
Lintang
Pagi ini aku akan ke toko, sebab sudah satu minggu aku tidak kesana. Dan hari ini juga akan ada karyawan baru yang menggantikan Rara. Karena mulai pekan depan, Rara akan bekerja di salah satu minimarket milik papa Rendra.
"Bu, mau saya antar." Ucap mang Joko saat membukakan gerbang untukku.
Aku terkekeh. "Cuma kesebelah mang."
Mang Joko tertawa. "Soalnya pesan bapak harus siap mengantar ibu kemana pun."
"Iya kali naik mobil mang, lah jaraknya saja cuma dua puluh meter." Aku dan mang Joko tertawa bersama. "Titip rumah, mang."
"Siap bu."
Aku melangkahkan kakiku perlahan, lumayan sekalian olah raga. Batinku
"Mbaak Lintang." Itu suara Rara. Rara langsung berlari keluar pagar untuk menghampiriku. Gadis 19 tahun itu mengapit lenganku. "Kenapa jalan sendiri sih mbak. Kan bisa menelpon salah satu dari kami untuk menjemput." Dia menggerutu kepadaku.
"Kalau ada apa-apa gimana? Bisa habis kami sama mas Akhtar," lanjutnya.
Aku tertawa melihat reaksi Rara yang terlampau khawatir. "Laah... malah ketawa lagi. Mbak Lintang ih." Gadis itu cemberut.
"Jadi mau bagaimana lagi, Ra? Mbak cuma hamil loh, bukan sakit."
"Iya mbak cuma hamil. Tapi masalahnya anak di dalam perut mbak Lintang itu anak emas."
Aku tertawa. "Anakku Ra. Aku manusia. Bukan emas."
"Mbak Lintang iih." Rara memanyunkan bibirnya.
"Juleehaaaa! Kamu jalan sendirian?" Dan suara bising Anna menyambutku. Dia berjalan cepat dari dalam toko.
Aku mengangguk. "Iya lah, masa cuma kesebelah aja di anter naik mobil."
"Suka cari masalah emang ini emak bunting." Anna mengomel.
Anna memegang perutku. "Baby twin gak apa apa kan sayang." Lalu menatap wajahku. "Perut kamu gak sakit kan, Lin? Ayo duduk, cepat!" Anna langsung menyuruhku masuk dan duduk di kursi.
Aku memutar bola mataku, "Bisa gak sih gak usah berlebihan gini."
Semanjak mengetahui aku mengandung bayi kembar, dan permintaan mas Akhtar untuk turut menjagaku dan bayi dalam kandunganku, kelakuan mereka semakin membuatku jengah. Khawatir berlebihan, larangan melakukan ini itu dan masih banyak lagi.
"Ini gak berlebihan kak. Ini perintah. Kami harus menyayangi serta menjaga kak Lintang dan Baby twin seperti anak sendiri." Ucap Siska.
"Aku masih manusia Sis. Belum berubah jadi sejenis kedelai hitam pilihan." Ucapku Sinis.
Bayu dan Asep terbahak. "Maliko dan Malino." Ucap Bayu.
"Itu kalau cowok-cowok. Kalau si kembar cewek-cewek, Malika dan Malina." Ucap Asep. Keduanya kembali tertawa.
__ADS_1
"Berarti itunya mas Akhtar lehernya panjang dong, kayak bangau?" celetuk Rara dan mereka semua terbahak.
"Kalian, happy banget yaaa?" Sindirku, dan mereka langsung berhenti tertawa.
"Heheh... Maaf mbak."
"Ini orang barunya An?" Tanyaku pada Anna saat melihat seorang gadis bertubuh pendek dan sedikit gemuk ikut berkumpul.
"Iya Lin. Namanya Wilya."
Gadis bernama Wilya itu menyalamiku. "Nama saya Wilya, Bu."
"Panggil mbak aja, Wil. Selamat bekerja dan semoga betah ya." Gadis itu mengangguk.
"Mulai sekarang, kamu pegang kerjaan Rara sekaligus kerjaanku, An."
Annn menatapku tajam. "Serius Lin?"
Aku mengangguk. "Aku bakalan fokus sama persalinan dan mengurus bayi untuk beberapa bulan kedepan, An."
"Aku percaya kamu bisa ku andalkan." lanjutku.
Anna mengangguk. "Tapi sebelum kamu persiapan persalinan. Aku mau cuti mulai besok sampai Minggu depan," ucapnya agak ragu.
"Mau kemana?" tanyaku.
Anna tersenyum canggung. "Anu..."
"Itu Lin." Anna menggaruk pelipisnya.
