22.23

22.23
Kakimu indah


__ADS_3

Setelah sarapan mereka keluar apartemen dengan membawa kunci mobil Pinky. Arion tak mungkin memboncengnya dengan motor sport. Dia berpikir akibat kejadian semalam pasti akan tambah menyiksanya.


Tak lupa Arion menyuruh Pinky untuk memakai baju yang bisa menutupi semua tanda merah yang dia berikan semalam. Dia tak ingin Selena mengetahuinya.


Arion terus menggandeng tangan Pinky di setiap langkahnya. Sesekali dia menengok ke arah wajah yang berubah sayu itu.


Di dalam mobil mereka hanya terdiam tak ada sepatah kata pun keluar dari mulut. Pinky menyandarkan kepalanya seraya menatap kosong ke arah jendela mobil.


Sesampainya di rumah, Arion kembali menggandeng tangannya. Selena berdiri terdiam menatap mereka di depan pintu. Kenapa Tuhan memberi mereka cinta yang pasti menyakitkan ini?


"Mama ...."


"Kalian dari mana?" Kemudian Selena celingukan mencari motor sport anaknya. "Tumben gak bawa motor?"


Arion berpikir keras, "Em ... Arion tinggal di apartemen Ma." Selena mengangguk bingung. Baru kali ini anaknya itu meninggalkan motor kesayangannya.


"Pinky ... apa kamu sudah diizikan Papamu jika bertemu Arion?" tanya Selena dengan mengerutkan dahi. Bagaimana pun juga Selena takut jika Rey marah pada anaknya.


Pinky menunduk tak mampu menjawabnya. Selena seperti tau apa yang terjadi dari wajah anak itu. "Pasti kamu ketemu Arion diam-diam 'kan?" Selena mengangkat kedua alisnya. Pinky mengangguk pelan seraya menatap Arion.


"Besok-besok kamu gak boleh seperti ini lagi!" ancam Selena.


"Maaf," ucapnya lirih.


"Ya sudah Mama mau keluar sebentar."


Selena pergi meninggalkan mereka. Arion menuju kamarnya menapaki anak tangga seraya menggandeng tangan Pinky.


Pinky tercengang melihat kamar cowok itu yang begitu luas desain berkarakter maskulin dengan warna hitam putih dan abu-abu. Tak ketinggalan pula ada satu gitar yang bersandar di sebuah sofa berwarna abu-abu disana.


"Setelah ini aku mau lihat anak-anak, kamu kalau capek tidur saja di kamar ini. Nanti aku akan cepat kembali," ucap Arion dengan tangan yang sibuk mengeluarkan baju-bajunya dan menatanya ke lemari.


Pinky menggelengkan kepalanya sembari duduk di tepi tempat tidur cowok itu. "Aku gak capek." Arion berjalan mendekatinya dan mencondongkan badannya mendekati wajah Pinky. Wajahnya terlihat sangat lelah.

__ADS_1


"Bohong."


"Aku akan bosan disini sendiri." Wajahnya memelas.


"Ya udah, aku ganti baju dulu." Dia membuka seraya menggerutu, "Kaos ini terlalu lusuh."


"Kamu gak mau setrika," sahut Pinky.


Arion membalikan badannya dan mengambil salah satu kaos di lemarinya. Mata Pinky membulat. "Punggung kamu kenapa?" Dia berjalan mendekatinya.


Arion menengok punggungnya lalu menatap Pinky yang sepertinya tak sadar akan semalam sudah memberikan bekas luka cakaran kukunya. "Menurutmu?"


Pinky menatap Arion, kemudian menunduk merasa sangat bersalah dan kembali duduk di tepi tempat tidur. "Maaf." Hati Arion bergetar. Dia mendekatinya seraya memegang kedua tangan Pinky.


"Sakit ini tak seberapa, pasti sakitmu yang luar biasa. Maafkan aku jika semalam terlalu kasar padamu!"


Pinky menggelengkan kepalanya. "Kamu gak kasar."


Arion tersenyum kecil. Ya sudah ayo berangkat!"


Arion mengendalikan kencang mobil Pinky. Pinky terus menatap laki-laki yang berada di sampingnya. "Kenapa kamu menatapku terus? Nanti kamu semakin susah melupakanku," ucapnya seraya menengok ke spion luar mobil itu.


Pinky memberi senyum setengahnya dan melempar pandangannya ke luar jendela. "Kenapa kamu bicara seperti itu?" Arion terkekeh. "Anterin aku beli kue ulang tahun ya!"


Dahi Arion berkerut. "Semalam aja gak dimakan beli lagi?" Dia menatap Pinky.


"Kita rayain aja bareng anak-anak jalanan itu, pasti lebih seru."


"Oke."


-


-

__ADS_1


-


Tak butuh waktu lama Arion untuk sampai di tempat berkumpulnya dia dengan anak-anak jalanan yang biasa dia beri makan. Dua kue ulang tahun pun sudah di tangan.


Mobil terparkir di luar gang sempit ini. Becek, penuh genangan air begitu keadaan setiap hari saat hujan turun.


Pinky terdiam, dengan membawa kue ulang tahun dan tanpa dipegangi oleh cowok di depannya ini apa dia bisa melewatinya?


"Ayo pelan-pelan!" seru Arion.


Dengan sabar Arion mengikuti Pinky mencari jalan yang di rasa tak mengotori kaki putihnya. "Di depan terlalu banyak kubangan. Apa semalam hujan sangat deras. Bagaimana aku melewatinya?" Dahi Pinky berkerut halus.


"Anak-anak ... sini!" teriak Arion mereka berlari menghampiri. "Bantu bawakan ini!"


"Kak Arion bawa kue ulang tahun." Arion berdehem. "Hore ... hore!" Mereka berlari membawa dua kue itu.


"Berpeganglah pada tanganku!" Arion ingin mengulurkan tangannya pada Pinky dan menuntunnya pelan.


Belum sempat membalas uluran tangan dibelakangnya itu kaki Pinky terpeleset. Beruntung Arion langsung menangkapnya. Pinky mengaduh. Kakinya seperti kesleo.


"Kamu gak apa-apa?"


"Sakit banget buat jalan."


Arion langsung mengalungkan tangan Pinky ke leher kemudian membopongnya menuju tempat anak-anak itu berkumpul.


"Aku bantu pijitin."


"Tapi itu kotor penuh lumpur! Kamu gak jijik?"


Arion terkekeh kecil. "Aku bersihin."


Arion menyiram kaki Pinky dengan air mineral dan memijitnya. Pinky menggigiti bibir bawahnya menahan rasa sakit. "Masih sakit? tanya Arion. Dia mengangguk. "Kakimu indah, sempurna. Hati-hati lain kali!"

__ADS_1


"Kamu menyukai kaki ku?"


"Semua yang ada dalam dirimu aku suka." Pinky menunduk malu saat Arion menatapnya. Mereka menghabiskan waktu hari ini bersama anak-anak jalanan itu.


__ADS_2