Against Heaven'S Destiny

Against Heaven'S Destiny
Seekor Naga yang terbelenggu


__ADS_3

"Sepuluh tahun lalu, sebelum Lin Nantian pergi, dia berkata kepadaku. Jika suatu saat terjadi apapun padamu, dia memintaku untuk tidak melakukan apapun. Pada saat waktu itu juga, dia memberikan sebuah cincin kepadaku, yang di titipkan kepadamu, dan hanya menyuruhku memberikannya jika kamu telah menjadi lebih kuat." Sambil mengulurkan cincin ke arah Lin Tian, Lin Xinghe berkata sambil tersenyum.


Cincin di tangan Lin Xinghe berwarna hitam, dan hanya terlihat seperti cincin ruang pada umumnya. Tidak ada ukiran atau pola unik lainnya. Itu hanyalah cincin polos berwarna hitam, namun sangat hitam bagaikan batu hitam yang di poles.


Melihat cincin itu, Lin Tian tidak terlalu banyak berpikir, dia segera mengulurkan tangan kanannya, langsung mengambilnya, dan dengan cepat memasukkannya ke dalam bajunya.


Setelah memasukkan cincin ke dalam bajunya, Lin Tian tidak melihat Lin Xinghe lagi, dan berjalan melewatinya begitu saja.


"Kamu tahu, seekor anak singa selalu merasa dia adalah raja hutan, tapi ketika dia meninggalkan induknya, dia mengetahui bahwa sebenarnya dia adalah seekor kucing di antara pepohonan."


Lin Tian, yang sedang berjalan, dan tiba-tiba mendengarkan kata-kata ini, dia segera berhenti.


Lin Tian hanya berhenti di tempatnya, tanpa berbalik ke belakang, dan hanya mendengus dengan dingin.


"Kamu salah!" Tanpa menoleh, Lin Tian berkata dengan suara tenang.


Lin Xinghe, yang mendengar suara itu sedikit terkejut.


"Aku bukan seekor anak Singa di hutan. Aku adalah seekor Naga yang sedang terjebak di kolam kecil. Seekor Naga yang mencoba keluar dari perairan dangkal."


Setelah kejutannya sejenak, suara tenang tapi penuh dengan ketegasan Lin Tian terdengar di telinga Lin Xinghe.


Seekor Naga!


Mendengar arti kata-kata ini, Lin Xinghe yang awalnya terkejut tidak lagi bisa bereaksi, otaknya berhenti bekerja selama beberapa saat, dan dia hanya bisa berdiri diam di sana untuk waktu yang lama.


Kata-kata tenang dan penuh ketegasan kali ini adalah kata-kata yang sama dengan apa yang dia dengar, dan di katakan oleh Lin Nantian sepuluh tahun lalu.


Lin Xinghe tidak pernah meragukan kata-kata yang dia dengar sepuluh tahun lalu. Dan kali ini, entah kenapa, di dalam hatinya, dia selalu percaya dan yakin dengan apa yang di katakan oleh Lin Tian.


Entah kapan, senyum senang dan bangga tiba-tiba muncul di bibir Lin Xinghe.

__ADS_1


Kemudian dia terbangun, melihat dua orang yang menderita di sana, menggelengkan kepalanya, dan menghela nafas dengan perasaan iba.


Sepertinya mereka berdua telah memprovokasi seseorang yang bahkan dia sendiri akan berpikir beberapa kali sebelum melakukannya.


Setelah berjalan beberapa waktu, dan memastikan jika Lin Xinghe tidak memperhatikan, Lin Tian berhenti.


Melihat wajah Lin Lin di pundaknya yang sudah tenang, Lin Tian tersenyum.


Mengangkat lengan kanannya, mengulurkan tangannya dan membersihkan beberapa air mata yang tersisa di pipinya. Sambil senyum yang muncul di bibir Lin Tian, dia membawa Lin Lin kembali kedalam Pagoda Bintang.


Melihat ke arah tempat tidur Lin Lin yang sebelumnya belum di keluarkan, Lin Tian berjalan, dan dengan pelan, dia meletakkan tubuh Lin Lin di atas tempat tidur.


Melihat Lin Lin yang telah tertidur di sana dengan tenang sejenak, Lin Tian tersenyum dan kemudian berbalik.


Mengeluarkan cincin pemberian Lin Nantian dari bajunya, melihat cincin hitam di tangannya, Lin Tian sedikit menantikan.


