
Karena tidak ada aura yang digunakan, itu hanya pertarungan fisik sederhana. Tapi, kejadian itu berlangsung tidak terlalu lama, dan tentu tidak menimbulkan dampak apapun di sekitarnya.
Selain tubuh yang hancur serta darah merah yang mengalir dan bercampur dengan bunga lima warna di sekitarnya, pemandangan itu terlihat aneh.
Seperti yang telah Lin Tian katakan, itu memang pemakaman yang indah, tapi mengerikan.
Bunga lima warna, selain memiliki tampilan yang indah, itu memiliki racun mematikan untuk para pembudidaya. Bunga yang dikategorikan sebagai tanaman spiritual ini memiliki racun yang dapat menyebabkan kekacauan aliran aura di setiap meridian.
Untuk praktisi di bawah Alam Para Dewa, tidak ada yang dapat melawan racun ini, dan tanpa sadar mereka akan tahu jika kontrol atas auranya akan menghilang selama satu jam.
Lin Tian yang berada di Alam Yuan Qi juga tidak luput dari efek itu, dan kehilangan kontrol atas auranya.
Tapi, karena kultivasi tubuhnya sebanding dengan praktisi Yuan Ying, membunuh praktisi Yuan Qi yang kehilangan auranya, itu seperti membunuh ayam dan anjing.
Namun yang tidak Lin Tian sadari adalah, karena dia kehilangan auranya, kewaspadaannya sedikit mengendur, dan tidak tahu jika ada sepasang mata yang sedang mengawasinya.
Tepat ketika Lin Tian selesai membereskan anggota keluarga Duan, dia mendengar tepuk tangan dari kejauhan.
Selanjutnya langkah-langkah kaki yang elegan menginjak dedaunan terdengar mendekatinya.
Saat melihat sumber suara yang datang, Lin Tian merasa tidak berdaya, dan tersenyum masam.
Zhang Liya, wanita yang paling tidak ingin Lin Tian temui-lah yang mengawasinya.
Sesosok ramping dibalut pakaian biru terang seperti langit di siang hari yang cerah, dan langkah kaki yang elegan, menghembuskan udara di sekitarnya, perlahan-lahan tiba di depan Lin Tian.
Wajah putih bersih tanpa noda dengan mata hitam jernih, serta bulu mata panjang, melihat ke arah Lin Tian dengan tenang. Bibirnya yang tipis sedikit tersenyum, dan wajah cantik itu melihat Lin Tian dari atas kebawah.
"Tian Lin?"
Suara lembut dan terdengar indah keluar dari bibir tipisnya.
Lin Tian benar-benar tak berdaya, dan hanya bisa tersenyum canggung di wajah gemuknya.
"Nona Liya, halo."
"Huh." Hanya ada dengusan lembut yang Lin Tian dengar.
__ADS_1
Kemudian, Lin Tian tiba-tiba merasa ada sebuah gunung yang menekan tubuhnya dan membuatnya tidak bisa bergerak.
Wajah Lin Tian berubah, tapi sebelum sempat bergerak, Lin Tian melihat tangan giok Zhang Liya perlahan bergerak, dan tiba-tiba tubuhnya tampak kehilangan keseimbangan.
Gravitasi tampak tiba-tiba menghilang, dan seluruh tubuhnya terangkat beberapa meter dari tanah.
Tekanan yang kuat dan tidak memiliki kontrol aura selama satu jam pada tubuhnya, membuat Lin Tian tidak bisa bergerak, ataupun bersuara.
Seluruh tubuhnya seakan tertekan oleh suatu tekanan yang lebih berat daripada gunung, dan membuatnya berdiam diri seperti patung.
Kekuatan praktisi Para Dewa, itu benar-benar seperti dewa.
Mereka tidak perlu melakukan hal-hal seperti mengendalikan aura, dan hanya perlu memikirkan sesuatu melalui Dewa di kepalanya, mereka dapat memobilisasi seluruh aura di ruang sekitar.
Pada tahap Para Dewa, mereka bisa mengontrol apapun di sekitarnya, termasuk mengendalikan tubuh Lin Tian tanpa harus menyentuhnya.
Lin Tian tahu itu, dan tahu jika sekarang dia benar-benar tidak memiliki perlawanan di depan Zhang Liya.
Meskipun dia mantan Raja Abadi, kultivasinya sekarang terpaut sangat, sangat jauh dari Zhang Liya. Apapun yang dia lakukan, Lin Tian hanya seperti seekor semut yang mencoba mengguncang pohon.
