Aku Dan Bintang

Aku Dan Bintang
Bab 78 Kita bahagia


__ADS_3

Satya


Aku kacau melihat putriku menangis di makam mamanya. Aku, seorang ayah yang tak bisa berbuat apa-apa. Hanya karena cinta dan kesalahan Arumi. Kehidupan yang sudah berlanjut selama sepuluh tahun ini kembali berderai air mata.


Aku mengendarai mobilku yang berada tepat di belakang mobil Akhtar. Membawa Zoya ke rumah sakit sepertinya bukan pilihan tepat. Aku menghubungi Akhtar.


"Tar, bawa Zoya ke rumah kamu. Aku akan panggil dokter pribadi kami kesana." Rumah sakit bukan tempat yang nyaman baginya. Lagi pula aku yakin, Zoya hanya kelelahan dan kelaparan.


"Yakin, sat?"


"Yakin, Tar. Aku juga bakalan hubungi Una untuk bawa Ibu kerumah kamu."


Panggian berakhir. Aku melajukan mobil dengan kecepatan tinggi, menyusul Akhtar yang melesat jauh di depan. Kamu boleh khawatir, Tar? Tapi ingat! Di dalam mobilmu ada putriku! Akhtar sialan!!!


Kami tiba di rumah Akhtar. Zoya langsung dibaringkan diatas tempat tidurnya. Tubuhnya lemah dan wajahnya tampak pucat.


"Bu, dokternya sudah datang." Bi Imah memanggil Lintang dari depan pintu kamar.


"Silahkan dokter." Aku mengajak dokter Sarah masuk.


Dokter wanita itu memeriksa putriku. "Dia hanya kelelahan. Tidak perlu diinfus. Hanya perlu makan dan istirahat yang cukup. Saya akan resepkan vitamin untuknya."


"Terima kasih dok." ucap Lintang lirih. Sedari tadi Zoya hanya menutup matanya. Dia tidak tidur. Mungkin benar kata dokter, dia hanya lelah.


Lintang menyuapi Zoya dengan telaten. Bintang, tante Lena, Ibu, Una, Akhtar sudah ada di kamar. Langit juga langsung masuk ke kamar setelah ku perintahkan untuk menebus resep yang di berikan dokter Sarah.


Ada rasa sakit yang mengiris hatiku saat dia menangis menanyakan sejuta pertanyaan pada nisan adikku. Dia tau tak ada jawaban disana tapi dia tetap melakukannya. Karena apa? Karena kami, manusia yang menutupi kebenaran sudah tidak lagi dipercaya olehnya. Dia bingung harus mengadu pada siapa.


Dia tahu, kami menutupi kebenaran. Percayalah sayang. Ini demi kamu. Kami sedang menyelamatkan masa kecil kalian berdua. Kamu dan Bintang.


Aku menghapus setitik air mata di sudut mataku. Una merangkul lenganku. Kami memang tengah duduk di karpet berbulu di kamar dua gadis kecil itu.


"Kak, semua pasti baik-baik saja. Percayalah, putri-putri kita dididik dalam keluarga yang hangat. Dikelilingi saudara-saudara yang menyanyangi dengan tulus. Anak yang di besarkan dengan cinta, pasti akan memiliki kelembutan hati, emosinya akan terkontrol." Dia mengelus lenganku.


Aku mengecup kepalanya. Menenangkan!


"Bisa gak Bang Sat, adegan romantisnya di skip dulu." Bisikan setan, eh-salah. Bisikan langit terdengar di telingaku.


Aku meliriknya tajam, dan dia memasang senyum mengejek.


****


Lintang


Zoya makan dengan lahap. Walau hanya dengan sup ayam. Aku bisa bernafas lega, wajah pucatnya sudah hampir tak terlihat. "Makan yang banyak, sayang." Aku kembali memasukkan suapan ke mulutnya.


Zoya menatapku, aku membalas dengan senyuman. Hingga suapan terakhir ia tak beralih dari wajahku.


"Selesai. Cucu oma pintar." Tante Hana duduk disebelah Zoya bersama Bintang.


Zoya menatap tante Hana, matanya semakin berkaca dan bulir bening itu akhirnya turun juga.


"Cucu oma kenapa?" tante Hana memeluknya.


"Oma, siapa papa Zoya? Apa benar papa Zoya dan papa Bintang orang yang sama?" Tante Hana terkejut.


Aku menelisik semua orang. Langit, Una, Bunda tampak terkejut. Tapi putriku, Bintang tidak terkejut.


"Sayang, istirahat dulu ya."

__ADS_1


"Enggak, yah. Zoya gak apa-apa? Sekarang ayah jawab, siapa papa Zoya?" Dia bertanya dengan suara lemahnya. Membuat tante Hana menangis tersedu-sedu.


"Bi, papa kita orang yang sama. Lalu siapa yang merebut papa? Mama Lintang yang merebut papa dari mama Arum? Atau mama Arum yang mengambil papa dari kalian?" Zoya bergeser lalu memeluk, Bi.


Adegan mengharu biru. Akankan semua dibuka sekarang?


"Zoya, Bi..." ucapku lirih. Mas Akhtar mendekapku.


"Oma akan jelaskan." Tante Hana membuat kami terkejut.


"Ibu!"


"Tante!"


"Mama!"


Aku, mas Akhtar dan Kak Satya berucap bersamaan.


"Anak-anak sudah besar."


