
"Aku dimana?" Pinky tersadar dan saat itu tak ada orang yang berada disampingnya. Dia berbaring di tempat tidur rumah sakit. Dokter beberapa jam yang lalu telah berhasil mengeluarkan anak yang dikandung Pinky. Rey dan Kinan menunggunya di luar ruang perawatan.
Akibat terjatuh dari tangga membuatnya keguguran. Ya anak itu meninggal didalam kandungannya. Tapi, bukan kah Pinky bahagia? Bukan kah dia pernah bilang sangat membenci anak yang dikandungnya?
Tidak, itu hanya emosinya sesaat dulu. Seiring berjalannnya waktu dia sadar, dia salah, dia mulai bisa sedikit demi sedikit menerima kenyataan pahit ini.
Lalu bagaimana dengan perasaannya terhadap Ayah dari anak yang dikandungnya?
Wanita itu tak mampu menghilangkan perasaannya. Dia ingin membencinya, ingin melupakannya. Tapi apa, yang ada dia semakin terpuruk kehilangannya.
Kali ini dia terus menangis dengan memegangi perutnya. Dia mengingat kejadian itu. Sakit, satu kata yang ada didalam dirinya. Pinky sudah kehilangan Arion dan sekarang dia juga kehilangan anaknya.
Dia menyesal, sangat menyesal telah membenci laki-laki yang selalu ada di hatinya. Semua ucapan yang keluar dari mulutnya tak sama dengan hatinya. Kekecewaan atas kenyataan membuatnya bimbang.
"Arion ... maafkan aku!" Sudut matanya terus mengeluarkan air mata. Kemana laki-laki itu? Apa dia tidak merindukannya?
Tidak, semua curahan hati Pinky saat dibelenggu emosi terhadap Papa kandungnya di makam dulu, membuat laki-laki itu mengingat tajam. Dia menanamnya dalam.
Wanita yang dia cintai sangat membencinya. Wanita yang dia sayangi begitu jijik padanya. Bahkan anak yang dikandungnya ikut menjadi korban kebenciannya.
...****************...
Hari sudah berganti, Selena duduk termenung di taman rumahnya. Menata semua tanaman bunga kesayanganya. Dia kini terdiam, memejamkan matanya dan menghembuskan napas gusar. Bagaimana keadaan Pinky? Satu pertanyaan yang selalu ada dipikirannya sejak kemarin.
Ingin menjenguk, tapi yang ada Rey akan mengusirnya dan selalu timbul perdebatan yang tiada hentinya. Dia menggelengkan kepalanya. Tidak, dia hanya mendo'akan Pinky baik-baik saja. Meskipun dia tau anak yang dikandungannya sudah tiada.
__ADS_1
Terdengar suara mobil yang menurutnya paling merdu. Suara mobil yang sangat dia tunggu-tunggu. Selena menoleh ke halaman luas rumahnya. Matanya berbinar, senyum bahagia dia berikan pada pemilik mobil itu.
"Arion ...." Dia menaruh asal pot bunga kesayangannya dan berlari menghampiri anaknya.
"Arion ... ka-mu pulang? Mama yakin kamu pasti akan pulang. Bagaimana keadaanmu? Apa sekarang kamu sudah merasa tenang? Mama sangat resah memikirkanmu." Selena memeluknya.
"Aku baik-baik aja Ma. Aku mau masuk dulu." Arion berjalan memasuki rumah tanpa menjawab lagi pertanyaannya. Selena terus mengikutinya.
"Arion, Mama ingin bicara penting padamu." Arion menghentikan langkahnya dan menatap Ibunya itu.
Dia mengerutkan dahi. "Apa Ma?"
"Pinky ...."
"Sudah Ma jangan sebut nama wanita itu!" sambarnya dengan kembali berjalan memasuki rumahnya..
"Bukankah itu keinginannya?"
Selena tak habis pikir dengan anaknya itu. "Arion, dia mengandung anakmu."
"Dia tak menginginkannya Ma!" gertak Arion
Selena menggelengkan kepalanya. "Kamu salah Arion, dia sangat terpuruk." Laki-laki itu langsung berlari menuju kamarnya. Baiklah, Selena tak akan memaksanya. Jika dia dipaksa Arion bisa saja meninggalkan dia lagi. Tidak, dia tak ingin itu terjadi.
Selena kembali ke taman, dan meneruskan pekerjaannya. Tak selang lama, Arion keluar berlari menuju mobilnya.
__ADS_1
"Arion kamu mau kemana?" teriak Selena yang tak dijawab oleh anak laki-lakinya.
Arion mengendalikan mobilnya dengan kencang. Dahinya terus berkerut sepanjang perjalanan. Kali ini dia akan menemui Pinky di rumah sakit. Apa dia mulai khawatir akan keadaannya? Atau malah sebaliknya?
Dia membanting pintu mobilnya berlari di koridor rumah sakit, mencari sosok wanita itu di kamarnya namun tak ada. Perawat berkata Pinky sedang ada di taman rumah sakit ini.
Dia berlari ke taman, langkahnya menjadi perlahan saat mengetahui wanita itu terdiam duduk di kursi roda sendirian. Arion mendekatinya.
"Bukankah kamu bahagia atas kematian anakku?"
Deg
Pinky menoleh ke arah suara itu. Matanya sayunya membulat melihat Arion berdiri disana. "A-rion." Sudut matanya pun mengeluarkan air mata. Pinky tak mampu menahannya.
"Kenapa kamu menangis?" Arion mendekatinya wajah Pinky yang masih terlihat sangat pucat. "Bukankah kamu membenci anak itu?"
Rahangnya mengeras, dia hanya menggelengkan kepalanya dan menunduk. "Kalau aku menyebutmu pembunuh, apa kamu terima?" Pinky semakin menangis tersedu-sedu. Ucapan Arion benar-benar mengiris hatinya.
"Dan satu lagi, bukankah kamu yang merayuku untuk menyentuhmu? Bukankah kamu sendiri yang memberikan cuma-cuma kesucianmu padaku hem? Bukankah aku sudah memperingatkanmu tak menyesalkah kamu akan itu?" Arion memegang kedua bahu Pinky. "Lalu kenapa kamu merasa dirimu ternodai? Telingaku mendengar semua suara hatimu di makam Ayahmu. Kamu tau rasanya hatiku bagaimana?" Arion menganggkat dagu Pinky agar menatap matanya. "Sakit."
"Aku minta maaf."
"Maaf," teriaknya dengan berkacak pinggang. Arion memberikan senyum setengahnya. "Sayangnya semua ucapanmu sudah tertanam dalam disini." Dia menunjuk dadanya.
"Hiks,"
__ADS_1
"Untuk apa kamu menangis? Sekarang urusan kita sudah selesai. Anakku sudah mati, tinggal membuang sedikit sisa rasa cintaku padamu." Arion membalik badannya dan berjalan pergi meninggalkan Pinky.
"Arion aku masih sayang sama kamu. Aku minta maaf." Laki-laki itu berhenti sejenak dan meneteskan air mata. Tidak, kali ini dia tidak akan goyah dalam pendiriannya. Dia kemudian berjalan kembali meninggalkan Pinky tanpa menoleh ke belakang.