Jadi, alih-alih berteriak dan bekerja keras untuk melepaskan diri, Lin Tian lebih memilih untuk pasrah, dan membiarkan Zhang Liya melakukan apapun sekarang.
Untuk sekarang, biarkan dia bersenang-senang dulu.
Lagipula, Zhang Liya ini juga tidak memiliki maksud jahat pada dirinya.
Setelah menangkap dirinya, Zhang Liya memang tidak melakukan apapun, atau sekedar berbicara, dan membawanya pergi.
Lin Tian tidak tahu kemana wanita ini akan membawa dirinya pergi. Sepanjang jalan, dia juga tidak pernah berbicara atau hanya sekedar berhenti.
Selain punggung yang di balut kain biru cerah, dan rambut hitam panjangnya seperti air terjun, Lin Tian tidak tahu ekpresi apa yang ada di wajah Zhang Liya.
Hingga mereka tiba di depan sebuah gunung, Zhang Liya akhirnya berhenti, dan berbalik.
Dan untuk saat ini, akhirnya Lin Tian dapat melihat ekspresi wajah Zhang Liya. Ekspresi dingin dan acuh tak acuh itu masih sama seperti dimasa lalu, tapi ada sedikit hal lain yang samar-samar Lin Tian temukan.
Tapi karena Zhang Liya hanya menunjukkan wajahnya sejenak, dan kemudian menoleh lagi, Lin Tian tidak dapat melihatnya dengan jelas. Namun Lin Tian mengetahui bahwa banyak hal yang disembunyikan wanita ini.
__ADS_1
Menghadap dinding gunung, Zhang Liya menempelkan telapak tangannya, dan tiba-tiba sebuah lubang terlihat muncul.
Wanita ini, apakah dia menggali sebuah gua? Apakah ini waktunya untuk interogasi?
Sayangnya, setelah menggalinya, Zhang Liya tidak menjawab pikiran Lin Tian, dan masuk kedalam. Tentu dengan Lin Tian yang ikut masuk di belakangnya.
Zhang Liya menggali lubang tidak tanggung-tanggung dan menggali sangat dalam. Di ujung, Zhang Liya membuat sebuah ruangan yang cukup besar, dan satu tempat tidur.
Melihat semua ini, Lin Tian mulai bingung.
Untuk apa wanita ini menggali gua dengan satu tempat tidur?
Sebagai praktisi Para Dewa, mereka tidak membutuhkan makan, ataupun tidur.
Tapi jika menggali gua untuk latihan, untuk apa membuat satu tempat tidur. Masih memberikan beberapa alas di atasnya.
Saat Lin Tian bertanya-tanya, Zhang Liya tanpa bersuara mengarahkan Lin Tian ke pojok ruangan, dan hanya memberi satu kata, "Jangan macam-macam!"
Bagaimana aku bisa macam-macam? Sedangkan kamu tidak membiarkan aku bebas untuk bergerak. Jangankan macam-macam, bersuara saja kamu tidak mengizinkan.
Lin Tian hanya bisa berkata dalam hatinya, dan melihat Zhang Liya dengan sedikit tidak berdaya.
Zhang Liya tampaknya memahami apa yang Lin Tian pikirkan, tapi dia tidak berniat untuk menjelaskan apapun.
Setelah menempatkan Lin Tian disana dan memberi perintah, Zhang Liya naik ke atas tempat tidur, duduk bersila dan menutup matanya.
Berlatih? Apakah wanita ini ingin berlatih disini, dan menyuruhku untuk mengawasinya? Tidak, dia tidak menyuruhku untuk mengawasi, dia hanya menyuruhku untuk melihatnya.
Lin Tian terdiam dan semakin bertekad untuk mencari kesempatan memukuli pantat wanita ini.
Tapi, auranya belum kembali, dan indera spiritualnya juga di kunci oleh Zhang Liya. Jadi, berapa kali pun Lin Tian berusaha, dia akhirnya gagal, dan hanya bisa mengawasi Zhang Liya di tempat tidur.
Pada saat ini, ketika Lin Tian sedang pasrah, dia melihat tubuh Zhang Liya bersinar dengan cahaya putih, lalu membesar, dan berputar-putar di sekitarnya.
Melihat cahaya ini, Lin Tian mengerutkan keningnya.
Cahaya putih itu tampaknya bukan aura, tapi sejenis sesuatu, dan memiliki kekuatan yang sangat besar.
__ADS_1
Berkelap-kelip dan berputar di sekitar tubuh Zhang Liya, cahaya itu selanjutnya membentuk sebuah benda. Dan saat melihat bentuk sempurnanya, mata Lin Tian tiba-tiba melebar dengan kejutan besar.
Lotus Bintang Abadi!