
Semenjak kejadian ayam bakar semalam, Bintang seakan mengabaikan Safira.
Ini terhitung hari kedua Bintang bersikap acuh tak acuh pada Safira baik itu di rumah maupun di kantor.
Safira memang merasa sikap Bintang jadi agak berbeda padanya, tapi dia tak mau ambil pusing dengan bos anehnya itu, dia merasa tak berbuat salah pada Bintang, jadi biarin aja, pikirnya.
" Pak Widodo, ayo kita makan siang di kantin !" Ajak Safira siang itu yang memang sudah masuk jam istirahat.
Widodo sejak pagi di panggil Bintang ke ruangannya untuk membantu dia memeriksa beberapa berkas, sudah dua hari ini tugas tugas yang biasanya di kerjakan Safira, Bintang sengaja mengalihkannya ke Widodo. Dia masih kesal karena melihat Safira di antar oulang Wisnu malam itu, tapi dia gengsi untuk bertanya kejadian yang sebenarnya seperti apa.
Safira yang bebal malah merasa senang senang aja, merasa pekerjaannya semakin ringan, tak sedikitpun terbersit bertanya pada Bintang apa alasan dia mendiamkannya terus menerus.
" Emh... Mbak Safira duluan saja, pekerjaan saya masih banyak ini." Jawab Widodo, sambil melirik ke arah Bintang yang duduk di hadapannya, sepertinya dia tak tertarik dengan obrolan dua orang di hadapannya.
" Baiklah, selamat bekerja !" Pekik Safira meninggalkan ruangan bosnya begitu saja tanpa melirik, apa lagi pamit pada Bintang, sang bos.
Safira tadinya berniat makan di kantin kantor, tapi karena begitu sampai disana terlalu banyak orang, apa lagi di tambah tatapan beberapa karyawan wanita yang tidak bersahabat padanya, Safira memilih untuk mengurungkan niatnya, dia lebih memilih makan di luar kantor.
Safira berjalan ke rumah makan padang yang berada tak jauh dari kantornya.
Di tengah asik menikmati makan siangnya, seseorang tiba tiba menghampirinya.
" Wah,,, wah,,, kebetulan sekali kita ketemu disini, dengar ya,,,! Aku ingatkan padamu sekali lagi, dan mungkin ini yang terakhir kalinya, JANGAN PERNAH MENGGODA SUAMIKU ! " Wanita yang tengah hamil besar itu datang ke mejanya tanpa permisi dan langsung memaki dirinya.
" Maaf Nyonya, anda mungkin salah orang, kita tidak saling mengenal !" Safira masih melanjutkan makannya, seperti tak terganggu sedikitpun dengan teriakan Mia.
" Dasar janda gatel, jangan pikir aku gak tau ya, kalian masih sering bertemu di belakangku," Mia semakin menjadi melihat Safira yang masih anteng tak terpancing emosi sedikitpun.
Rumah makan sedang ramai karena jam makan siang, beberapa pembeli yang ada disana mulai berbisik bisik dan menonton pertunjukan drama yang Mia mainkan.
" Mia ! apa yang kamu lakukan? selalu bikin malu dimana saja, !" Wisnu yang baru masuk kesana karena melihat istri sirinya sedang membuat keonaran langsung menghampirinya.
" Terus aja bela wanita mandul itu Mas ! Hei,, kamu ! janda gatel, pantas saja dia meninggalkanmu karena kamu mandul, lihat aku, sebentar lagi aku akan melahirkan anaknya, jadi jangan ganggu kebahagiaan keluarga kecil kami !" Mia menunjuk nunjuk wajah Safira penuh emosi.
" Pak, tolong bawa pergi istri anda yang gila ini, kelakuannya sungguh murahan dan menjijikan !" Ucap Safira datar pada Wisnu, seraya berdiri meninggalkan suami istri yang menurutnya sudah sangat mengganggunya itu.
Tanpa di duga Wisnu malah meninggalkan Mia dan mengejar Safira yang berjalan ke arah pintu keluar.
" Fira, maafkan aku, aku--" Wisnu berusaha meraih tangan Safira, tapi Safira menepisnya.
__ADS_1
" Cukup Wisnu, jangan ganggu hidup aku lagi,puas kamu, aku di hina di depan banyak orang, ha ?" Safira segera berjalan meninggalkan Wisnu yang menatapnya dalam.
Kilatan amarah semakin membara di mata Mia melihat suaminya lebih memilih Safira di banding dirinya.
***
Safira masuk kembali ke ruangan Bintang, ruangan itu kosong, tak nampak bos arogannya di sana.
Tak lama pintu ruangan di ketuk dari luar, setelah Safira persilahkan masuk, ternyata Widodo yang datang membawa beberapa tumpukan kertas.
" Pak Bintang kemana ya?" Tanya Safira pada Widodo, penasaran tentang keberadaan bosnya. Ruangan ini terasa kurang tanpa ada Bintang, walaupun dia sedang di abaikan.
" Lha,, tadi begitu Mbak Safira keluar makan siang, tak lama dari itu Pak Bos juga ikut keluar." Jawab Widodo.