Mengoperasikan indera spiritualnya, tanpa menunggu lama lagi, kesadaran Lin Tian mulai memasukinya.


Ruang di dalam cincin penyimpanan ternyata tidak terlalui besar, dan ruangan ini hanya memiliki lebar sepuluh meter kubik. Melihat beberapa sekeliling ruangan beberapa waktu, Lin Tian tidak menemukan adanya batu spiritual, eliksir, atau barang-barang berharga lainnya.


Yang bahkan satu batu spiritual biasa tidak ada.


"Mendesah..."


Dengan perasaan kecewa, Lin Tian menarik kembali pikirannya. Melambaikan tangannya, dan satu-satunya barang yang ada di dalam cincin ruang telah berada di tangannya.


Tepat ketika batu giok ada di tangannya, tiba-tiba batu giok itu bersinar dengan cahaya putih cerah, dan dengan suara "Ledakkan" batu giok di tangan Lin Tian meledak. Selanjutnya sebuah bayangan hitam samar muncul di depan Lin Tian.


Bayangan itu kemudian membentuk sebuah bentuk manusia berkelamin laki-laki, dewasa, berumur sekitar tiga puluh tahun, dan memakai pakaian hitam dengan satu simbol "Lin" di lengannya.


Rambut hitam panjang, mata hitam dengan penuh keagungan, serta alis panjang seperti pedang, dan wajah yang tampan namun terlihat gagah dan heroik muncul di depan Lin Tian. Melayang di udara, sesosok bayangan manusia pria dewasa itu melihat ke arah Lin Tian dengan lembut, dan senyum tipis di bibirnya.

__ADS_1


Lin Nantian.


Melihat pria di depannya, Lin Tian yang awalnya tenang, dan duduk segera bangkit.


Dua orang, satu bayangan, dan satu manusia. Dewasa dan remaja, saling memandang di dalam ruangan. Satu sosok memiliki wajah lembut dan sedikit kasih sayang di wajahnya. Dan satu lagi, memiliki wajah serius, dan melihat sosok yang berada di depannya dengan waspada.


Di lihat dari kejauhan, pemandangan ini terlihat sedikit aneh.


Tapi ketika kamu melihatnya dengan teliti, dua sosok itu memiliki kemiripan beberapa poin di wajahnya.


"Lin Nantian?"


Selama beberapa waktu saling memandang, akhirnya Lin Tian adalah orang pertama yang bersuara.


Di sana, pria itu mengangguk pelan dan tersenyum.


Kemudian dia mengangkat tangannya, dan menghentikan Lin Tian yang akan mengatakan sesuatu lagi.


"Aku tahu, kamu pasti memiliki banyak pertanyaan di kepalamu. Tapi aku hanya sebatas kesadaran jiwa yang tertinggal, jadi kita lupakan saja itu untuk saat ini." Kata Lin Nantian


Setelah berkata, dia melihat Lin Lin di belakangnya, dan mengangguk sebelum kembali melihat Lin Tian lagi.


"Seni Bintang Abadi tingkat pertama, Seni Tubuh Bintang tingkat pertama, dan Alam Pelatihan qi keduabelas. Ya, itu terlalu lambat dan terlalu lemah," melihat Lin Tian sejenak, Lin Nantian berkata dan menggelengkan kepalanya dengan wajah sedikit kecewa.


Di sana, Lin Tian tampaknya tidak merasa terlalu tertekan dengan perkataan Lin Nantian. Dia hanya tersenyum dan berkata dengan tenang


"Tapi itu semua kurang dari sebulan sejak aku memulai."


"Apakah itu hanya sebulan? Hehe.. baiklah, sepertinya kamu masih dapat di anggap sebagai seorang jenius. Tapi untuk kekuatanmu sekarang, jika kamu ingin mengetahui semuanya, itu hanya akan sia-sia," ekspresi berubah beberapa kali, terkejut, senang, dan kemudian sedikit menyesalinya.


"Bagaimana dengan kekuatan puncak di Alam Abadi?" tanya Lin Tian dengan tenang.

__ADS_1


Mendengar kata-kata Lin Tian, di sana Lin Nantian segera menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Bahkan jika itu adalah kekuatan di atas Alam Abadi, itu masih belum memenuhi syarat untuk mengetahui setengahnya." Lin Nantian menggelengkan kepalanya, kemudian berkata dengan singkat.


__ADS_2