
Pagi-pagi sekali Rey dan Kinan bersiap untuk keluar kota. Mereka terlihat sibuk mengecek satu persatu barang bawaan yang telah mereka siapkan sebelumnya.
Kali ini mereka tak dapat memastikan kapan akan kembali. Perusahaan Rey disana benar-benar membutuhkannya. Pinky dan Aero terlihat lesu ditinggal oleh kedua orang tuanya. Anak perempuannya itu berjalan pelan dengan terus memeluk Papanya. Sedangkan Aero memeluk Mamanya dari belakang dengan menempelkan pipinya di pipi wanita yang begitu dicintainya itu.
"Nanti sampai sana kabarin ya Pa!" ucap Pinky dengan mengerucutkan bibirnya.
Rey mencubit hidung mancung anak perempuannya itu. "Iya, nanti kalau ada apa-apa telepon Papa ya!" Pinky mengangguk. Rey memutar badannya. "Aero kamu jaga Kak Pinky! Jangan keluyuran!"
Aero mengerutkan keningnya, "Emang aku pernah keluyuran Pa?"
Rey mengangguk dan memajukan bibir bawahnya, "Anak perawan bagusnya emang kayak gitu!"
"Yaah ... perjaka dibilang perawan," ucap Aero dengan menggaruk kepalanya.
Kinan memukul pelan bahu suaminya. Mereka kemudian pergi meninggalkan rumah. Dua anak itu menatap mobil yang ditumpangi kedua orang tuanya dengan melambaikan tangan sampai tak nampak lagi di depan mata mereka.
Sepi, suasana rumah menjadi sepi. "Arion jadi ke restoran Kak?" tanya Aero. Mereka berdua berjalan masuk ke dalam rumah lagi.
Pinky mengangkat kedua bahunya, "Kemarin bilangnya begitu."
__ADS_1
"Aku tungguin disana kalau gitu."
Pinky menghentikan langkahnya dan menatap adiknya. "Kamu gak kerja?"
"Gampang nanti agak siangan." Pinky mengangguk. Mereka berdua bersiap menuju restoran dengan menumpangi mobil Aero.
Lima belas menit perjalanan mereka sampai di restoran. Pinky bergegas masuk ke dalam, sedangkan Aero duduk di meja luar. Dia membuka laptopnya dan menyingsingkan lengan kemeja putihnya yang telah dia lipat sebelumnya.
Menekan ringan ujung jemarinya di keyboard. Dia nampak serius sekali hingga tak memperdulikan jika tiga teman wanita yang mengejarnya sedang berebut mendekatinya.
Mereka saling menarik tangan satu sama lain, berusaha siapa dulu yang mampu duduk disamping pangeran tampan itu.
Sonya menyusul duduk di samping kirinya. Sedangkan Rose menggerutu karena kalah cepat dengan dua wanita itu.
"Kalian itu bisa gak sih, buat hidup gue tenang sehari aja!" sungut Aero dengan menatap satu persatu wanita itu. "Diam, jangan berisik! Gue lagi pusing ngurusin angka-angka nih."
Dia kembali menatap layar laptopnya dengan mengerutkan keningnya. Ketiga wanita cantik itu sekarang terdiam seraya memandangi wajah tampan di depan mereka.
Tak lama kemudian terdengar suara motor sport hitam yang akan parkir di restoran itu. Siapa lagi kalau bukan Arion. Dia membuka helm dan menaruhnya di atas motor. Aero yang tak sengaja melihatnya langsung tersenyum dan berdiri menyambut teman kecilnya itu.
__ADS_1
"Woi ...." teriakan Aero membuat tiga wanita yang mengelilinginya itu terheran-heran. Mereka berpelukan sembari menepuk-nepuk bahu. "Tambah keren aja lo!" ucap Aero dengan merangkul Arion duduk di meja lain. Dia meninggalkan laptop serta tiga wanita itu.
Dengan cepat Sonya, Jenny, dan Rose berebut duduk di samping Aero dan menggandeng kedua lengannya.
"Ini cewek lo semua?" tanya Arion keheranan.
"Bukan."
"Jen, lo itu udah dari tadi deket Aero gantian gue dong!" Rose menarik-narik tangan Jenny.
"Gue yang duluan," teriak Jenny sembari melepaskan tangan Rose.
Aero memejamkan matanya, raut wajahnya terlihat geram. "Bisa diem gak?" teriaknya. "Elo, elo dan elo pulang!" Dia menunjuk satu persatu wanita di depannya.
"Ro aku pagi-pagi ke kantormu gak ada, terus kesini buat ketemu kamu, dari kemarin kita belum ketemu. Kamu gak kasian sama aku?" ucap Sonya seraya bersandar di lengannya. Arion tertawa geli melihatnya.
Aero mengusap gusar wajahnya. "Kalian cari cowok lain yang bisa nerima kalian. Gue gak bisa milih satu diantara kalian."
"Aku kurang apa sih Ro? Kamu pilih aja aku!" ucap Rose dengan menyibakkan rambut panjangnya ke belakang sehingga Aero melihat belahan dada yang mengembang.
__ADS_1
Laki-laki itu menjambak rambutnya, "Kalian semua cantik sempurna gak ada kurangnya." Dia menatap satu persatu wanita itu. "Tapi makin kesini kalian parah aja ya, setiap ketemu gue selalu aja pakai pakaian minim kayak gini. Sejauh mata gue memandang yang ada hanya ketemu gunung kembar. Belum lagi paha kalian umbar-umbar. Apa maksud kalian? Pengen nguji kadar keimanan?"