Aku Dan Bintang

Aku Dan Bintang
The Wedding


__ADS_3

Hari yang di tunggu tunggu dan sangat di nantikan itu akhirnya tiba juga, walaupun hanya keluarga dan kerabat dekat saja yang hadir, dan Safira meminta acara di laksanakan secara sederhana saja, tetap saja acara pernikahan yang di selenggarakan secara sederhana versi keluarga Atmaja, tidak se sederhana yang Safira bayangkan.


Sebuah ruangan ballroom hotel berbintang di sulap menjadi seakan akan sebuah taman out door, dengan bunga bunga dan rumput yang hijau mendominasi, dekorasi di buat menyerupai taman bunga sesungguhnya.


Seperti permintaan Safira, disana tak ada pelaminan, karena sepanjang acara Safira ingin berbaur bersama tamu tamu yang hadir. Sekedar menyapa ataupun berbincang hangat dengan para kerabat dan sahabat.



Tadinya Bintang menginginkan acara di adakan out door, tak peduli walaupun saat ini sedang musim hujan, Alan yang tak ingin ambil resiko pun tak kehabisan ide, dia memaksa pihak WO menyulap sebuah ballroom hotel menjadi layaknya sebuah taman out door yang cantik.


Oh, sungguh beruntung Bintang memiliki Alan yang selalu totalitas dalam mengerjakan berbagai tugasnya.


Bintang tampak begitu gagah dengan balutan jas semi formilnya, dia telah berada di sana dan sedang berbincang dengan beberapa rekan bisnis penting terdekat yang beruntung karena di undang ke acara terpenting dalam hidup seorang Bintang Atmaja, tak semua rekan bisnis di undang, makanya mereka termasuk beruntung mendapatkan undangan dari pengusaha sukses itu.


Sesekali dia melirik ke arah pintu utama, tak sabar menantikan sang pujaan hati yang akan segera menjadi istrinya hari ini, yang belum juga terlihat kehadirannya.



Tak lama, mempelai wanita berjalan memasuki pintu utama mengalihkan perhatian semua tamu yang hadir karena pesona kecantikan Safira terpancar bak bidadari sore itu, Safira mengenakan gaun putih panjang sederhana tapi tetap elegan, dengan buket bunga di genggamannya, walaupun dengan riasan sederhana, tapi benar benar membuat semua yang hadir berdecak kagum akan kecantikan calon menantu satu satunya keluarga Atmaja itu.



Bintang tak sabar, dia langsung menghampiri dan menyambut calon istrinya dengan mengulurkan tangannya, lalu menggandengnya dengan mesra menuju meja di ujung yang di persiapkan khusus untuk tempat upacara pengesahan pernikahan mereka.


Senyum bahagia tak lepas dari bibir sepasang pengantin itu setelah mengikrarkan sumpah janji pernikahan, dan kini mereka telah sah sebagai suami istri secara agama dan hukum negara.


Bintang seakan tak ingin melepaskan Safira sedetikpun, tangannya memeluk erat pinggang Safira, terkadang menggenggam tangannya lalu sesekali menciumnya mesra.


" Sayang, kamu cantik sekali. Rasanya tak percaya kita sekarang sudah menjadi suami istri." Ucap Bintang di sela sela perjalanan berkeliling menemui tamu yang hadir.

__ADS_1


" Apa lagi aku, benar benar tak menyangka, tiba tiba kamu nembak aku, dua hari pacaran, seminggu kemudian pingitan dan sekarang udah nikahan aja, kamu memang selalu di luar dugaan, penuh kejutan." Safira tersenyum mengingat perjalan hubungannya dengan Bintang yang seakan ngebut menuju halal.


" Harus gerak cepat sayang, jangan sampe lolos pokoknya.." Bintang mencubit hidung Safira dengan gemas.


" Duh, yang udah berlabel halal, nyengir terooos, sabar dong abang, acaranya masih belum selesai, ini masih akan berlangsung sampe malem." Goda Dara di dampingi Beni sore itu.


" Itu, kalian belum sah kenapa dempet dempetan udah kaya pisang dempet gitu." Protes Bintang yang melihat adik sepupunya bergelendot manja di tangan Beni kekasihnya.


" Ish,, ya ga papa, orang sama pacarnya sendiri juga." Dara malah semakin mesra memeluk lengan Beni.


" Halalin dulu, kaya abang nih, bebas ngapa ngapain, lagian kasian tuh jomblo akut ntar dia pengen lagi." Bintang memajukan dagunya ke arah Alan yang tepat berada di hadapannya saat itu.


" Kok saya di bawa bawa, sih bos ! lagian tanpa saya si bos juga ga mungkin melaksanakan pernikahan dengan suasana seperti ini, ingat bos, saya banyak berjasa akan terlaksananya pernikahan ini." gerutu Alan yang selalu saja menjadi bulan bulanan bosnya.


" Ingat,,, jasamu itu gak gratis, bayaran dari mengurus pernikahan ini kamu bisa beli tiga rumah mewah tunai sekaligus." cibir Bintang yang memang selalu royal memberi bonus dan bayaran yang tak sedikit jumlahnya untuk setiap pekerjaan di luar kantor untuk para karyawannya, apalagi untuk Alan sang asisten setia kebanggaan Papa wira dan juga Bintang pastilah pundi pundi dengan jumlah fantastis mengalir ke rekeningnya.


