
"Kesenangan?" Tanya Lin Lin sedikit bingung.
Dimana kesenangan dari binatang menjijikkan, dan menyeramkan ini?
"Ya, coba perhatikan," setelah berkata, Lin Tian berbalik, melihat Serigala Batu yang masih sibuk makan di sana, dan berjalan ke arahnya.
"Saudara Lin, apa yang kamu lakukan!" Melihat Lin Tian yang berjalan ke arah Serigala menjijikkan itu, Lin Lin berteriak dari belakangnya.
Lin Tian berhenti saat Lin Lin berteriak dari belakang, tapi dia tidak menjawab. Dia hanya menundukkan tubuhnya, mengambil satu batu kecil di depan kakinya, dan memainkan di tangannya, kemudian melihat Serigala Batu di sana, dan tersenyum ringan.
Saat ini, Serigala Batu itu telah menghentikan makannya. Teriakkan Lin Lin sebelumnya telah mengganggu kegiatannya, dan mau tak mau harus melihat ke arah mereka berdua.
Melihat Lin Tian tidak jauh telah berada di depannya, alis di wajah Serigala Batu itu di tarik ke atas, dan mata hitamnya menyipit, dan dengan dingin menatap ke arah Lin Tian dengan tajam. Lalu dia sedikit membuka mulutnya, menunjukkan beberapa gigi besarnya kepada Lin Tian, dan disertai dengan suara gigi tajam setajam pedang yang saling bertabrakan di mulutnya, dia memasang postur menyerang.
Menggeram…
Serigala Batu itu mengeluarkan suara menggeram dari mulutnya.
Dia merasa bahwa Lin Tian adalah ancaman baginya. Dia berpikir, bahwa mungkin Lin Tian disini sedang mencoba untuk mengambil wilayah perburuannya.
Lin Tian disana tidak peduli dengan ancamannya, dia hanya tersenyum ringan, dan melemparkan batu kecil di tangan ke arahnya.
Apa yang dilempar hanya batu biasa, tapi Lin Tian memberikan sedikit aura ke dalamnya, lalu menggunakan indera spiritual untuk mengendalikannya. Hanya saja, kecepatan terbang batu itu tidak terlalu cepat, yang bahkan bisa diamati oleh mata telanjang.
Melihat batu kecil yang terbang tepat ke kepalanya, Serigala Batu itu menyipitkan matanya, tapi dia tidak menganggapnya serius, dan dengan tenang sedikit bergeser ke samping.
"Bang." Namun suara benturan keras terdengar setelah dia menghindar, dan bersamaan dengan suara itu, sebuah batu besar seperti telah menabrak wajah kanannya, yang membuatnya terpental, dan jatuh ke tanah.
"Lolongan…." Saat jatuh ke tanah, Serigala Batu itu melolong kesakitan di sertai dengan darah yang keluar dari mulutnya.
__ADS_1
Melihat Serigala Batu yang beberapa kali lebih besar daripada dirinya sendiri, yang sedang meratap kesakitan, Lin Tian bertepuk tangan, membersihkan tanah yang tersisa di tangannya, dan membalikkan badannya, "Lihat, bukankah itu terlihat menyenangkan?!" Sambil tersenyum, dia berkata kepada Lin Lin.
Lin Lin, yang masih terkejut, dan berhenti, segera terbangun saat mendengar kata-kata Lin Tian. Namun, saat dia tersadar, dia tidak terlihat setuju dengan perkataan Lin Tian, itu hanya ketakutan yang semakin jelas di wajahnya.
"Tidak! Itu tidak terlihat menyenangkan. Lihatlah, dia sepertinya sedang memanggil kawanannya. Satu, dua, tiga … tidak, itu semakin banyak! Kita harus cepat pergi!" Saat berkata, Lin Lin melihat bahwa lebih dari sepuluh ekor Serigala Batu telah keluar setelah mendengar lolongan temannya.
Lebih dari sepuluh ekor Serigala Batu dengan besar, dan kemarahan yang terlihat jelas di wajahnya telah muncul di depan mereka berdua.
Melihat mereka semua sedang marah, dan gigi-gigi tajam di tiap-tiap mulutnya, Lin Lin benar-benar ketakutan. Jadi, tanpa memperdulikan Lin Tian lagi, Lin Lin dengan cepat berbalik untuk mencoba melarikan diri.
Namun Lin Tian yang ada di sana tidak membiarkannya begitu saja. Dia memegang tangan Lin Lin, dan menghentikan pelariannya.
