
Malam ini Aero bersiap untuk menemui Lisa di tempat kerjanya. Sepertinya butuh perjuangan lebih untuk mendapatkan hati cewek itu. Sudah hampir satu minggu ini mereka bertemu, namun Aero belum juga mampu menjadikan gadis yang kini berusia menginjak dua puluh tahun itu pacarnya.
Entah apa di pikiran Aero, Lisa adalah satu-satunya wanita yang terus berkeliaran di otaknya. Jika ditanya apakah banyak yang lebih cantik dari gadis itu, tentu saja. Tapi, penolakan cintanya yang membuat Aero terus penasaran dan menjadi sebuah tantangan. Apakah jika dia mampu mendapatkan hati gadis itu lalu akan mencampakannya? Semoga saja tidak.
Memadukan kemeja panjang berwarna putih yang digulung sampai siku dengan celana jeans dan sepatu kasual Aero berkaca sembari membenahi rambutnya. Dia mencebikkan bibir merasa dirinya sangatlah tampan. Jam tangan mahal koleksinya menambah kesan mewah dalam dirinya. Tak lupa Aero menyemprotkan parfum beraroma woody. Siapa yang mampu menolak pesonanya? Hanya Lisa. Lalu, apa yang kurang sehingga gadis bernama Lisa itu sama sekali tak meliriknya?
Dengan berlari kecil dia menuruni anak tangga rumah untuk keluar menuju mobil. Mengendalikan santai seraya menikmati suasana jalanan malam. Waktu pulang Lisa memang masih dua jam lagi, dia merasa tak harus terburu-buru untuk sampai mini market itu.
Sekitar lima belas menit perjalanan, dia memarkirkan dan membanting pintu mobilnya berjalan masuk dalam mini market. Rasanya tak sabar untuk bertemu gadis imut, polos namun sangat menggoda bagi Aero.
"Selamat dat ...." Sapaan Lisa berhenti seketika saat yang datang adalah Aero. Cowok itu memberikan senyum memesonanya pada Lisa. Namun, lagi-lagi Lisa hanya menatapnya sinis. Bukannya apa-apa Lisa sebenarnya sudah lelah dengan tingkah Aero yang terus mengerecoki hubungannya dengan sang pacar.
Aero berjalan menuju cooler, dia mengambil minuman favoritnya. Teh dengan aneka rasa. Eh tapi tunggu, dia mengembalikan minuman itu dan mengambil minuman bersoda di cooler sebelahnya. Kenapa?
Cowok itu kemudian berjalan mengambil makanan kecil beberapa. Tak di sangka dia bertemu dengan pacar Lisa yang sibuk menata makanan yang berantakan di rak.
Mata mereka saling berpandangan. Aero memberikan senyum setengah pada cowok itu. Baginya, pacar Lisa hanyalah ujung kukunya. Aero berjalan sengaja menabrak pelan bahu pacar Lisa. Memang maksudnya membuat gara-gara. Wajah geram nampak jelas tergambar di pacar wanita incarannya itu.
Aero lanjut berjalan menuju kasir dan menaruh minuman serta makanan pilihannya. "Kamu ngapain sih Kak kesini lagi?" ucap Lisa seraya menyambar minuman dan makanan pilihan Aero lalu menaruhnya di kantong plastik. "Semuanya empat puluh delapan ribu." Raut wajah ditekuk nampak jelas disana.
Aero mengeluarkan dompet di saku belakang celana jeans-nya. "Pakai kartu ya?" tanyanya seraya mengangkat kedua alis.
"Itu ada uang tunai ngapain pakai kartu, kurang kerjaan!" Lisa menggerutu sembari mengerucutkan bibir. Dia tau Aero hanya ingin menggodanya. Aero memicingkan mata. "Cepat dong Kak! Aku gak cuma ngelayanin kamu aja!"
"Gue pengennya lo ngelayanin gue aja!" Aero memiringkan kepala dan mendekatkan wajahnya pada gadis itu.
__ADS_1
"Ih ngomong apasih?"
"Mama aku pengen indeljoy!"
"Gak boleh!"
"Ayo Ma, ayo beli!"
Rengekan anak laki-laki kecil berusia sekitar empat tahun di samping Aero yang mengantri, mampu mengalihkan godaannya pada Lisa.
"Huuaaa mau indeljoy!" Anak itu semakin keras menangis. "Huuuuuaaaaa ...."
Astaga
Suaranya melengking sampai telinga Aero, hingga dia sampai menutup dengan kedua tangan.
Aero menyunggingkan bibir, dia masih mengingat jelas sekitar dua puluh tahun yang lalu saat usianya masih empat tahun melakukan hal yang sama dengan anak laki-laki di sampingnya, bahkan sampai berguling-guling di lantai. Oh itu sangat memalukan! Dia menggaruk kepalanya.
"Mbak lain kali jangan naruh jajanan ini di dekat kasir dong! Sengaja banget ya?" tuduh Ibu itu pada Lisa. Aero memundurkan kepala seraya mengerutkan keningnya. Lalu dia melihat wajah Lisa yang polos tertunduk tak mampu menjawab pertanyaan Ibu itu.
Tiba-tiba pacar Lisa mendekati sumber kegaduhan ini. "Kenapa ini?"
Aero mengernyit sembari membuang wajahnya. "Eh Mas naruh telur-teluran ini jangan di kasir dong! Tau gak satu telur-teluran ini kalau dibelikan minyak dapat satu liter. Kita sebagai emak-emak gak rela jika anak minta jajan beginian!"
Brak
__ADS_1
"Woi ...." Aero terlonjak dengan geprakan Ibu itu.
"Nih, saya gak jadi belanja!" Ibu itu membanting satu keranjang belanjaannya di meja dan menggandeng paksa anaknya keluar.
Aero yang melihat Lisa masih menunduk seperti merasa bersalah. "Udah gak apa-apa!" seru Aero.
"Kamu siapanya Lisa Mas!" selidik cowok Lisa.
"Gue?" Dia menunjuk dadanya. "Mantannya, emang kenapa?" Aero mengangkat kedua alisnya.
Mulut Lisa ternganga. "Kak!" gertaknya.
Aero berdehem. Sebentar lagi cowoknya itu pasti akan marah besar padanya. Lisa tak habis pikir, kenapa mulut Aero seperti petasan yang meresahkan.
"Udah belum belanjanya Mas, ganti yang lainnya!" usir pacar Lisa pada Aero dengan tangan menunjukan arah pintu.
"Ngusir lo?"
Lisa menghembuskan napas gusar. "Kak udah dong! Ganti yang lainnya!" seru Lisa lirih.
Aero mengangguk. "Gue tunggu di mobil ya! Nanti gue antar pulang!"
Astaga cari masalah lagi.
Lisa tak menjawab ajakan Aero. Sedangkan pacar Lisa sedang bersungut-sungut menatap Aero. Dengan tanpa dosa Aero keluar dari mini market itu dan masuk ke mobilnya, menikmati makanan kecil yang dibeli sembari mendengarkan musik.
__ADS_1
Lebih dari satu jam Aero menunggu Lisa, namun gadis itu malah memilih berjalan dengan pacarnya. Ya iyalah, apa juga yang membuat Lisa harus pulang dengan Aero. Pacar juga bukan.
Aero kesal, dia membanting pintu mobilnya. "Lis, 'kan gue duluan yang nganter lo pulang!" teriaknya.