"Oma, jangan!" Bintang sedikit berteriak.


"Bi..." ucapku lirih.


"Jangan oma. Jangan. Cerita masalalu cuma buat kita semua menangis. Mama nangis, Uti nangis, oma juga nangis. Oma Citra nangis. Apa bagusnya cerita yang dulu kalau semua orang menangis."


"Dengar Zoy." Bintang menegakkan posisi duduknya.


"Om yang kamu temui, sudah menemuiku beberapa hari lalu."


Kami semua terkejut. "Bintang." Mas Akhtar menatapnya khawatir.


"Aku yakin yang dia bilang memang benar, karena papa Rezki menikah dengan mama. Ada foto pernikahan mereka."


"Aku tidak mau tau bagaimana bisa ada kamu dan mama kamu. Bagaimana bisa papa kita sama."


"Yang paling penting sekarang aku, kita sudah punya papa baru. Papa yang lebih baik. Aku bahagia papa datang." Bintang menunjuk mas Akhtar dengan air mata berlinang.


"Mama... Mama." Bintang menyeka air matanya. Dia terisak. Tante Hana mengelus bahunya.


"Ma...ma gak pernah nangis-nangis lagi saat sholat malam."


"Mata mama gak pernah bengkak lagi kalau pagi."


Aku tak sanggup menahan tangisku. Aku terisak, bahuku bergucang di pelukan mas Akhtar. Aku tak sanggup menatap wajah putriku.


"Mama gak pernah melamun lagi." Dia menyeka air mata dan ingus dengan lengan bajunya.


"Kita punya adik-adik."


"Kita punya papa yang siap sedia mengantar ke sekolah, menuruti apapun mau kita."


"Ini udah cukup Zoy. Lebih dari yang aku minta sama Allah."


"Kata Uti, saat kita ikhlas kehilangan sesuatu. Allah akan gantikan berkali lipat."


"Dan sekarang. Kita punya semuanya Zoy. Kita punya ayah sama bunda. Sebentar lagi Nath punya daddy dan mommy." Bintang tertawa kecil menunjuk Langit. Dan Langit juga tersenyum kecil.


Ya, aku memang menjadikan Langit dan Rara sebagai daddy dan mommy bagi Nath karena dia terus memaksa memanggilku mommy. Dan Langit menerimanya dengan tangan terbuka.

__ADS_1


"Ma, cukup jawab iya atau tidak."


Aku menatap putri kecilku yang berfikir dewasa bahkan ketika belum saatnya.


"Papa kandung Zoya dan Bi, benar orang yang sama? Papa Rezki?"


Aku bingung. Aku menatap mas Akhtar. Dan suamiku itu mengangguk. Aku menatap Bi, "I-ya." Aku mengangguk dan tangisku pecah. "Papa kalian orang yang sama!"


Bi langsung memeluk Zoya. "Zoya punya papa, Bi."


"Zoya bisa ketemu papa walaupun cuma ke makamnya." Zoya memangis memeluk Bintang.


"Bi, maaf kalau mama Arum jahat sama kalian."


"Maaf kalau mama Arum ambil papa kamu."


Bintang mengurai pelukan. Bintang menggeleng menatap Zoya. Bintang menunjuk kearahku, tepatnya ke arah mas Akhtar. "Sekarang papaku hanya papa Akhtar. Papa yang Allah kirim karena doaku ketika aku kecil."


Mas Akhtar berjalan mendekat. Keduanya langsung menghambur dalam pelukan mas Akhtar.


"Paaaa..."


"Papa sayang kalian. Berjanjilah, jangan ada yang melakukan ini lagi."


"Papa dan mama adalah rumah kalian."


"Pulang saat kalian sedih, pulang saat kalian bahagia."


"Papa dan mama tetap membuka tangan dan menerima kalian dengan pelukan."


"Jangan ingat masa lalu yang buat mama menangis, uti menangis, oma dan semua orang sedih."


"Kalau sudah dewasa nanti, kalian akan mengerti sendiri hubungan rumit antara mama papa."


"Sekarang, kalian belajar dan bermain. Lihat!" Mas Akhtar mengurai pelukan. Dan menunjuk semua orang yang ada disini. "Ini masih sedikit. Masih banyak lagi orang yang sayang kalian. Buat kami bangga. Peluk semuanya."


Zoya bergerak memeluk tante Hana. Sementara Bi melompat dari tempat tidur dan memeluk bunda.


Bintang dan Zoya saling pandang. Lalu keduanya tertawa.


"Kita gak kompak, Bi!"


"Kita gak kompak, Zoy!"


Keduanya berucap bersamaan dan berhasil membuat kami tertawa.


Bahagialah anak-anak mama.


***


Hai semuanya 😍😍


Aku gak tau nih novel kenapa, tiba-tiba ada bab double yang nongol. kalau gak salah bab 1 sama13. Jadi babnya naik 2 nih 😂 Harusnya ini bab 78 jadi bab 80. Semoga gak mengganggu kenyamanan kalian ya 😊


Oh, ya.. Siapakan hadiah. Setan ganteng mau nikah nih. Eh.. Langit. Maksudku Langit.


[Langit, sorry mas Bro 😆]


Jejak-jejak cinta jangan lupa 😚😚 Komenan mootboster tolong di coret-coret di bawah 👇👇

__ADS_1


Salam sayang dari othor receh yang ngetik sambil nyambi Anak! 😁 [curhat lagiiiii*]


__ADS_2