
Flash back,
Bintang saat itu tengah melakukan rapat secara online dengan karyawan perwakilan setiap kantor cabang yang berada di beberapa daerah berbeda, tiba tiba layar laptopnya menangkap sosok perempuan cantik yang sedang ngomel ngomel membahas wewe gombel dan kolor tidur, hanya sekilas,,, tapi sungguh wajah itu tak dapat hilang dari kepalanya.
Bintang merasa sangat penasaran dengan perempuan cantik yang kini berada di salah satu rumahnya, yang kini sedang di tempati sementara oleh Dara, adik sepupunya.
Keesokan harinya Bintang langsung bergegas pergi ke rumahnya yang di tempati oleh Dara, perjalanan yang memakan waktu hampir empat jam perjalan pun dia tempuh, pekerjaan kantor yang menumpuk dia tinggalkan.
Semua semata karena dia merasa tak tahan dengan rasa penasarannya, wanita itu benar benar telah mencuri hatinya, mengalihkan dunianya.
' Apakah ini yang dinamakan cinta pada pandangan pertama ?' tanya Bintang dalam hatinya.
Oh, sungguh wanita itu bisa membuat Bintang, sosok pria dingin, arogan, kaku, tiba tiba merasa jatuh cinta.
Aneh memang, apa bisa seseorang jatuh cinta pada orang yang hanya dia lihat sekilas lewat layar, tanpa tau siapa namanya.
Tapi itu kenyataan, Bintang benar benar merasa tertarik pada wanita asing itu.
Bahkan jatuh cinta !
" Abang,,, ada apa? tumben datang kesini gak ngabari ?" Dara kaget saat membukakan pintu, ternyata kakak sepupunya sedang berdiri sambil tersenyum aneh di hadapannya.
" Mmh,, ada sedikit perlu sama kamu." Bintang menyapu setiap penjuru ruangan rumah, seperti mencari sesuatu, atau lebih tepatnya mencari seseorang.
" Apa ada pekerjaan penting yang perlu aku bantu, Bang?" Dara melihat gelagat aneh pada kakak sepupunya.
Kalaupun ada masalah pekerjaan, biasanya dia hanya menyampaikan lewat telepon, ada masalah serius apa sebenarnya, sampai kakak sepupunya yang super sibuk itu datang menemuinya.?
" Kamu sendirian ?" Mata Bintang masih seperti mencari cari sesuatu.
" Kebetulan ada temen Dara sedang nginep disini, Abang nyari apaan sih, dari tadi kaya ada yang di cari gitu !" Dara mulai kesal karena Bintang mengajaknya bicara, tapi matanya kesana kemari tak memperhatikannya.
" Teman ? yang kemarin bahas wewe gombel dan kolor tidur di rapat itu ?" Tiba tiba mata Bintang bersinar,
" Ishh,, Abang, kenapa di bahas lagi sih, malu tau !" cebik Dara.
" Teman mu yang itu kan ? dia masih disini? " Bintang penuh semangat.
" Abang ! jangan bilang abang dateng kesini cuma mau ketemu Safira !" Dira memicingkan matanya penuh curiga.
" Sa- safira,? jadi namanya Safira, nama yang cantik, sama seperti orangnya,, cantik." Gumam Bintang.
" Iya, tapi sayang nasibnya tak secantik nama dan orangnya,!" Cicit Dara lesu.
__ADS_1
" Maksudnya ?"
" Dia baru saja memergoki suaminya selingkuh dan main gila dengan pelac*r, sejak semalam dia mengurung diri di kamar, kasian dia,," Dara menghela nafas panjang.
" Dan wanita selingkuhan suaminya itu Mia, jala*g yang sempat jadi simpanan Ayah dulu, betapa sempitnya dunia ini ya Bang !" Keluh Dara.
Bintang menyimak dengan seksama cerita Dara, entah mengapa seakan hatinya ikut sakit saat tau wanita itu kini sedang terluka.
' Dia, Safira, wanita itu,,,, sudah menikah ternyata, tapi kenapa dadaku sesak saat tau dia sedang terluka,? aku akan menjaganya, membantunya semampuh ku, walaupun dia tak bisa aku miliki.' Ucap Bintang dalam diamnya.
" Abang ! kenapa jadi ngelamun ?" Dara membuyarkan lamunan Bintang.
" Ah, sudahlah, Abang akan tinggal disini menjaga kalian, takutnya ada apa apa, tapi... Kamu jangan beri tahu dia kalau Abang ada disini, takutnya dia tak nyaman." Bintang akhirnya memutuskan untuk tinggal disana sementara.
Niat awal datang kesana untuk berkenalan dengan Safira, buyar seketika karena kejadian yang diluar keinginan.
Bintang menempati kamarnya yang selama ini selalu terkunci karena dia tak ingin siapapun masuk ke area pribadinya itu.
Tengah malam, saat Bintang hendak ke dapur mengambil minum, tak sengaja berpapasan dengan Dara,
" Bagai mana keadaan teman mu?" Bintang tak bisa memejamkan matanya karena memikirkan Safira.
" Dia tidur, mungkin lelah menangis." Dara tersenyum.
Bintang menatap Safira yang tertidur lelap di kasur, guratan kesedihan masih tampak jelas, bahkan di pipinya masih ada sisa sisa air mata.
Bintang mendekati Safira yang terlelap, dia mengusap pipi wanita cantik itu, lalu membelai rambutnya, terakhir dia membenarkan selimut Safira, menariknya sampai menutupi dada.
