
Hari demi hari, bulan demi bulan kini Arion dan Pinky bersama. Sampai tak menyangka satu tahun sudah mereka menjalani hidup berdua. Hidup melengkapi kekurangan satu sama lain itu begitu indah rasanya.
Arion, dia sampai sekarang masih terus berusaha mencari pengobatan terbaik untuk kaki pujaan hatinya. Usahanya seperti tak sia-sia. Kaki yang lumpuh itu perlahan demi perlahan mampu digerakan, walaupun belum bisa sempurna berjalan. Pinky sekarang tak memakai kursi roda tapi dengan bantuan dua tongkat untuk membantunya berjalan.
"Jika kamu mampu berjalan kembali, aku akan memberikan apapun yang kamu pinta," ucap Arion seraya membantu istrinya itu melangkahkan kaki.
"Benarkah?"
"Heem." Mereka saling bertatapan.
"Aku gak mau muluk-muluk. Aku hanya merindukan naik motor sport kesanganmu dan berputar-putar menyusuri jalan." Arion terkekeh kecil.
"Aku akan setiap hari mengajakmu jalan-jalan. Kamu memelukku erat dari belakang dan memasukan tanganmu ke hoodie yang ku kenakan." Pinky tertawa seraya memukul pelan Arion.
"Aku juga ingin melihat anak jalanan itu."
Arion mengangguk. "Mereka sangat merindukanmu."
"Oh ya?" Mata Pinky berbinar. "Aku tak sabar ingin bertemu mereka."
__ADS_1
"Cepatlah sembuh! Aku akan mengantarmu kesana!" Arion mencium puncak kepala Pinky dan memeluknya.
-
-
-
-
Di tempat lain, Aero masih disibukan dengan pekerjaan yang selama ini Kakeknya berikan. Pagi, siang, bahkan sampai larut malam dia terus memeras otaknya. Rasanya ingin meledak kepalanya. Sungguh ini membuat sangat tersiksa.
Tak ada yang bisa di ajak bercanda atau pun tempat berkeluh kesah. Melihat Arion sudah menikah dengan Kakaknya membuat Aero menjadi ingin memiliki kekasih juga. Tapi siapa? Teman-teman wanitanya seperti dia anggap biasa saja. Rasanya sangat bosan diminta untuk membelikan skincare atau bersalon ria belum lagi belanja yang seperti menjadikannya budak cinta. Ah itu hal yang sangat dibencinya.
"Selamat datang ... selamat belanja!" sapa salah kasir dan pramuniaga mini market tersebut. Namun, cowok itu seperti tak menghiraukan mereka. Dia berjalan cepat mengambil minuman di dalam kulkas dan langsung membayar di kasir.
Tapi, karena posisi mini market itu ramai dia harus sabar mengantri. Dia melihat aneh orang-orang memicingkan mata saat melihatnya.
Ada apa?
__ADS_1
Ini membuatnya sangat risih. Bahkan kasir yang melayaninya pun tak sanggup menahan tawa. Dia mengerutkan kening.
"Ini kenapa pada nahan ketawa?" tanyanya dengan raut wajah geram. Dia melihat dari ujung kaki ke dada rasanya tak ada yang aneh dengan penampilannya.
"Maaf Mas," ucap kasir itu. "Lis, antri banyak nih bantuin dong!" teriak kasir itu.
"Iya aku datang." Aero seperti tak asing dengan suara wanita itu. Dia melihat wanita yang dulu pernah membantunya. Hei, semakin cantik dan dewasa saja dia. Aero menyunggingkan senyum di bibirnya.
"Lisa, kemana aja lo? hem ...." Aero memiringkan kepalanya. Mulut Lisa ternganga melihat cowok di depannya.
"Siapa?" Teman kasirnya menyenggol lengan Lisa.
"Makin cantik dan berisi aja nih," goda Aero yang membuat Lisa menjadi mati kutu.
"Pruit tea dua ini saja Mas?" tanya salah satu kasir yang tak sanggup menahan tawa.
Aero mengangguk. "Ya," jawabnya dengan terus memandangi Lisa.
"Beli dua gak kurang tuh? Stoknya cepat habis loh minuman ini," Lisa terkekeh bersama temannya. Aero semakin bingung dengan semua tingkah orang yang menatapnya. Setelah membayar dia menarik paksa tangan Lisa keluar dari mini market itu.
__ADS_1
"Kamu mau nyosor sama siapa beli minuman kayak gitu?" goda Lisa seraya menutup mulutnya. Aero masih belum juga paham dengan minuman yang lagi viral membuatnya menjadi bahan ketawaan.
"Maksud lo apaan?" Aero merasa geram. Dia tak peduli lagi dan bertanya pada Lisa. "Eh Lis, dulu 'kan gue pernah ngasih lo kartu nama." Lisa mengangguk pelan. "Terus kenapa lo gak mau hubungin gue?"