"Saudara Lin, apa yang kamu lakukan! Ayo pergi dengan cepat. Lin Lin tidak ingin menjadi makanan mereka."
"Kenapa kita harus lari? Ini adalah kesenangan yang sebenarnya." Kata Lin Tian ringan.
"Apa yang kesenangan! Ini namanya mencari kematian! Gigi itu bahkan lebih besar daripada tubuh Lin Lin, bagaimana Lin Lin bisa merasa senang jika nanti akan berada di sana!" Melihat ke arah kawanan Serigala yang semakin mendekat, dengan menunjukkan gigi mereka, wajah Lin Lin semakin ketakutan, dan dia berteriak lagi kepada Lin Tian.
Lin Lin tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Lin Tian, tapi dia masih menurutinya, dan memberikan pedang Siwang kepada Lin Tian.
"Berdirilah di belakangku, dan lihatlah kesenangan." Setelah berkata, Lin Tian melihat ke arah Serigala Batu yang masih meratap di awal, dan bergegas ke arahnya.
Posisi Serigala Batu yang terluka dan Serigala yang datang untuk membantunya masih terlalu jauh. Tapi saat Lin Tian bergerak dengan pedang di tangannya, mereka semua segera mengeluarkan "lolongan" panjang, dan secara bersamaan berlari ke arah Lin Tian.
Hanya saja Lin Tian tidak peduli dengan yang lainnya, yang dia pedulikan hanya Serigala Batu yang masih terluka di tanah.
Karena jarak Lin Tian lebih dekat, dia datang ke arah Serigala yang sengsara itu terlebih dahulu, dan sebelum Serigala itu bereaksi, suara siulan angin datang ke arahnya.
Dan setelah suara siulan angin itu menghilang, Lin Tian depannya juga menghilang.
__ADS_1
Ketika kawanan Serigala sampai ke tempat kawanannya yang terluka, mereka hanya melihat bahwa kepala temannya itu sudah terlepas dari tubuhnya, serta darah merah yang telah mengalir ke tanah di bawahnya.
Lolongan…
Lolongan…
Mengetahui bahwa temannya telah tidak lagi bernafas, dan telah menjadi mayat tanpa kepala, mereka semua mengangkat kepala ke langit, dan melolong dengan kesedihan di antara suaranya.
Meskipun mereka adalah hewan, sebenarnya mereka juga memiliki perasaan layaknya manusia. Apalagi jika hewan itu telah berlatih dan menjadi binatang spiritual. Bisa dibilang juga, bahwa kesetiaan, dan kepedulian diantara binatang melebihi perasaan manusia pada manusia.
Dunia binatang terlihat kejam, namun sebenarnya mereka tidak akan melakukan kekejaman secara membabi buta, dan membasmi sesama binatang. Jika pun ada pertarungan antara binatang, biasanya itu hanya terjadi karena merebutkan sebuah wilayah, atau karena sesuatu yang mengancam kelangsungan hidup mereka.
Berbeda dengan manusia, yang diantaranya akan dengan membabi-buta memusnahkan manusia tanpa alasan yang pasti.
Apalagi Serigala Batu ini adalah jenis binatang spiritual yang berkelompok, jadi jika ada sesuatu dari mereka yang terluka atau terbunuh, yang lainnya pasti tidak akan dengan diam membiarkannya begitu saja.
Saat ini, setelah mereka selesai melepaskan kesedihan karena kehilangan temannya, mata mereka dengan tajam, dan marah melihat ke arah dimana Lin Tian berada.
Namun mereka tidak menemukan pria kejam yang membunuh temannya, dalam pandangan pencariannya, mereka hanya melihat Lin Lin yang berdiri agak jauh dari sana dengan pandangan bingung, dan tubuh mungilnya yang gemetar.
Dari tubuh Lin Lin yang gemetar, Pedang merah yang digunakan untuk membunuh temannya ternyata ada di tangannya, oleh karena itu, meskipun bukan manusia yang membunuh temannya, dia pasti juga bertanggung jawab.
Setelah menentukan targetnya, sepuluh Serigala Batu itu dengan cepat, dan tanpa basa-basi segera bergerak, dan mengepung Lin Lin.
"Menggeram…"
Suara Serigala Batu yang sedang marah segera membangunkan Lin Lin.
"Aaahhh…" Melihat bahwa semua Serigala Batu telah mengepung dirinya dengan wajah marah, Lin Lin segera berteriak.
__ADS_1
"Saudara Lin! Saudara Lin, dimana kamu! Jangan pergi, mereka akan memakan Lin Lin. Aaahhh… tidak… mereka datang!"