
"Kamu beneran gak mau masuk?" Pinky bertanya sekali lagi. Lalu dia melihat jam di tangan kirinya. Aero disaat jam seperti ini pasti masih di kantornya. Pinky mengehela napasnya. "Ya udah, pulang aja gak apa-apa kok!" Dia memberikan senyum setengahnya.
Ada sudut mulut yang muncul pada Arion. "Nanti aku ganggu kamu gak?" Mata Pinky berbinar, dengan cepat dia menggelengkan kepala dua kali.
"Oke."
Cowok itu turun dari motor dan berjalan berdampingan dengan Pinky masuk dalam restoran. Sesekali matanya melirik pada wanita di sampingnya yang pipinya tiba-tiba berubah menjadi merah muda itu.
"Kamu duduk situ!" Pinky menunjuk salah satu meja. "Mau minum apa?"
"Apa aja." Pinky mengangguk dan berjalan cepat ke dalam. "Tunggu! Kamu bisa panggil aja karyawanmu. Kenapa kamu yang menyiapkan sendiri?" Pinky berhenti dan memejamkan matanya. Sebenarnya dia ingin menghubungi Aero agar datang ke restorannya.
Dia membalikkan badannya. "Eem ...." Pinky menunjuk ke belakang. "Biar aku buatkan sendiri saja." Arion merasa di perlakukan spesial. Dia menipiskan bibirnya dengan menahan tawa.
Pinky langsung masuk ke dalam, mengambil ponselnya dan menelepon Aero dengan alasan dicari Arion. Dia meremas-remas tangan kirinya semoga adiknya itu tak repot dengan pekerjaannya.
Tak selang beberapa lama Aero datang dengan muka ditekuk. Dia menggeser kursi di dekat Arion keras.
__ADS_1
"Kenapa lo?" tanya Arion.
"Gue gak bisa lepas dari tiga cewek itu, puyeng. Malu gue, gak ngerti waktu banget mereka." Aero memegangi dahinya.
"Lo itu ibarat raja minyak beristri tiga." Aero melirik ke arah Arion yang meledeknya. "Mau gue bantuin lepas dari tiga cewek itu?" tawar Arion.
Aero melempar kunci mobilnya ke dada Arion. "Pakai nanya?" Arion terkekeh dan menaruh kunci mobil yang dia tangkap ke meja.
"Tapi ada syaratnya?"
Aero mengerutkan keningnya. "Lo gak ikhlas banget nolongin temen." Dia membuang mukanya kemudian menatap Arion lagi. "Ya udah apa?"
Braaak
Aero menggeprak meja dan menarik kerah kaos Arion. Arion membulatkan matanya. "Gue udah tau dari dulu lo suka sama Kakak gue. Kenapa lo baru bilang sekarang?"
Arion terkekeh dan berusaha melepas cengkraman tangan Aero.
__ADS_1
Tiba-tiba dari arah dalam Pinky melihat adiknya itu berlaku kasar pada Arion. "Eh Aero," teriaknya. Dia berlari ke arah meja mereka. Wajahnya terlihat panik. "Kamu mau apain Arion?" Dia menaruh minuman yang di bawa di meja. Dahinya terus berkerut.
Dua laki-laki itu tertawa lebar. Aero melepas Arion dan duduk kembali. Wajah Pinky menjadi cemberut. Dia menggerser kursi keras-keras dan membuang mukanya.
"Canda. Jadi kamu udah ditembak resmi sama Arion belum Kak?"
Pinky memandang adiknya itu kemudian melirik Arion. "Dia aja gak pernah nembak aku. Cuma bilang sayang aja."
"Nungguin ya?" goda Arion. Aero tertawa dengan memegangi perutnya.
Pinky menompang dagunya seraya menutupi sedikit mulutnya yang menahan tawa.
"Ya udah, pacaran yuk!" Arion tersenyum sembari memiringkan kepalanya.
Pinky menggodanya, "Maaf aku masih kecil, gak boleh pacaran sama Papa!"
"Makanya pacarannya jangan sama Papa, sama aku aja!"
__ADS_1
"Ha ha ha ha." Aero dan Arion tertawa terpingkal-pingkal.
Pinky mengedikan bahunya seraya memajukan bibir bawahnya kemudian melirik kedua laki-laki yang masih tertawa yang menurutnya sangatlah tidak lucu. Dia menempelkan jari telunjuknya di mulut. "Ssstttt .... Berisik! Para pengunjungku nanti pada kabur. Ganti rugi kalian berdua!" Pinky mengerutkan dahi ke arah mereka.