
Pinky mengambil, mencoba berdiri dan berjalan pelan dengan kedua tongkat yang menyangganya, mendekati dua laki-laki yang suaranya begitu mengusik telinga. Namun, Arion dan Aero masih saja berdebat kusir. Pinky memicingkan mata tak suka melihat tingkah kekanak-kanakan mereka. Dia merasa paling tua, rasanya pusing saja mendengar keseharian suami dan adik laki-lakinya beradu mulut.
"Lihat aja, kalau lo pas lagi malam pertama bakal gue kerjain habis-habisan! Kalau bisa malam pertama lo gagal total," ancam Arion dengan wajah geram. Kebetulan yang menjadi kesengajaan, Aero menjadi momok menyebalkan yang terus mengusik saat pasangan sedang mencari kenikmatan.
Dia menggelengkan kepala dan mencebikkan bibir. "Oh tidak bisa Yon, gue bakal malam pertama di kutub utara."
"Gue kirim kuntilanak biar gedor-gedor kamar lo. Dan gue kirim juga mantan tiga istri lo juga."
Aero manggut-manggut menanggapi ancaman Kakak iparnya itu. "Gue ajak malam pertama mereka bertiga sekalian kuntilanaknya."
"Sekalian beruang kutub, pinguin, serigala biar rame malam pertama lo disana!" sambar Arion dengan dongkol. Berdebat dengan Adik iparnya itu hanya akan membuang waktu, tenaga, pikiran dan juga hati.
"Ngomong apaan sih?" Pinky berjalan merengut sebal meninggalkan dua laki-laki itu.
Aero mencoba mengejarnya dan berjalan mundur menghadap Pinky. "Kak ... disini ada lowongan gak? Kalau gak ada adain pokoknya."
Pinky berhenti dan menatap adiknya itu. Wajahnya ditekuk melihat tingkah manjanya. Dia menggelengkan kepala, rasanya dari kecil sampai besar masih saja tak berubah sifatnya. Semua ingin dituruti. "Buat siapa?" dengusnya.
"Tuh ...!" Aero menunjuk Lisa yang menyangga dagu karena terlalu lama menunggu. Wajahnya nampak lelah. Matanya pun tinggal lima watt. Dia melamun menatap arah luar restoran. Suasana dingin semilir angin malam, membuat kelopak matanya tak kuat untuk membuka.
__ADS_1
"Dia siapa Ro?" tanya Arion. Semua berhenti menatap gadis itu dari jauh.
"Calon," jawabnya singkat. Arion dan Pinky memicingkan mata. Calon apa? Calon istri atau calon pacar?
"Calon pacar," sambarnya lagi. Arion terkekeh geli. "Kenapa lo?" ketus Aero.
Mereka kembali berjalan mendekati meja Lisa. Gadis yang sedari tadi menahan kantuk itu terlonjak kaget.
Dia langsung berdiri dan memberi senyum pada Arion dan Pinky. "Cha Eun Woo?"
Hah?
"Ya ampun Kakak mirip banget sama Cha Eun Woo."
"Siapa lagi Cha Eun Woo?" sambar Aero dengan bersungut. Tak ada yang mau menjawab pertanyaannya.
"Udah ... udah duduk lagi!" seru Pinky seraya menggeser kursi duduk pelan dibantu oleh Arion.
"Kenalin Kak ini Lisa!" ucap Aero. Lisa tersenyum seraya mengulurkan tangannya pada Pinky dan Arion, kemudian mereka membalasnya.
__ADS_1
"Kamu pacarnya Aero?" tanya Arion.
Lisa menggelengkan kepalanya. "Gak kok Kak, dia itu suka maksa orangnya. Aku gak suka." Arion dan Pinky menahan tawa menatap Aero yang memasang wajah berkerut.
"Gimana Kak ada lowongan kerja gak?" tanya Aero seraya menyandarkan bahu di kursi dan mengetuk-ngetuk meja dengan jari.
"Ya udah, kamu ngisi bagian kasir yang kosong aja!" jawab Pinky.
Aero menyunggingkan senyum. "Berarti besok bisa langsung masuk ya Kak?" Aero berdiri menatap Lisa. "Ayo gue antar pulang! Mata lo udah merah banget gitu."
"Udah gitu doang Ro?" gerutu Arion.
"Iya. Lanjutin lagi sana!"
Arion mengernyit. Menyebalkan memang pengganggu ini. "Awas lo!" ancamnya lagi.
Wajah Lisa terlihat bertanya-tanya tak mengerti, dia berdiri dan berpamitan, "Aku pulang dulu ya Kak! Makasih udah nerima aku kerja disini!"
Pinky mengangguk sembari memberikan senyum. Aero dan Lisa kini berjalan meninggalkan restoran. Arion dan Pinky terus memandangi dua punggung yang semakin menjauh itu sampai tak nampak lagi.
__ADS_1
Arion menyalipkan rambut panjang Pinky ke telinganya. "Kamu ngantuk?" Wanita itu mengangguk dan menyandarkan kepalanya pada Arion. "Ya udah ayo pulang!" ucapnya pulang seraya mengelus kepala istrinya.