Aku Dan Bintang

Aku Dan Bintang
Bab 67 Bukan kakak, tapi kita


__ADS_3

Satya


Sepulang dari liburan di pulau Tidung, esoknya aku mengutarakan niatku untuk melamar Bunga pada Ibu.


Aku mengikutinya yang sedang berjalan santai mengelilingi kompleks. Kaki lelahnya melangkah memasuki halaman rumah setelah kami berkeliling selama dua puluh menit.


Kami duduk di kursi taman. Aku menggenggam tangannya. "Bu, Satya mencintai seorang gadis dan berniat menikahinya."'


Wanita paruhbaya itu tersenyum. "Siapa gadis beruntung itu." Ibu menyentuh pipiku. "Siapa gadis yang bisa mengambil hati putra ibu?"


Aku tersenyum. "Bunga." Aku berkata dengan yakin.


"Bu-bunga?" Entah mengapa ibu tergagap. Wajahnya merubah muram.


Aku mengangguk lemah.


"Bunga putri Darma dan Citra?" Aku mengangguk.


Ibu berdiri. "Jangan dia, Sat. Jangan. Cari siapapun wanita itu, asal jangan dia." Ibu pergi meninggalkan aku yang masih kebingungan dengan situasi ini. Ibu yang kukira akan selalu mendukungku. Harapan terbesarku. Justru malah yang menjadi penghalang hubunganku dengan Bunga.


Haruskah aku memilih antara Ibu dan Bunga?


Tidak. Memilih antara keduanya sangat tidak mungkin. Itu sama saja memilih sayap mana yang harus ku patahkan. Aku tidak bisa.


Ibu, sosok malaikat yang bersedia memungutku dari panti asuhan. Sosok yang berlaku adil. Tak pernah membedakan antara aku dan Arum.


Ibu bahkan tak memaksaku segera menikah. Dia malah menjodohkan Arum dan Akhtar saat Ibu dan ayah menginginkan hadirnya seorang cucu. Apa karena dalam tubuhku tak mengalir darah ayah? Hingga mereka tak mengharapkan cucu dariku?


Aku merasa kalut. Bingung harus mengatakan apa pada Bunga. Dan harus dengan cara apa membujuk ibu. Ibu bahkan tak memberi alasan mengapa aku tak boleh menikahi Bunga.


Sorenya aku menemui Bunga. Aku belum sanggup mengatakan masalah ini padanya. Aku berusaha sebisaku menyembunyikan ini darinya sampai saat yang tepat akan ku ceritakan semuanya.


Sabtu ini aku langsung terbang ke Surabaya. Langsung bertemu Akhtar di Arumi Resto. Aku sengaja menyuruhnya datang, karena aku akan memperkenalkannya sebagai pengganti ayah. Aku akan melepas satu persatu tanggung jawabku.


Aku bahkan akan melepas warisan yang ayah beri jika ibu memintaku untuk mengembalikan semunya sebagai syarat agar aku bisa melanjutkan hubunganku dengan Bunga.


Bukan bermaksud durhaka atau tak tau berterima kasih. Tapi aku tak yakin akan bahagia jika tak bersama Bunga. Aku tak lagi bisa memandang wanita lain dengan cinta.


Semoga, jika aku jatuh miskin Bunga masih mau menerimaku.


Aku menceritakan masalah ku pada Akhtar. "Mama Hana pasti punya alasan, Sat."


"Iya, tapi apa Tar?"


"Yakinkan mama bahwa Bunga yang terbaik. Katakan pada mama bahwa hubungan kalian dimulai bahkan sebelum tragedi Rezki dan Arum."


"Akan ku coba, Tar. Aku titip ibu dan Zoya jika suatu saat ibu tak lagi menganggapku sebagai putranya."

__ADS_1


"Maaf, aku gak mau!"


"Tar, please!" aku memohon.


"Jangan lembek, Sat!! Mama tetap tanggung jawabmu!" bentaknya.


"Tar, aku tak yakin."


"Maka yakinkan mama. Berusahalah Sat!" Dia menepuk bahuku.


"Lintang pasti akan membantu kalian. Bunga adik kesayangannya."


"Zoya kita pasti akan ikut membantu."


"Zoya kita?" tanyaku.


"Ya, anugrah yang Arum tinggalkan untuk kita. Percayalah, dia penyatu. Bahkan untuk semua yang terpisah."


"Dia penghubung keluarga om Darma dan papa Bram. Dia penghubung keluarga kalian dan Lintang. Dia penghubung antara kamu dan Bunga."