" Mbak Safira sama Pak Bos lagi marahan ya?" Sambung Widoddo yang merasa interaksi Bos besar dan asisten prbadinya itu seperti tak biasanya,
" Haish.... Pak Widodo ini, mana berani saya marah sama si bos, yang benar tuh, Pak Bos lagi kumat marah marahnya, kayaknya si bos lagi PMS deh,!" Safira dan Widodo tertawa bersama sama.
" Ada yang lucu ? apa pekerjaan kalian kurang? masih sempat ketawa ketawa !" Suara bariton itu tiba tiba menggema di ruangan, Sontak saja Widodo terdiam ketakutan.
Beda halnya dengan Safira yang hanya merotasi bola matanya malas.
Bintang memasang wajah menyeramkannya, dingin dengan sorot mata tajam. Suasana hatinya berada di puncak emosi yang sangat membara.
Selepas Safira meninggalkan ruangannya untuk makan siang tadi, tak lama dari itu Bintang juga keluar mengikuti langkah asisten pribadinya itu, bukan apa apa, dia merasa trauma harus membiarkan Safira pergi ke kantin untuk makan siang sendirian untuk pertama kalinya, takut kejadian dulu di kantor pusat terjadi lagi, Safira di bully oleh Mira, meski Safira melawan dan menang telak.
Tapi saat dia mengikuti Safira masuk ke rumah makan padang dan ingin menemani Safira makan siang, tiba tiba terjadilah kekacauan yang Mia ciptakan itu,
jangan ditanya bagaimana perasaan Bintang saat itu, dia sungguh ingin memeluk dan membela Safira yang sedang di hina oleh Mia, tapi saat melihat ketenangan Safira, dia hanya melihat dan memperhatikannya saja dari kejauhan, dia pun semakin terpukau melihat ketangguhan Safira yang sangat luar biasa.
" Safira,, temani saya bertemu klien nanti malam.!" Titah Bintang,
" Baik Pak, !" Angguk Safira tanpa bantahan.
" Kamu boleh pulang cepat, dan bersiap siap untuk nanti malam, saya akan jemput kamu jam 8 nanti." Nada bicara Bintang sudah tak begitu ketus.
Oh iya, Widodo dan karyawan lainnya tak ada yang tau kalau Bintang dan Safira tinggal di rumah yang sama.
" Saya boleh pulang cepat bos?" Seru Safira kegirangan.
__ADS_1
" Ya, dan ini untuk kamu pakai nanti malam." Bintang menyodorkan satu buah paper bag ke hadapan Safira, entah kapan dia menyiapkan itu.
Safira mengambilnya, walau agak bingung dengan perubahan sikap Bintang yang sekarang tiba tiba tidak mengabaikannya lagi.
Widodo yang ada di ruangan itu serasa ingin menghilang saja, dia yang sedang bergelut dengan lembaran kertas yang menumpuk itu seolah dianggap tak ada oleh bos dan asisten pribadinya itu.
Pasangan aneh itu sebentar marahan sebentar baikan, batin Widodo.
***
Malam itu Safira sudah siap dengan gaun yang Bintang berikan padanya tadi siang di kantor, gaun berwana hitam elegan, dandanan juga sudah oke, tinggal nunggu Bintang yang belum juga keluar dari kamarnya,
saat Safira naik untuk mengambil tas nya yang tertinggal di kamar, tak sengaja dia melihat Bintang sedang menatapnya yang sedang menaiki tangga, Safira merasa salah tingkah di perhatikan Bintang yang masih berdiri mematung menatapnya di depan tangga.
" Kamu cantik sekali, Safira." Guman Bintang saat Safira berjalan di depannya,
" Udah gak bete lagi nih ceritanya sama aku?" Ledek Safira mencairkan suasana, tanpa disadari dia pun memuji ketampanan Bintang malam ini, sungguh baru dia sadari kalau bosnya itu memanglah tampan, malam ini Bintang membuat dia terpana.
" Siapa yang bete sama kamu?" Bintang mengelak tuduhan Safira.
" Cih,,, pura pura lupa dia, nyuekin aku beberapa hari ini." Safira mengambil tasnya, lalu bergegas turun mengejar Bintang yang sudah duluan menunggunya di bawah.
" Kamu sebenernya kenapa, marah sama aku dua hari ini?" Tanya Safira memecah kesunyian di dalam mobil yang di kendarai Bintang.
" Aku ? marah ? kapan ?" Pertanyaan Safira balik di jawab dengan pertanyaan juga.
" Ih,, amnesia, pikun, apa berkepribadian ganda sih nih orang." Safira kesal.
" Aku gak marah, cuma sebel, kecewa sama kamu yang masih aja berhubungan sama mantan suami kamu yang jahat itu.!"
" Emang kenapa? terus kenapa juga kamu mesti sebel atau kecewa segala rupa?" Heran Safira.
" Wajar lah, aku calon suamimu !" Sewot Bintang.
" Hallooo... calon suami bohongan bos, jangan terlalu di bawa serius kalee, Anda terlalu menghayati peran Pak !" Cibir Safira yang tak habis pikir dengan jalan pikiran bosnya itu.
__ADS_1