Aku Dan Bintang

Aku Dan Bintang
Bab 75 Zoya sayang mama


__ADS_3

Akhtar


Aku, Lintang dan Bintang masuk ke dalam mobil. Sebelum masuk ke sekolah, aku memerintahkan bunda untuk pulang ke rumah. Siapa tahu Zoya akan segera pulang. Sementara mang Joko, ku perintahkan untuk berkeliling mencari ketempat dimana biasanya Zoya singgahi setelah pulang sekolah, seperti perpustakaan umum atau toko buku.


Bintang sudah menangis di kursi belakang. Aku tau dia sangat terpukul. Karena pagi tadi saat aku mengantar mereka. Keduanya lebih banyak diam terlebih Zoya yang lebih sering melamun. "Kita antar Bi ke rumah bunda. Baru kita ke rumahnya," ucapku pada Lintang.


"Bi mau ikut, pa!"


"Tenang Bi. Kamu tunggu Zoya di rumah sama Uti. Bantu buat tenangin Uti karena adik-adik ada di rumah tante Sora." Lintang mencoba memberinya pengertian.


Kami tiba dirumah dan Bintang segera turun. Di perjalanan menuju rumah pria itu kami menghubungi Satya. Kami menceritakan apa yang kami lihat di rekaman cctv itu.


"Kita mau cari kemana, Tar!" Suaranya terdengar panik.


"Kita bisa lapor polisi setelah 24 jam. Karena dari rekaman jelas bukan kasus penculikan," ucapku padanya. Aku juga sangat khawatir. Biar bagaimana pun Zoya juga putriku. Putri yang di amanahkan oleh almarhum papa Bram padaku.


Maafkan Akhtar yang tak bisa menjaga Zoya, pa. Maaf!! Akhtar janji akan menemukannya. Batinku.


"Usahakan Ibu jangan tahu dulu, Tar. Ibu bisa drop dengar kabar Zoya hilang."


"Harus Sat! Mama gak boleh tau soal ini."


"Kak, usahakan Bunga dampingi tante Hana terus. Kita gak tau kalau tiba-tiba Zoya pulang kesana sendiri. Tante Hana pasti akan bertanya-tanya." Lintang benar.


"Kalian urus pria itu. Aku akan cari Zoya dengan berkeliling. Semoga Zoya baik-baik saja."


Panggilan kami akhiri karena kami tiba di rumah yang kami tuju. Rumah pria bertopi yang ditemui Zoya pagi ini. Dialah Ilham Hermawan. Mantan narapidana atas kejahatan yang ia lakukan pada Lintang 6 tahun lalu.


"Permisi, Assalamualaikum." Ucapku di depan gerbang setinggi 2 meter itu. Rumah 3 lantai itu terlihat sepi.


Seorang pria menghampiri kami. Sepertinya ia satpam di rumah ini. "Ada yang bisa di bantu, Pak, Buk?" tanyanya sopan.


"Pak Ilhamnya ada, Pak?" tanyaku.


"Maaf dengan bapak siapa, ya?" Tanyanya padaku.


Aku menatap Lintang, dan dia mengangguk. Inilah yang ku herankan. Kami hanya saling tatap, tapi mengerti apa yang dimaksud.


"Saya, Akhtar dan ini istri saya pak."


"Maaf pak Akhtar, Pak Ilham dan anak-anaknya sudah pindah ke Semarang sejak seminggu lalu, pak."


Jujur, aku sedikit terkejut. Apakah ini hanya alibi? Walaupun wajah Ilham tidak terlihat jelas di cctv, tapi aku dan Lintang yakin bahwa itu adalah dirinya.


"Lalu yang tinggal di rumah ini siapa, pak?"


"Yang tinggal disini adik perempuan Pak Ilham, Buk. Namanya Buk Intan."


"Oh, terima kasih pak."

__ADS_1


Kami pulang dengan penuh rasa kecewa. Tidak ada petunjuk apapun. "Bagaimana ini, Mas."


"Aku juga gak tau, Lin."


Kami memutuskan untuk mengelilingi kota. Berharap menemukan Zoya tengah berjalan di trotoar atau duduk di pinggir jalan.


Hampir jam lima sore, kami masih berkeliling. Hingga kami dan Satya bertemu di salah satu ruas jalan. Kami menepi di sebuah taman kecil.


"Bagaimana Sat?" Tanyaku tak sabar. Aku dan Satya berdiri bersandar pada badan mobil. Sementara Lintang duduk di dalam mobil dengan pintu terbuka.


Satya menggeleng. "Kalian dapat petunjuk?"


"Nihil Sat. Sesuai informasi dari penjaga rumah. Pria itu pindah ke Semarang seminggu lalu." Aku menghela nafas berat. Memandang taman yang cukup sepi.


"Zoya gak di culik kan?" pertanyaan Satya membuatku langsung menoleh kearahnya.


