22.23

22.23
Papa?


__ADS_3

Jika kita bahagia entah kenapa waktu terasa berjalan begitu cepat. Begitu pun dengan Arion dan Pinky. Rasanya baru satu menit bersama tapi, matahari sudah di atas kepala, memberi tanda untuk menyudahi ini semua karena banyak orang yang sudah menunggu mereka.


"Aku antar pulang ya! Aku harus membeli makanan dulu. Pasti mereka sudah menungguku." Arion menatap wajah cantik yang terlukis jelas rasa kecewanya saat mendengar ucapannya itu.


"Aku ikut ya?"


Arion membenahi rambut panjang nan indah yang sedikit tertiup angin itu seraya berkata, "Nanti kamu dicariin Papamu."


Pinky tidak suka Arion terlalu memikirkan Papanya. "Gak usah beli makanan, ambil aja di restoranku. Gimana?"


"Emang menu nasi bungkusnya ada?" ledek Arion.


Mulut Pinky mengerucut, "Ya gak ada, tapi ada rice bowl juga kok? Pasti mereka suka."


Arion terdiam dan berpikir sejenak. Dia mengangguk. "Baiklah, kalau gitu kita bawa mobil aja ya! Kamu tunggu sini! Aku ambil kuncinya dulu." Laki-laki itu berjalan cepat kemudian berlari menuju rumah. Dia tak ingin Pinky menunggunya teralu lama.


Hampir sepuluh menit dia mengambil kunci mobilnya. Apa mengambil kunci mobil saja sampai sepuluh menit?


Jangan heran, jarak taman dan rumahnya saja jauh. Apa perlu naik ojek? Ah, tidak juga itu terlalu berlebihan.

__ADS_1


Setelah Arion mendapat kuncinya. Dia membukakan pintu mobilnya untuk Pinky. Di dalam mobil Pinky tercengang. Terlihat sangat mewah, manly, di dominasi warna hitam dan abu-abu. Sangatlah nyaman, dia juga seperti terbius mencium keharuman parfum mobil itu.


Arion tersenyum menatap Pinky yang terus memandangi interior mobilnya yang sangatlah luar biasa. "Kamu suka?" Pinky hanya mengangguk dengan bola mata berkeliling tak memperhatikannya. "Kalau aku masih tetap, lebih suka naik motor."


Pinky mengernyit. Arion langsung menginjak pedal gasnya seraya melirik ke arah Pinky. "Kalau aku beli makan siang di restoranmu, dikasih discon gak?" ledek Arion.


"Aku berikan gratis."


"Benarkah?" Pinky mengangguk. "Tidak, nanti kamu rugi banyak."


"Hari ini aku berikan gratis," tegasnya. Arion mencebikkan bibirnya dan menyandarkan kepalanya di sandaran jok mobil.


Sepuluh menit perjalanan, sampailah mereka di restoran. Pinky menyuruh Arion duduk. Dia berjalan cepat menyuruh karyawannya segera mempersiapkan makanan untuk anak jalanan yang biasa Arion beri.


Rey kini berdiri menatap Arion. "Hei ... kamu teman Pinky yang semalam 'kan? Ar-arya ....?" Rey seperti berusaha mengingat namanya. Rahang Arion mengeras, dia menatapnya nanar dan tak sanggup menjawab. "Sedang makan siang atau nunggu Pinky?"


"Se-dang menunggu pesanan."


Rey mengangguk. "Boleh duduk sini?" Tanpa menunggu persetujuan Arion, Rey langsung duduk di sampingnya seraya terus menatap Arion yang semakin gugup.

__ADS_1


"Kamu siapanya Pinky?"


"Hanya teman."


"Ouh ...."


Dari arah dalam mata Pinky membulat saat tau Papanya duduk satu meja dengan Arion. Dia gugup menggigiti bibir bawahnya. Bagaimana jika Arion tak sanggup merahasiakan kenyataan yang sebenarnya? Pinky tau Arion orang tak mampu untuk diajak berbohong.


Dia berjalan menuju meja itu. "Papa ...?" Rey menoleh seraya tersenyum lebar padanya. "Sudah lama Papa ada disini?"


"Baru kok. Iya 'kan Arya?"


Arion mengangguk kecil dan masih terus menunduk. "Apa pesananku sudah selesai?" tanyanya lirih pada Pinky seraya mengangkat kepalanya.


"I-iya,"


"Baiklah biar aku ambil sendiri." Arion berdiri dari tempat duduknya. "Saya pamit dulu Om!" ucapnya lirih.


"Oh iya ... hati-hati!" Arion dan Pinky terlihat diam-diam saling melepas pandang. Perasaan mereka masih tidak karuan. Pinky duduk di samping Rey dengan perasaan kesal. Andai Papanya itu tak ke restoran mungkin siang ini dia masih bisa berduaan.

__ADS_1



Akika terperosot 👃


__ADS_2