
Arion masih terus mengurungkan niatnya. Dia seperti tak mempunyai nyali untuk mendekati bahkan melihat keadaan Pinky sampai saat ini. Termenung, hanya itu yang dia bisa lakukan di hari-harinya.
Lebih dari sepekan ini Pinky berada di rumah sakit. Kecelakaan itu membuatnya tak sadarkan diri terlalu lama. Arion, satu nama yang terus dia ucap disetiap mimpi tidurnya.
Tak ada yang tau pasti penyebab Pinky tertabrak saat itu. Sebagian orang disana hanya mengira Pinky menyebrang jalan tanpa melihat kendaraan yang melintas di depannya. Syukurlah setidaknya Arion tak disalahkan dalam hal ini. Ini adalah murni kelalaian Pinky.
Kinan seperti tak sanggup untuk menahan air matanya setiap mendengar anaknya itu mengigau. Dia memegang tangan Rey dengan tatapan mata memelas, "Kamu restuilah mereka! Aku tau ini berat, bukan hanya untukmu tapi juga untukku dan juga Pinky. Tapi tak sepantasnya juga kita menyalahkan Arion untuk semua kesalahan Ayah dan Ibunya. Cinta sebenarnya tak pernah salah, seperti cintamu padaku dulu." Rey langsung memeluk Kinan.
"Maafkan aku!"
Kinan melepas pelukan itu, "Apa kamu merestui mereka?" Rey mengangguk. Kinan memeluknya kembali. "Terima kasih. Kamu laki-laki terbaik di dunia ini. Aku mencintaimu, sampai kapan pun."
Mereka menyatukan dahi dan ujung hidung. Memejamkan mata seraya menikmati hembusan napas satu sama lain.
"Ma ...." Mereka terlonjak. Kinan menghapus air matanya dan berjalan mendekat ke Pinky. Rey pun mengikutinya. Bola matanya seperti sedang mencari sesuatu. "Aero mana?"
"Dia sebentar lagi akan kesini. Kamu mau apa? Makan buah, minum susu, atau ...."
"Ma aku bosan disini terus, bolehkah aku jalan-jalan keluar?" sahut Pinky tanpa menghiraukan tawaran Mamanya. Dia tak menginginkan itu semua. Lidahnya terasa pahit.
Wajah Kinan berubah datar mendengar permintaan anaknya, dia menatap suaminya. Mereka saling bertatapan lumayan lama tanpa menjawab pertanyaan anaknya.
"Ma ...." Pinky mengerutkan dahi. Kenapa mereka hanya bertatapan dan tak menjawabnya?
"Eh," Kinan menoleh ke arahnya. Dia tak tau harus memulai berbicara darimana. Dari kecelakaan malam itu dokter mengatakan Pinky mengalami cedera saraf tulang belakang. Akibat salah satunya hilangnya kemampuan menggerakkan kaki alias lumpuh. Bagaimana dia harus mengatakan kenyataan pahit ini pada putrinya? Rey pun tak sanggup membuka rahangnya. Dia tak sanggup melihat air mata kesedihan mengalir di mata Pinky.
"Sayang, ka-mu gak boleh kemana-mana dulu!" ucap Kinan lirih.
"Tapi aku bosan Ma, aku terlalu lama berbaring di tempat tidur ini. Aku sudah tidak merasakan sakit apa-apa lagi."
Pinky menatap mata Kinan yang tak henti mengeluarkan air matanya. "Mama kenapa?" Kinan dengan cepat menghapus air matanya dan menggelengkan kepalanya.
Pinky mencoba menggeser kakinya. Dahinya berkerut. Berat, dia merasa kakinya sangat berat. Dia kemudian mencoba kembali, namun tak ada perubahan.
__ADS_1
"Ma, kenapa kakiku susah sekali digerakkan?" Dia masih terus mencobanya.
Rey mendekatinya dan mengelus lembut kepalanya. "Sayang, dengarkan Papa! Apapun yang terjadi sama kamu, kami akan selalu sayang padamu!"
"Maksud Papa apa?" Pinky masih tak mampu menggerakkan kakinya. "Pa ini kenapa?"
"Ka-rena kecelakaan itu, kaki kamu lum-puh.."
Deg
Pinky tak sanggup lagi membendung perasaannya. Dadanya terlalu sesak, sudut matanya terus mengeluarkan air mata. Dia menggelengkan kepalanya seolah-olah tak percaya dengan kenyataan pahit yang menimpanya.