"Eh... sejak kapan kamu gagu gini?"
Anna menunduk dan wajahnya bersemu. "Astaga! Jangan bilang kamu mau nikah!"
Dia mengangguk dua kali.
Aku berdiri dari kursi dan memeluknya. "Aaaaaaa.... Selamat sayaaaang." Anna yang tak siap menerima pelukanku sampai terhuyung ke belakang. Untung saja dia masih sanggup menahan tubuhku.
"Selamat sih selamat Julehaa! Tapi ini bahaya buat si kembar." Dia melepas pelukanku. "Kamu kalau mau begini, tunggu si kembar ini brojol. Kamu tuh selalu membuat kesejahteraan warga Bintang-Lintang Shop dalam bahaya tau gak sih!"
"Iya... iya... ngomel melulu kayak emak tiri." Aku kembali duduk di kursi.
"Laaaah emang aku calon emak tirinya si Indira, kan?"
"Ciiie... Jadi nih sama mas Ishaq?" Aku menaik turunkan alisku. Aku senang menggodanya. Wajahnya semakin merah sekarang.
"Jadi lah, nge-date nya aja di restoran rooftop hotel berbintang." lanjutku.
"Hahaha... Abis nge-date turun kebawah langsung check in." Sindir Siska.
__ADS_1
"Habis check in langsung bercocok tanam." Ucap Rara diiringi tawa.
Siska dan Rara terbahak bersama. Sementara Anna enggan menanggapi gurauan keduanya.
Asep dan Bayu hanya geleng-geleng kepala. "Jangan di dengarkan Wil, yang dua ini memang kadang suka kambuh gilanya." Ucap Bayu pada Wilya.
"Iya, bang," jawab Wilya malu-malu.
"Ciiiee... Hilal jodohnya si Bayu udah kelihatan nih." Rara membuat semua orang tertawa. Kecuali Bayu dan Wilya yang terlihat salah tingkah.
***
Beberapa hari berlalu, sekarang kami sedang ada di acara akad nikah Anna dan Mas Ishaq. Acara sederhana itu diadakan di rumah Anna. Mereka hanya mengundang saudara dekat dan tetangga. Aku, Rara dan Siska serta Wilya duduk berdekatan. Bunda juga ikut hadir bersama kami.
Anna terlihat cantik dengan kebaya putih yang ia pakai. Indira dan Elsa juga sangat kompak dengan dress berwarna putih.
Dalam satu tarikan nafas, mas Ishaq kini telah sah menjadikan Anna sebagai istrinya. Aku turut bahagia karena Anna berhak mendapatkan ini semua.
Perjalanan rumah tangga pada pernikahan pertamanya juga tak mulus sepertiku. Mantan suami Anna seorang pemabuk dan pecandu narkoba. Dan sekarang pria yang sering memukuli Anna itu tengah mendekam di penjara.
"Semoga jadi keluarga sakinah, mawaddah, warahma, An." Ucapku padanya saat ia memelukku usai akad.
"Cepat kasih adik buat Indira dan Elsa." Aku mengedipkan sebelah mataku.
"Terima kasih, Lin. Sudah banyak membantuku. Selalu ada saat aku membutuhkan bantuan "
"Sama-sama An. Kamu sudah ku anggap seperti kakakku sendiri."
"Selamat ya, Mas." Ucapku pada pria yangs berdiri di samping Anna. Pria yang tak luntur senyum di wajahnya walau sedetik pun.
"Terima kasih, Lin."
"Kak, selamat menepuh hidup baru." Anak-anak bergantian mengucapkan selamat padanya.
"Ini kado dari kami semua mbak." Rara menyerahkan kotak berukuran lumayan besar.
Anna menerimanya tanpa menaruh curiga sedikitpun. "Terima kasih sayang-sayangku." Dia terus tersenyum.
Terseyumlah An, sebelum senyummu itu berubah menjadi kekesalan. Batinku.
Dan benar saja, malam harinya ponselku ramai dengan notifikasi dari grup WA Anak BL Shop.
Anna : Ide siapa kasih kado begini?
Rara : Berdasarkan musyawarah dan keputusan bersama 😛
Siska : Kami hanya membantu demi kelancaran malam pertama 😂
Anna : Kalian bikin aku malu ðŸ˜ðŸ˜ Yang buka kadonya suamiku ðŸ˜
__ADS_1
Aku terbahak membaca obrolan mereka. Bagaimana tidak marah, jika hadiah dari mereka adalah satu lusin br* dan underware, tissu ajaib dan sebuah surat.
Ready stock. Kalau gak sabar, langsung sobek aja mas!