Against Heaven'S Destiny

Against Heaven'S Destiny
Dua dan Tiga


__ADS_3

Melihat penghalang berwarna kuning ini, Li Yaoleng menebak bahwa penghalang kuning emas yang menghalangi pedangnya untuk terus maju adalah Zhennqi milik Kakeknya sendiri.


Li Yaoleng menghela nafas dan merasa sedikit lega.


Mengetahui bahwa Lin Tian baik-baik saja, awalnya Li Yaoleng menghela bisa sedikit nafas dan merasa sedikit lega. Tapi tak lama kemudian, dia kembali marah lagi.


Pria licik ini, dia baik-baik saja dan tidak pernah berbicara. Dia tampaknya sengaja membuat dirinya khawatir, dan sengaja membuatnya ketakutan setengah mati.


Dengan pemikiran di kepalanya, melalui tangan kanannya yang masih belum di turunkan, Li Yaoleng mulai mengeluarkan aura di tubuhnya, dan mencoba untuk membentuk pedang es lagi.


Dia berniat untuk menghancurkan pelindung kakeknya, dan menusuk kepala Lin Tian lagi.


Tak butuh waktu terlalu lama, Pedang es berwarna biru muncul lagi di tangan Li Yaoleng. Lalu dia meningkatkan kekuatan di tangannya, dan dengan sekuat tenaga mendorong pedangnya terus maju.


Tapi sekuat apapun dia mendorongnya, pedang di tangannya tidak pernah bergerak sedikitpun. Yang ada hanya suara es pecah dari pedang di tangan, dan butiran-butiran es yang jatuh ke lantai.


"Li Yaoleng, apakah kamu tidak mendengarkan kata-kataku!" Li Yaoleng masih berjuang, dan suara berat serta tegas Li Zhangyan terdengar lagi di telinganya.


Li Yaoleng berhenti, menghilangkan pedang es di tangan, dan menoleh ke arah kakeknya.


Di sana, dia melihat kakeknya sedang duduk di bangku, menegakkan punggungnya, menatapnya dengan tegas, dan dengan wajah yang serius.


Melihat wajah serius itu, Li Yaoleng berhenti, dan hatinya terkejut.


Sejak dia ingat, wajah kakeknya adalah wajah kalem, dengan senyum lembut selalu menggantung di bibir, dan pandangan penuh perhatian. Tapi kali ini, ini adalah pertama kalinya dia melihat wajah serius dan tegasnya.


Kakek yang selama ini selalu lembut dan penuh kasih sayang pada dirinya, sekarang dia dengan tegas mengusir keluar.


Dan itu semua karena pria licik, dan tidak di kenal ini.


Ribuan pertanyaan tiba-tiba muncul di kepala Li Yaoleng.


Dia ingin menggerakkan mulutnya, dan mengatakan sesuatu. Tapi pada akhirnya, mulutnya hanya bergerak dan tidak pernah ada suara yang keluar darinya.


Li Yaoleng hanya bisa mengangguk patuh, dan berbalik menuju pintu keluar.


Saat berjalan keluar, dan tiba di samping Lin Tian, Li Yaoleng berhenti sejenak. Melihat Lin Tian di sana dengan marah, dia mendengus, lalu dia berjalan lagi dan keluar.


"Hal pribadi?" Saat mendengar Li Yaoleng telah menutup pintu, Lin Tian melihat Li Zhangyan, dan bertanya.

__ADS_1


Li Zhangyan tidak segera menjawab pertanyaan Lin Tian.


Dia hanya tersenyum, kemudian mengeluarkan sebuah giok berwarna hijau, dan meletakkannya di atas meja tepat di depan Lin Tian.


Giok Jiwa!


"Ini adalah Giok Jiwa yang di tinggalkan oleh Lin Nantian kepadamu."


Saat Li Yaoleng berbicara, Lin Tian telah mengambil Giok di meja, dan mulai memeriksanya.


Jiwa spiritual memasuki Giok Jiwa, dan kemudian, suara laki-laki penuh keagungan terdengar di kepalanya.


"Dua Semut akan lebih kuat dari seekor Belalang. Dua Burung akan lebih kuat daripada seekor Ular. Dua Orang lebih besar daripada seluruh Dunia. Dua Manusia lebih Abadi daripada Dewa."


Saat suara ini terdengar di kepala, Lin Tian berhenti, dan tidak bereaksi untuk waktu yang lama.


Saat Lin Tian terdiam, jiwanya di bawah ke suatu tempat di alam semesta.