"Pa ... Papa bohong 'kan?" suaranya menjadi serak karena isak tangisnya.
Rey langsung memeluknya. "Sayang, Papa gak akan lagi menyembunyikan sesuatu darimu walaupun ini sangat menyakitkan. Apapun yang terjadi padamu. Papa akan selalu ada untukmu. Papa akan selalu menemanimu."
"Gak mungkin Pa!" Pinky mendorong Rey. Dia menyibakkan selimutnya dan menatap kedua kakinya. Dia masih belum terima dan terus berusaha menganggkat kakinya. "Ma, lalu aku harus berjalan pakai apa?"
"Kamu ingin jalan-jalan, kita pakai kursi roda untuk sementara," ucap Rey seraya mendekatkan kursi roda itu pada Pinky. "Sini Papa bantu!" Rey mengangkat Pinky pelan ke kursi roda itu. "Kamu mau kemana?"
Pinky hanya melamun terdiam dengan isak tangis yang tiada hentinya. "Azka, a-pa dia tau keadaanku Pa?"
Rey mengangguk. "Ya dia yang membawamu ke rumah sakit."
"Aku ingin bertemu dengannya."
Rey dan Kinan saling melempar pandang. Bahkan laki-laki itu sudah tiga hari ini tak menampakan diri menjenguk anak perempuannya itu.
"Papa telepon dia dulu ya," ucap Rey seraya mengeluarkan ponsel dari kantong saku celananya.
Kinan mendorong Pinky yang duduk di kursi roda keluar ruang perawatan. Dia membawa anaknya itu ke taman rumah sakit seperti keinginannya.
Tak banyak yang mereka bertiga bicarakan. Pinky masih terdiam seperti belum menerima kenyataan. Wajahnya semakin pucat.
__ADS_1
Tak selang lama Azka datang menghampiri mereka. Papa dan Mamanya pergi meninggalkan mereka di taman itu.
"Azka, terima kasih kamu sudah membawaku ke rumah sakit." Kali ini Pinky memulai pembicaraan.
"Semua orang akan melakukan itu kok."
Pinky menatap mata Azka. "Apa kamu jadi melamarku?" Azka hanya terdiam. Pinky mengangkat kedua alisnya, berharap laki-laki didepannya itu segera menjawab pertanyaannya. Kali ini Pinky sudah siap menerima lamarannya. Dia tak perlu lagi memikirkan Arion yang menurutnya benar-benar sudah tak mencintainya lagi.
"Maaf,"
Deg
Satu kata yang menggetarkan hati Pinky.
"Aku kesini ingin memperjelas hubungan kita juga. A-ku gak jadi melamarmu." Pinky meneteskan air matanya kembali. "A-ku mungkin masih bisa terima jika kamu gak suci, tapi aku gak bisa mempunyai istri yang lumpuh. Maaf, bukan maksudku menghinamu. Tapi, kamu tau 'kan aku orang penting di perusahaan, aku gak mau aja ...."
"Cukup!" teriak Pinky dengan isak tangis. "Aku ngerti! Sudah cukup jangan kamu teruskan!"
Azka tertunduk dengan menipiskan bibirnya.
Pinky berusaha keras mendorong-dorong roda kursinya pergi menjauh dari laki-laki itu. Hidupnya serasa tak berguna. Tidak mungkin ada laki-laki yang mau menerimanya. Ucapan Azka seperti memberi goresan luka dalam hatinya. Pedih.
Dia kembali ke ruang perawatannya dengan isak tangis yang setiap orang yang melihatnya merasa iba.
"Papa ...." Pinky berteriak dan memeluk Rey. "Dia gak mau menerimaku. Siapa laki-laki yang mau menerima wanita sepertiku. Aku minta maaf selama ini gak nuruti nasehat Papa. Aku gak berharga. A-ku gak ...."
"Hei ...." Rey langsung bersujud di hadapan Pinky. "Kamu tetap berharga bagi Papa." Pinky menggelengkan kepala. Rey menyapu air mata yang seperti tak pernah berhenti itu.
"Papa aku mau pulang. Aku malu."
Rey mengelus kepala Pinky. "Tunggu sampai kamu benar-benar sembuh dulu ya!"
"Aku gak akan bisa sembuh. Aku akan lumpuh seperti ini terus. Ayo pulang Pa!"
__ADS_1