22.23

22.23
Adam dan Bambang


__ADS_3

Arion dan Pinky kini jalan beriringan menuju meja Aero. Arion menggeser keras kursi di yang akan dia duduki, dia masih nampak kesal dengan permintaan konyol temannya itu. Arion melirik Aero lalu membuang mukanya lagi. Sedangkan Aero, dia merasa rencananya kali ini berhasil. Dua diantara tiga wanita yang mengejarnya dipastikan illfeel dengan menelepon Aero meminta kejelasan pasti dari statusnya. Tinggal satu wanita lagi.


Aero terus tertawa geli. Arion dan Pinky menatapnya aneh. "Kamu kenapa Ro?"


"Yon makasih, tau kayak gini dari dulu gue pacaran sama lo." Aero terlalu senangnya sampai tak menghiraukan pertanyaan Kakaknya.


"Apa? Pacaran?" Mata Pinky melebar.


"Eh ... enggak," jawab Arion. "Aero tuh punya ide gila ngerjain tiga istrinya aku disuruh jadi selingkuhannya."


Aero dan Pinky tak sanggup menahan tawanya. Arion merasa dikerjai habis-habisan. Dia mendengus kesal ini seperti pelecehan. Yang mencium pipinya harusnya cewek disebelahnya ini malah Aero.


"Kak ... aku kasih tau nih. Itu pipi Arion udah gak perawan, jadi jangan mau kalau dia minta cium." Aero terus tertawa dengan memegangi perutnya.


"Iya dicium garanganwati kayak lo," sahutnya dengan nada tinggi. Aero terus saja menertawakannya.


Arion membuang mukanya ke arah luar restoran. Dia melihat salah satu wanita yang mengejar-ngejar Aero berjalan cepat menghampiri meja itu. Sudut mulutnya muncul.

__ADS_1


"Jangan ketawa terus! Tuh salah satu istri lo datang," bisik Arion yang Pinky juga mendengarnya. Aero langsung terdiam menatap wanita yang kini semakin dekat menghampirinya.


"Lo harus tolongin gue Yon!" bisiknya.


"Ogah lo urus ...."


Belum selesai bicara Aero langsung menggeser kursinya mendekati Arion dan merangkulnya mesra. Mencubit pipi dan dagunya. "Eh ... apa-apaan lo?" Pinky terus menahan tawa dengan memegangi mulutnya dengan kedua tangan.


Sonya ternganga melihat pangerannya yang selama ini dia dambakan berubah menjadi tak normal. "Ro ... aku pikir omongan Jenny dan Rose itu salah. Kamu sekarang benar-benar belok?"


Arion malu setengah mati. Disana banyak pengunjung yang melihatnya. "Terus emang salah kalau gue belok?" tanya Aero. Arion memundurkan kepalanya. Temannya itu benar-benar konyol.


Pinky terus membuang mukanya, kali ini dia tak sanggup lagi untuk menahannya.


"Aku masuk ke dalam dulu. Kalian berdua lanjutkan lagi pacarannya!" Pinky berdiri menggeser kursinya.


"Kak ...." panggil Sonya. Pinky berdehem. "Kakak kok biarin Aero pacaran dengan dia?"

__ADS_1


Pinky menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Em ...." Dia tak sanggup menjawab pertanyaan itu.


"Kalau kita saling nyaman kenapa gak?" timpal Aero seraya mencolek dagu Arion. Arion terus melototkan matanya pada Aero. Sumpah ini sangat memalukan.


"Kalian itu sama-sama ganteng lo?"


Aero memberi senyum setengahnya pada Sonya. "Makasih." Dia kini bersandar di bahu Arion. Arion merasa sangat risih dengan menggerak-gerakan bahunya. Ini sangat memalukan di sepanjang sejarah hidupnya.


"Aku gak nyangka Ro, padahal sebulan yang lalu kamu masih normal pacaran dengan wanita itu. Aku masih terima. Tapi kalau untuk kali ini aku gak bisa." Sonya menggelengkan kepalanya dua kali. Pinky langsung pergi karena merasa perutnya semakin mengeras dan sakit. Dia ingin mengeluarkan tawanya di dalam sana.


"Oke. Kalau gak terima hus ... hus sana!" Aero mengibas-ngibaskan tangannya seraya memberi senyum pada Arion.


Sonya menghentak-hentakkan kakinya tiga kali. Dia langsung pergi meninggalkan Aero dan Arion. Arion langsung menggeser kursinya menjauh dari Aero. "Gila lo!" gerutunya.


"Gue pastiin mulai hari ini gue terbebas dari tiga wanita itu. Ini semua karena lo Yon. Lo mau gue beliin apa? Gue akan kasih." Arion mengernyitkan mukanya.


Tak selang lama kemudian dia melihat lagi ke arah luar restoran. "Bokap nyokap lo dateng, gue pulang ya?" bisiknya.

__ADS_1


Aero melihat ke arah mereka juga. "Udahlah tenang aja! Bokap gak bakal marah. Dia kan taunya lo Arya. Santai aja kayak biasanya!"


__ADS_2