Aku terdiam. Dia benar. Kami terhubung karena Zoya. Apa aku harus melibatkan Zoya saat berbicara pada Ibu?


"Jadi, maksudmu aku harus memanfaatkan Zoya untuk memohon pada ibu."


"Ck." Dia berdecak. "Pusing boleh, Sat! B*go jangan!"


Idenya boleh juga.


Saat mendarat di Jakarta, aku langsung ikut ke rumah Akhtar. Ibu mengabariku kalau beliau membawa anak-anak jalan-jalan. Aku akan pulang bersama ibu, nanti.


Sesampainya disana, aku terkejut dengan keberadaan Bunga di rumah Lintang. Gadis yang menatapku datar tanpa ekspresi. Mungkin karena komunikasi kami yang tak lancar seminggu ini. Meskipun aku selalu mengirim pesan singkat padanya.


Padahal saat ini aku sangat merindukannya. Ingin berlari merengkuhnya. Tapi sepertinya otakku masih waras. Akhirnya aku memberanikan diri untuk mengajaknya berbicara. "Na, kita bicara sebentar!"


****


Bunga


Kak Satya mengikutiku yang berjalan kearah gazebo yang letaknya dekat kolam renang.


Kak Satya mencekal tanganku, mengenggam pergelangan tanganku dengan erat. Dia menarikku hingga aku membentur tubuhnya. Dia langsung mendekapku. Aku bisa leluasa menghirup aroma parfum yang menempel di kemeja yang ia pakai.


Kami saling diam, menikmati momen dan mengurai rindu yang terasa menyesakkan dada. "Apapun yang terjadi, jangan pernah pergi lagi, Na." ucapnya mengelus rambutku Rambut hitam lurus yang panjangnya melewati bahu.


"Aku akan melakukan apapun untukmu, untuk hubungan ini, dan untuk masa depan kita," ucapnya lagi.


Aku berusaha mengurai pelukan, namun dekapannya begitu erat. Ada apa kak? Kamu kenapa?

__ADS_1


"Berjanjilah satu hal," ucapnya lirih.


"Kak..." Aku melihat ke atas. Hidungku bahkan menyentuh dagunya.


Dia menyatukan kening kami. "Berjanjilah, Na. Tunggu aku sebentar lagi. Sebentar... hanya sebentar, Na."


Sebenarnya ada apa kak? Mengapa kamu gelisah begini?


"Kak... Katakan kak, ada apa?"


"Aku akan menunggu sampai kapanpun kak. Seperti kakak yang selalu menungguku."


Kak Satya menatapku sekarang, mata indah itu basah. Bahkan setitik air mata menetes diujung matanya. Aku menghapusnya dengan jemariku.


"Meskipun aku menjadi pria miskin?"


Aku bingung kemana arah pembicaraannya. Namun aku tetap mengangguk mantap.


"Kamu mau menemaniku dari nol?"


Aku mengangguk.


"Terima kasih, Na." Dia menggenggam kedua tanganku. "Aku mencintaimu, sungguh!"


Dia selalu mengatakan itu ujung-ujungnya. "Kak! Katakan ada apa!" Bentakku. Kesabaranku habis sudah.


Dia terkejut dan tampak kebingungan. "Ibu. Ibu, Na."


"Kenapa tante Hana, Kak?"


"Ibu tidak menyetujui hubungan kita!"


Duuuaaarrrrr!!!!!!!


Aku menutup mulut tak percaya. Aku mundur selangkah. Ini terlalu berat. Tante Hana adalah ibunya. Dan kami tak mungkin bersama tanpa restunya.


"Na, dengar dulu. Aku akan berusaha meyakinkan ibu." Dia berusaha meraih tanganku. Namun aku menghindar.


Aku mundur selangkah lagi. Bayangan tante Hana yang selalu ramah melintas di otakku. Tante Hana tak pernah marah, tak pernah menunjukkan sikap tak suka padaku. Lalu mengapa dia tak memberi restu?


Aku harus menemui tante Hana! Aku tak bisa membuat kak Satya seolah berada di tepi jurang. Aku tau dia ingin bersamaku, tapi dia juga tak mungkin melawan ibunya.


Kita akan berjuang, kak. Cinta kita sudah menunggu terlalu lama untuk bersatu.


Riuh suara Bintang dan Zoya terdengar samar. Mereka sudah pulang?


Aku berjalan meninggalkan kak Satya. "Na... tunggu sebentar saja. Aku akan meyakinkan ibu."

__ADS_1


"Bukan kakak, tapi kita."


__ADS_2