22.23

22.23
Papa Pulang


__ADS_3

Malam ini Pinky sudah bersiap rapi untuk pergi keluar dengan Arion. Degup jantung semakin kencang saat melihat jarum jam menunjukan pukul 19.30 WIB. Dia meremas-remas tangannya yang entah kenapa menjadi basah. Ini bagaikan kencan pertama dengan pacar. Pacar? Belum, mereka belum jadian catat itu!


Pinky terus menatap dirinya di kaca. Sesekali dia membenahi rambutnya agar rapi.


"Udah cantik."


"Apaan sih Ro ...." Pinky memajukan bibir bawahnya dan kembali menyisir rambut panjang nan indah miliknya.


"Kamu sisir pun, kalau naik motor ya bakal berantakan Kak," ledek Aero dengan memainkan ponsel barunya. "Lagian tuh Arion kaya raya sukanya naik motor kayak gak punya mobil aja."


"Hus ... Aero kamu gak boleh bicara seperti itu. Arion itu sederhana. Dia baik banget. Kamu tau gak dia suka ngasih makan anak-anak jalanan gitu." Pinky tersenyum-senyum membayangkan saat-saat dia dinyanyikan sebuah lagu oleh cowok itu.


Aero mengerutkan keningnya. "Masak?"


Pinky membuang mukanya. Dia mengambil ponselnya dan duduk di samping Aero. "Kamu contoh dia tuh!" Aero hanya mengangkat kedua bahunya.


Arion kini sudah sampai di depan restoran. Dia hanya memakai celana jeans panjang dengan kaos dan jaket berwarna hitam ditambah sepatu kets koleksinya. Sederhana. Namun begitu saja mampu membuat Pinky tergila-gila.


Sebelum masuk ke dalam restoran dia memastikan rambutnya tak berantakan dengan berkaca di spion motor sportnya.


Aroma parfum musk yang di semprotkan ke tubuhnya mampu membuat wanita yang berjalan menghirupnya memperlambat langkah mereka dan memandangi wajah manisnya.


Pinky terdiam membeku menatap laki-laki di depannya. Arion berjalan pelan dengan senyum tipis di bibirnya. Matanya seperti mampu tak berkedip.

__ADS_1


"Aku tidak membuatmu menunggu lama 'kan?" tanya Arion dengan memiringkan kepalanya dan mendekat pada Pinky. Pinky hanya menggelengkan kepalanya dua kali dan menunduk malu. "Aero mana?"


Aero lagi, Aero lagi. Pinky tak suka Arion selalu menanyakan adiknya. Kenapa dia tak fokus pada Pinky? Ah, ini seperti cemburu pada orang yang tak tepat.


Pinky menunjuk ke dalam. "Lagi di dalam, bentar lagi mau pulang kayaknya."


"Boleh aku ketemu dulu dengannya?"


Ah, ini seperti mengulur waktu saja. Pinky mengangguk seraya menekuk mukanya. Dia ke dalam memanggil adiknya.


"Di panggil Arion tuh!" Pinky berdengus kesal. Mulutnya mengerucut. Dia duduk terdiam di sofa sembari menunggu adiknya yang sibuk bermain dengan ponsel barunya.


Aero berdiri dan menemui Arion yang duduk menunggu mereka. "Kenapa lo manggil gue, katanya mau kencan?"


"Ya elah santai aja. Kayak izin sama bokap aja."


"Ya udah mana Kakak lo?" Pinky berjalan pelan dengan wajah yang masih ditekuk. "Kenapa wajahnya kok gitu? Ya udah yuk!" Arion mengulurkan tangannya. Pinky kini menjadi tersipu malu. Mereka bergandengan tangan keluar restoran. Aero hanya tertawa geli melihat mereka.


Sesampainya di ambang pintu nampak jelas di depan mata mobil MPV mewah berwarna putih yang tak asing lagi di bagi Pinky.


Pinky menghentikan langkahnya, tubuhnya terpaku, matanya membulat, kali ini dia sangat kesulitan menelan salivanya.


"Kenapa?" tanya Arion yang keheranan menatap Pinky. Pinky menatap Arion dan melepaskan gandengan tangan mereka.

__ADS_1


Pintu mobil otomatis itu pelan-pelan terbuka.


"Papa pulang,"






Maaf kalau upnya seuprit-uprit.


Nulisnya di sela-sela kesibukan. Dari pada nunggu 1000 kata gak selesai-selesai akhirnya bolos 😆


Kalau suka boleh di pencet ❤ biar ada notif.


Eh yang kangen Babang Rey mana suaranya?


🗣 katanya lusa?


ya maklum si abang sukanya bokis.

__ADS_1


__ADS_2