" Arion melambaikan tangannya pada Pinky.
__ADS_1