" Tapi bayarane seharga tiga rumah mewah, yo sebanding lah Pak.!" Jawab Widodo mesem mesem membayangkan kalau dirinya yang mendapatkan bonus sebesar itu dari bos nya.


Semua tamu yang hadir sangat menikmati acara pernikahan yang hangat dan penuh dengan keakraban tersebut, mempelai yang ramah mendatangi ke meja meja tamu, hidangan makanan mewah, di iringi lagu lagu lembut romantis, sehingga waktu tanpa terasa sudah di penghujung acara, satu persatu tamu undangan berpamitan serelah memberikan do'a dan wejangan pada kedua mempelai, keluarga Bintang pun telah pulang, mereka akan tinggal di rumah elit Bintang untuk beberapa hari selama anak dan mantu kesayangannya menginap di hotel untuk berbulan madu.


Kini hanya tersisa Bintang, Safira, dan Alan tentunya yang belum bisa beristirahat dengan tenang sebelum memastikan tak ada lagi yang bos besarnya perlukan.


" Kenapa kamu masih disini ?" Tanya Bintang saat melihat Alan masih setia mengikuti langkahnya.


" Apa sudah tak ada lagi yang di perlukan dari saya bos ?" Alan menyembunyikan wajah letihnya.


" Sepertinya kamu lelah sekali, bagaimana kalau aku bukakan kamar honeymoon satu lagi untukmu ?" Bintang melihat kelelahan di wajah asistennya walaupun Alan mencoba berusaha tetap tampil prima.


" Ta- tapi kenapa saya di bukakan kamar honeymoon, bos?" Alan tak mengerti maksud bosnya.

__ADS_1


" Tentu saja untuk kamu berbulan madu, untuk apa lagi."


" Bulan madu ? tapi dengan siapa ? bos ini ada ada saja, saking sibuknya, pacar saja saya tak punya." cengir Alan sedikit menyindir Bintang yang selalu memberinya banyak pekerjaan tak kenal waktu.


" Berbulan madu dengan Widodo, tadi aku lihat lihat sepertinya kalian cocok sekali, apa lagi kalian dari daerah yang sama jadi akan lebih cepat akrab !" Bintang tertawa puas melihat Alan yang menekuk wajahnya seketika setelah mendengar apa yang nos nya utarakan.


"Terimakasih bos, atas kebaikannya. Tapi sepertinya saya akan pulang ke rumah bos saja menemani bos Wira yang sedikit lebih berperasaan di banding anda." Alan pergi meninggalkan Bintang yang masih terkekeh melihat asistennya berlalu dengan wajah yang cemberut.


" Sayang, kamu jahat banget sama Pak Alan, kasihan dia." Safira merasa tidak enak hati melihat suaminya menggerjai Alan seperti itu.


" Tenang saja sayang, Alan itu orangnya gak baperan, makanya dia betah bekerja di kantor sampai sepuluh tahun lamanya," Terang Bintang yang memang sudah hapal dengan sifat asisten kesayangan papanya dan dirinya itu.


" Sepuluh tahun ? " Safira terkejut.


" Iya sayang, lima tahun jadi asisten papa, lalu sekarang sudah lima tahun juga menjadi asisten aku, padahal papa lebih kejam memperlakukan dia di banding aku sayang, tapi dia betah betah aja." Bintang dan safira bercengkrama sepanjang perjalanan di lorong hotel menuju kamar mereka.


" Kalian ayah dan anak memang sama sama arogan dan otoriter, aku salut dengan ketegaran dan kesabaran hati Pak Alan mendampingi kalian selama itu." Safira dengan senyum jahilnya.


" Sayang, kamu mengatai aku arogan dan otoriter ? jangan sampai menyesal dan meminta pengampunan pada suamimu yang arogan dan otoriter malam ini, karena aku akan..." belum sempat Bintang menyelesaikan ucapannya Safira telah berlari meninggalkannya.


" Sayang tunggu !" Bintang berlari mengejar Safira.


" Tangkap aku kalau bisa !" Safira tertawa memperlihatkan kunci kamar mereka yang kini berada di tangannya, lalu masuk ke kamar honeymoon mereka dengan meninggalkan Bintang sendiri di lorong hotel.


" Sayang.... buka pintunya ! jangan bercanda seperti ini..." Bintang menggedor pintu kamar dengan wajah yang memelas, sementara Safira tertawa tawa melihat suaminya di balik pintu dengan wajah yang seakan prustasi.


" Hahaha.... Masuk lah sayang, kasihan sekali suami ku ini." Tak lama setelah dirasa puas mengerjai, Safira membuka pintu kamarnya.


" Sayang, kamu nakal sekali, sepertinya kamu harus di hukum." Bintang menyeringai, mendekati Safira menggiringnya hingga merapat ke dinding, lalu mengurungnya dengan kedua tangan yang dia tempelkan di sisi kiri dan kanan istri cantiknya itu, semburat kilatan tatapan matanya seperti menahan sesuatu yang selama ini di dambakannya.

__ADS_1


__ADS_2