Berdiri di antara kekosongan, samar-samar Lin Tian melihat tiga orang, satu laki-laki dan dua perempuan, berdiri di kegelapan langit berbintang, dan jutaan bintang yang berkedip-kedip di sisinya.


Apa yang Lin Tian hanyalah sebuah siluet, tapi tekanan yang datang dari mereka bertiga membuat jantung Lin Tian berdetak jutaan kali selama satu detik, membuat hatinya sangat kuwalahan dan sesak nafas.


Lin Tian memegang dadanya, nafasnya tidak teratur, dan hanya bisa merasakan sesak di dadanya menjadi lebih kuat.


Tepat ketika Lin Tian merasa dia akan pingsan, cahaya hijau dari Dao Xin yang menyelimuti hatinya meledak. Cahaya cyan itu meledak dengan kecermelangan cerah, menuju ke arah jantungnya yang sepertinya akan meledak, dan menyelimuti seluruhnya.


Saat cahaya cyan menyelimuti seluruh jantungnya, jantung yang bergetar dengan keras seperti daun yang tertiup angin secara perlahan mereda, dan akhirnya kembali normal.


Ketika jantung Lin Tian kembali normal, nafasnya kembali lancar, dan pandangannya kembali di pulihkan.


Lin Tian mengambil nafas dalam-dalam, mengangkat kepalanya, dan kembali lagi melihat ke arah tiga orang itu.


Tidak seperti sebelumnya, kali ini Lin Tian dapat melihat mereka tanpa gangguan lagi, tapi dia masih tidak bisa melihat rupa mereka dengan jelas.


Mengalihkan pandangannya dari tiga orang ini, jutaan Dewa, Iblis, dan Manusia sedang berdiri beberapa mil jauhnya di depan mereka, dan menghadang mereka bertiga.


Melihat dewa dan iblis yang memiliki tinggi ratusan ribu meter, serta tubuh yang berkali-kali lebih besar dari sebuah bintang, Lin Tian merasa ngeri.


Meskipun dia tidak lagi merasa kuwalahan saat melihat pemandangan di depannya, pemandangan di depannya sungguh membuat konsep Lin Tian tentang Dunia benar-benar berubah.

__ADS_1


Dengan pandangan ngeri, dan syok Lin Tian, tiga orang ini telah bergerak ke arah jutaan pasukan di depannya.


Tiga orang, yang jika di bandingkan adalah seekor semut yang mencoba mengguncang gunung besar, ternyata adalah seekor serigala di kawanan domba.


Mereka bertiga bergerak, dan menghancurkan jutaan pasukan layaknya sedang menebang sebuah pohon di hutan.


Kekuatan-kekuatan besar saling bertarung, mayat-mayat dengan tubuh hancur berserakan, dan cahaya-cahaya bintang meredup.


Pertarungan ini menghancurkan seluruh dunia, seperti kiamat akan datang.


Entah berapa lama telah berlalu, yang tersisa hanyalah tiga orang di awal, satu pria dan dua wanita, serta mayat-mayat yang melayang di alam semesta.


"Ledakkan.."


Kemudian, guncangan hebat tiba-tiba muncul, retakan ruang terlihat di mana-mana, bintang-bintang meledak, dan seluruh Dunia berubah.


"Bang"


Dengan suara "bang" yang terdengar, Lin Tian terbangun, dan kembali lagi ke dunia nyata. Kembali ke ruangan tempat di mana dia sedang duduk, dan sedang berbicara dengan Li Zhangyan.


Li Zhangyan masih ada di depannya, masih duduk di sana, dan sedang melihat dirinya sendiri dengan senyum di wajahnya.


Sementara Giok Jiwa di tangannya telah meledak, menjadi butiran-butiran debu di tangan.


Mengalihkan perhatian dari Li Zhangyan, dan melihat keluar jendela, Lin Tian melihat hari sudah gelap.


"Berapa lama aku tersesat?" Melihat Li Zhangyan lagi, Lin Tian bertanya.


Li Zhangyan di sana mengeluarkan satu jarinya, dan tersenyum.


"Satu jam?" Lin Tian menebak.


Li Zhangyan menggelengkan kepalanya.


"Satu hari, dan satu malam." Kata Li Zhangyan setelah menggelengkan kepalanya.


Lin Tian mengernyit, dan setelah beberapa saat, dia hanya bisa menghela nafas.


Lin Nantian memang bukan dari dunia ini. Apapun yang dia lakukan, semuanya di luar imajinasi. Sebagai mantan Raja Abadi,aku benar-benar tidak tahu.

__ADS_1


Seperti saat ini.


Tidak tahu apa yang ingin dia tunjukkan, hanya mengetahui tentang "Dua dan Tiga"


__ADS_2