
Raut wajah kesedihan terus menyelimuti hari-hari Pinky. Hidupnya terasa hampa. Dia berubah, benar-benar berubah. Bukan Pinky yang seceria dulu. Sudah enam bulan ini dia tak pernah melihat lagi Arion. Laki-laki itu benar-benar pergi meninggalkannya dengan membawa sejuta luka di hatinya.
Pinky terus mencoba melupakan dengan menerima kenyataan. Apakah dia mampu? Tidak, ini tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Rutinitasnya kembali seperti semula. Dia terus menyibukkan dirinya dengan pekerjaan, agar bisa berusaha melepas semua rasa yang terus membelenggunya. Berusaha dan terus berusaha.
Tak ada yang berbeda, pagi ini dia sarapan bersama Rey, Kinan, dan Aero.
"Sayang kamu makan yang banyak dong! Lihat badan kamu menjadi kurusan!" ucap Rey seraya memasukkan satu iris roti berolesakan selai cokelat kacang ke dalam mulutnya.
Pinky menatap Papanya itu. "Pa ...." Rey berdehem karena mulutnya penuh dengan roti. "Papa gak niat jodohin aku lagi?"
Roti yang belum sempurna dikunyahnya itu di telan seketika, membuat tenggorokannya mengganjal lalu dia mengambil air dan mengguyurnya. Mama dan Adiknya menatapnya. Kenapa tiba-tiba Pinky bertanya seperti itu?
__ADS_1
"Papa gak akan jodohin kamu, kamu cari sendiri saja! Maafkan Papa yang dulu!" Rey membuang mukanya, kemudian melanjutkan makannya lagi dengan raut wajah menyesal. Untunglah Papanya itu sekarang sedikit tersadar akan kesalahannya.
"Kalau gitu bantuin aku cari laki-laki yang mau menikahiku Pa!"
Rey mengerutkan keningnya. "Papa gak tau seleramu laki-laki seperti apa?"
"Terserah Papa, pokoknya dia mau nerima aku."
Rey menggelengkan kepalanya. "Kenapa kamu tiba-tiba seperti ini?"
Rey melipat kedua tangan di meja. "Percayalah, semakin kamu berusaha melupakannya, semakin sulit untuk lupa!"
Tunggu dulu apa? Apa maksud ucapan Rey? Apa ini karena pengalamannya terdahulu?
__ADS_1
Semua memandang ke arahnya dengan mengerutkan dahi. "Papa merestui hubungan Kak Pinky dan Arion?" tanya Aero. Pinky ingin berharap Papanya menjawab 'iya'. Tapi percuma juga, bagi Pinky Arion sudah pergi meninggalkannya.
Rey menunduk tanpa menjawabnya. Kemudian kembali melanjutkan sarapannya. Pinky menggelengkan kepalanya. Tidak, khayalan ini hanya sia-sia belaka. "Dia membenciku. Kami gak akan bersama lagi. Papa tenang aja!" Pinky menghela napasnya kemudian berbicara kembali. "Papa jodohkan saja aku dengan laki-laki lain!"
Rey menatapnya dengan wajah datar. "Nanti Papa tanya dulu ke anaknya." Siapa? Siapa lagi laki-laki yang akan dikenalkan Rey pada anaknya?
"Apa yang dulu?" tanya Kinan.
"Gak. Ada anak dari rekan bisnisku, dia baru pulang dari luar negeri. Anaknya sopan, baik, pintar. Namanya Azka. Nanti Papa kasih nomor teleponnya." Pinky mengangguk, berdiri dan meninggalkan meja makan.
Dia sekarang mengendarai mobilnya ke restoran. Tak ada yang berbeda, semua biasa saja dengan rutinitasnya dulu.
Tapi, tunggu dulu! Di luar halaman restorannya terlihat seorang laki-laki dengan helm fullface dan motor sport hitam seperti sedang mengawasi jejak langkah Pinky. Matanya seperti tak berkedip memperhatikan Pinky saat keluar dari mobil sampai benar-benar masuk dalam restoran. Siapa dia? Siapa lagi kalau bukan Arion.
__ADS_1
Lalu untuk kenapa dia tidak masuk dan menemui Pinky? Apa dia masih kecewa? Apa dia belum bisa memaafkan? Atau ini hanya soal gengsi semata?
Setelah Pinky masuk, Arion langsung menyalakan motornya dan pergi dari sana begitu saja.