"Aku gak yakin, tapi kita cari dulu Sat."


"Iya, tapi kemana?" Satya kesal. "Kita harus cepat, Tar! Nyawanya bisa saja dalam bahaya!"


"Aku tau Sat! Jangan mengguruiku!" bentakku tanpa sadar. Aku juga khawatir. Tapi aku harus bagaimana?


"Tenang, Mas!" Lintang langsung keluar dari dalam mobil dan menggenggam tanganku.


"Kita sewa detektif swasta!" Ide Satya tidak salah. Dia langsung menghubungi seseorang dan berbicara sedikit menjauh.


Satya kembali setelah lima menit. "Kita keliling lagi. Aku sudah mendatangi beberapa tempat kecuali mall dan... Astaga!" Satya langsung membuka pintu mobil dan menutup dengan kuat.


"Makam Arum!" Satya langsung melesat saat mobilnya sudah menyala.


"Mas, Kak Satya benar!" Ucap Lintang dan kami langsung masuk ke dalam mobil.


Bagaimana kami melupakan ini? Tapi untuk apa Zoya ada disana? Banyak pertanyaan muncul dalam benakku.


Kami tiba di sebuah pemakaman umum. Satya sudah berlari lebih dulu. Aku dan Lintang mengejarnya. Makam Almarhumah Arum memang agak jauh masuk kedalam.


Nafasku dan Lintang sudah tersengal. Namun, Satya berhenti tiba-tiba. Kami hampir saja menubruknya. Dan sosok gadia kecil yang kami lihat membuat kami bernafas lega.


Zoya ada di sana. Duduk bersimpuh di sebelah makam mamanya. Kami berjalan mendekat, tapi isak tangisnya membuat kami berhenti di tempat.


"Ma, ini sudah sore. Sudah... hampir gelap. Zoya harus kemana, ma?" Aku mendengarnya berbicara sambil terisak.


"Zoya malu ma sama mama Lintang, sama Bi."


"Zoya ambil papanya Bi, ma."


Deg! Jantungku terasa berhenti berdetak. Lintang memegang erat tanganku.


"Apa benar ma, papa Bi juga papa Zoya?"

__ADS_1


"Apa karena mama ambil papa Bi, makanya oma, opa sama ayah Satya gak pernah kasih tau siapa papa Zoya?" Dia terisak lagi. Memeluk makam penuh rumput itu.


"Kalau iya, berarti benar kata om itu, ma!"


Om?


"Mama sama papa Bi meninggal ditanggal yang sama."


"Zoya udah ke kuburan papa Bintang, Ma. Pantas aja oma Citra sama opa Darma juga sayang sama Zoya."


"Karena Zoya juga cucunya."


Lintang terduduk lemas. Aku langsung berjongkok memeluknya. Satya juga sama, pria itu duduk berlutut dengan air mata yang sudah mengalir deras.


Saat ini sudah datang. Terlalu cepat dari yang ku kira.


Zoya bahkan sudah ke makam almarhum Rezki. Ini berarti seharian ini ia tidak berdiam diri disini. Dia bingung harus mencari kebenaran kemana disaat kami semua telah menutupi kebenaran darinya.


"Ma, kenapa harus papa Bi yang jadi papanya Zoya, Ma?"


"Om itu benar. Mama pelakor! Mama jahat, ma! Dan Zoya anaknya perempuan jahat!" Zoya memukul-mukul tanah makam yang diselimuti rumput itu.


"Tapi Zoya sayang mama. Meskipun cuma dari cerita oma sama almarhum opa Zoya kenal sama mama."


"Lewat ayah Satya!" Bahu Satya berguncang. Dia menangis.


"Mama cantik, baik dan mirip Zoya." Zoya menyeka air matanya.


"Tapi kenapa mama jahat?"


"Mama tahu? Sekarang mama Lintang, mamanya Zoya. Bintang saudaranya Zoya."


"Mereka baik, ma!"


"Mereka sayang Zoya."


"Kenapa semua orang gak ada yang kasih tau Zoya, ma?"


"Apa Bi juga gak tau soal ini?"


Zoya menatap ke atas. "Sudah gelap, ma. Zoya pulang dulu. Tapi Zoya mau kemana, ma."


Pulang ke rumah, Nak. Papa mama menunggu kamu, sayang.


"Zoya lapar, ma." Suaranya semakin lemah.


Zoya, pulang yuk. Papa akan suruh mama Lintang masak buat Zoya. Mama pasti senang, Nak.


Lintang sudah terisak dalam pelukanku. "Pulang ke rumah, Nak. Kami adalah rumah kamu. Rumah Zoya." bisiknya dalam pelukanku. Hatiku kembali teriris.

__ADS_1


Zoya berdiri dan bruukk! Tubuhnya ambruk tergeletak di tanah. Zoya pingsan.


__ADS_2