Dara hanya hanya memperhatikan sikap Abangnya tanpa bertanya apapun, meski sebenarnya dia heran, kenapa dia begitu perhatian pada sahabatnya,
padahal mereka tak saling mengenal.
Malam berikutnya, Bintang melakukan hal yang sama pada Safira yang terlelap dalam tidurnya.
Kali ini Dara tak dapat menahan rasa penasaran di hatinya, saat Bintang selesai menyelimuti Safira, Dara menarik tangan Bintang menuju balkon kamarnya,
" Abang suka sama Safira ?" Tanya Dara penuh selidik.
" Abang tau itu gak mungkin, saat ini abang hanya ingin menjaganya dalam diam." Bintang berdiri di ujung balkon, matanya menatap jauh entah kemana, kosong.
" Hmm,, jadi Abang kesini sebenarnya hanya penasaran dengan Safira yang abang liat waktu rapat itu ?" Dara berdiri di sebelah Bintang dan mulai menebak nebak apa yang kakak sepupunya maksud.
" Lebih tepatnya, Abang jatuh cinta pada pandangan pertama sama dia, tapi... Ternyata itu gak mungkin, dia punya suami." Hati Bintang tiba tiba menjadi lemah saat harus mengakui kalau wanita yang selalu mengganggu pikirannya itu milik orang lain.
__ADS_1
Dia bukan laki laki bajingan yang melakukan segala cara untuk mendapatkan wanita incarannya, terlebih wanita itu bersuami, meski sekalipun dia mampu merebut Safira dari suaminya, pantang bagi Bintang merebut milik orang lain.
" Sabar ya,,, kalau dia jodoh Abang, pasti Tuhan akan memberi jalan," Dara merasa iba pada Abangnya,
Sosok laki laki itu sangat tidak mudah jatuh cinta, tapi sekarang, dia malah jatuh cinta sekaligus patah hati secara bersamaan.
Giliran Bintang yang bersembunyi, mengurung diri di kamarnya, setelah tau Safira sekarang sudah baik baik saja, menurut laporan Dara, bahkan malam ini mereka akan pergi ke club milik suami Safira. Entah apa yang akan mereka perbuat.
Tak ingin terjadi apa apa dengan Dara dan Safira, malam itu setelah dua wanita itu pergi, Bintang diam diam mengikuti mereka ke club,
dia sempat melihat pertengkaran Safira dan Wisnu.
' Sungguh di luar dugaan, wanita ini sungguh unik, tangguh, berani dan cerdas tentu saja, haha '
Batin Bintang saat melihat Safira dengan perasaan yang sangat bangga.
Tadinya dia mengira Safira wanita lemah, akan teraniyaya disana, ternyata di luar ekspetasinya, Safira wanita luar biasa. Dia berhasil mengalahkan telak suami dan simpanannya sekaligus, tanpa kekerasan fisik, tanpa drama nangis nangis, semuanya di lakukan dengan gaya yang elegan dan tanpa adu otot, hanya menggunakan otak.
Namun saat Mia datang dan hendak menyerang Safira, Bintang segera mendekat, bukan untuk menyelamatkan Safira, karena Wisnu juga menahan tangan Mia yang hendak memukul Safira, Bintang mendekat untuk membawa Dara pergi dari sana.
Bukan tanpa alasan, saat melihat Dara yang sudah bersiap menyerang Mia, Bintang tahu persis, Dara tak bisa di hentikan sebelum dia puas, apa lagi Dara memendam benci sebegitu dalamnya pada Mia, tapi Bintang merasa ini bukan saat yang tepat untuk Dara meluapkan dendamnya,
Bintang ingin memberi ruang pada Safira untuk menyelesaikan masalah rumah tangganya,
" Kenapa abang mencegah aku untuk membunuh wanita itu? dia jahat, dia menyakiti Ibu dan juga Safira, dia tak pantas hidup !" Raung Dara, sesaat setelah Bintang menyeretnya keluar ruangan dan membawanya ke dalam mobil di parkiran.
" Jangan kotori tanganmu dengan membunuhnya, lagi pula ini bukan saat yang tepat untuk kamu, biarkan Safira menyelesaikan masalahnya dulu." Bintang merampas pisau lipat yang di sembunyikan di saku celana Dara,
sebelum menarik paksa tangan Dara saat di dalam, sekilas Bintang melihat adik sepupunya itu mengeluarkan pisau lipat dari tasnya, lalu di masukan lagi ke saku celananya setelah dia dipaksa keluar.
Dara hanya bisa menangis menahan amarah yang tak bisa dia salurkan.
Setelah kejadian malam itu, Bintang kembali ke ibukota, dia merasa tak ada yang perlu di khawatirkan dengan Safira, dia wanita kuat, apa lagi setelah melihat aksi nekatnya di club, Bintang yakin Safira bisa melewati semuanya dengan baik baik saja.
Bintang memutuskan untuk melupakan Safira, dan tak berharap apapun tentang dia, meski itu sangat sulit, dia sampai harus menyibukkan dirinya dengan pekerjaan hampir 24 jam, agar tak ada waktu untuk dirinya memikirkan Safira.
Beberapa bulan berlalu, saat dirinya masih berjuang untuk melupakan Safira,
Tuhan malah mengirimkan Safira padanya, tanpa sengaja dia menemukan surat lamaran pekerjaan Safira saat dirinya berkunjung ke kantor cabang.
Perasaan itu kembali hadir dan semakin membara, apalagi setelah dia tau bahwa safira kini telah bercerai dengan suaminya,
kini sudah saatnya dia mengejar cinta Safira tanpa harus merebutnya dari siapapun.
__ADS_1
Flash back off