
Dari siang Kinan memikirkan ide bagaimana bisa merayu suaminya yang kepalanya seperti batu itu. Berpikir dan terus berpikir. Apa?
Kleeeek
Rey keluar dari kamar mandi dengan sehelai handuk yang melingkar di tubuh bagian bawahnya. Kinan terus memandangi laki-laki itu kemana pun dia berjalan.
"Kenapa? Terpesona?" tanya Rey dengan melirik Kinan yang mencebikkan bibirnya.
Astaga, laki-laki itu tingkat percaya dirinya masih saja belum luntur. Dia berjalan mengambil baju di lemari dan lagi-lagi menariknya asal membuat baju yang tertata rapi menjadi tak beraturan.
Kinan memejamkan matanya dan mendengus kesal. Ini kebiasaan kenapa tidak hilang-hilang juga?
Setelah mendapatkan baju yang diinginkan, Rey langsung melempar handuk basah yang melilitnya ke tempat tidur. Sumpah demi apa, ingin sekali Kinan berteriak jika dia kali ini tak ingin merayunya.
Merayu? Ah, dia hampir lupa akan misinya yang satu ini.
"Sayang ...." Rey hanya berdehem seraya melihat ke resleting celananya karena takut ada yang terjepit benda pusaka di dalam sana.
Kinan bingung memulai dari mana, "Apa?" tanya Rey ketus. Dia menyisir rambutnya. "Kamu kenapa lihatin aku terus? Naksir?"
"Eh," Kinan mengernyit.
Rey kemudian duduk di sofa seraya memainkan ponselnya. Kinan mendekatinya dengan memeluknya dari belakang. Hembusan napasnya terkena telinga belakang laki-laki itu.
"Kalau gak mau ngasih, jangan mancing-mancing!" Rey melirik ke arah Kinan. Mancing? Kinan lupa bagian telinga belakang itu termasuk area sensitif laki-lakinya.
Kinan memutari sofa dan duduk dipangkuan Rey.. Otomatis membuat laki-laki itu menaruh ponselnya di meja. Rey mencium punggung itu, hingga membuat Kinan geli tak tertahankan.
"Kamu sayangnya udah mandi, coba kalau belum." Idenya muncul tiba-tiba ini adalah kelemahan suaminya. Kinan memutar tubuhnya hingga kini mereka berhadap-hadapan. Rey menenggelamkan wajahnya di dada yang empuk itu. Kemudian meremasnya sedikit kasar karena gemas.
"Sakit ...." Kinan hampir saja ingin marah tapi dia tahan.
__ADS_1
"Mandi lagi juga gak apa-apa?" bisiknya yang membuat bulu kuduk berdiri.
"Bener?" Rey mengangguk. Kinan hafal betul suaminya itu sangat menyukai bermain di kamar mandi apalagi berendam berdua. "Aku siapin dulu ya?"
"Cepetan nanti keburu Aero pulang!" seru Rey. Anak laki-lakinya itu seperti menjadi bayang-bayang Rey.
Kinan menipiskan bibirnya. "Oke."
Kinan bergerak cepat mengisi bathtub dengan air dan memberinya busa mandi. Karena ini acara dadakan tak ada bunga mawar.
"Sudah?" Rey tiba-tiba masuk. "Tumben banget, tapi aku suka." Dia tersenyum menunjukan sederet gigi putihnya. Laki-laki itu belum tau saja maksud dan tujuannya.
Tak butuh waktu lama membuang baju yang menghalangi tubuhnya. "Kemarilah!" Rey sudah siap dan kepalanya bersandar di bathtub itu. Kinan langsung ikut masuk dan duduk di atasnya. Posisi woman on top seperti awal untuk merayunya.
"Ayo!" serunya. Rey membasahi bagian atas tubuh Kinan dengan air dan busa. Membuatnya semakin gemas hingga meremas kedua mainan kesukaannya itu sangat keras. Kinan hanya bisa mengaduh dan mencoba untuk tidak emosi.
Laki-laki itu seperti sudah tak sabar untuk memasukan benda yang mengeras di bawah sana. Sebenarnya ini terlalu terburu-buru tapi Kinan sudah tak sabar untuk memberitahu keinginannya pada Rey.
Kinan mengelus rambut suaminya itu dan sesekali mencium bibir yang terus di sodorkan Rey padanya. Kali ini benar-benar dia yang pegang kendali. "Agak cepatan dikit dong!" pinta Rey.
"Ih," Kinan mengernyit. "Sayang ...."
"Heem," Rey menyibakkan rambut Kinan.
"Aku habis ini minta sesuatu boleh gak?"
Rey sepertinya sudah terlena dengan kenikmatan di bawah sana. "Boleh, kamu minta apa aja aku turuti. Mau beli baju, tas kremes, mobil sport, rumah atau apa pun bilang aja?" Laki-laki itu memejamkan matanya seraya terus memainkan dua gunung kembar di depannya.
Kinan masih ragu, sepertinya menunggu laki-laki yang berada di bawahnya ini puas dulu. "Em ... nanti aja!"
Rey langsung membalik posisinya dan kini dia yang memegang kendali. "Jangan malu-malu! Minta apa hem?" bisiknya di telinga Kinan dengan terus menghentakan dalam.
__ADS_1
Kinan merapikan rambut Rey seraya terus menatap mata laki-laki berwajah tampan yang sekarang tak bisa disebut muda lagi itu. Kinan mengigiti bibir bawahnya. Sumpah ini begitu menusuk-nusuknya.
Rey langsung menggigit kecil telinga Kinan kemudian turun ke leher dan ingin memberi tanda kepemilikannya disana. "Jangan ... jangan! Nanti di ketawain Aero." Kinan mendorong dada suaminya.
"Ck," Rey berdecak. "Anak itu pengen adek dibuatin adek ganggu terus," ucap Rey dengan tak henti menghentak-hentakan kuat pinggulnya. "Oh iya, kamu tadi minta apa?" bisiknya lagi.
"Nunggu kamu keluar dulu." Kinan terus menahan dengan merintih.
"Aku mau keluar," bisiknya dengan senyum menyeringai.
"Cepet banget?" Kinan sedikit kecewa.
"Lama gak kayak gini."
"Ih,"
Tak lama kemudian Rey menekannya pinggulnya kuat dan mencium bibir Kinan. Selesai sudah. "Nanti lagi ya!" bisiknya.
Aduh, kapan dia ingat umurnya?
"Kamu gak takut kena encok?" sindir Kinan.
Rey terkekeh seraya menggigit telinga Kinan. Ih ...." Kinan memukul dada Rey keras.
Mereka kini masih berendam busa berdua. Kinan tidur di atas Rey menyentuh dada laki-laki itu dan menggambar simbol cinta dengan ujung-ujung jarinya. "Sayang tadi kan kamu udah janji nurutin apa pun yang aku mau?"
"Iya dong, janji adalah hutang."
Kinan tersenyum bahagia, "Kalau gitu ... aku minta kamu biarkan Pinky sama Arion berpacaran ya!"
"APA?"
__ADS_1