
Bunga
Kami tiba di rumah kak Lintang, dan anak-anak sudah siap bahkan mereka menunggu di teras sangking tak sabarnya.
"Yeee... uncle datang!" Mereka langsung berlari ke arah mobil begitu mobil terparkir di halaman rumah.
"Tante Unaaaaa." Anak-anak langsung memeluk pahaku begitu aku turun.
"Are you ready princesses?" tanyaku.
"Ready!!! teriak mereka.
"Pamit mama dulu, yuk!" Aku dan Kak Satya masuk ke dalam. Kak Lintang tengah duduk di ruang keluarga bersama si kembar dan mbak Dini.
"Kak, pergi dulu." Aku menyalami tangannya.
"Titip anak-anak ya, Na."
"Kalian jangan nakal, jangan buat tante Una dan uncle Satya kerepotan."
"Siaaap mama!"
Kak Rezki, lihatlah kedua putrimu yang kompak ini.
Sejenak aku teringat kakak kandungku. Dia jahat memang jahat, telah menghadirkan Zoya. Tapi siapa sangka Zoya justru membawa kebahagiaan. Terutama pada keluarga kami dan keluarga tante Hana.
Benar kata kak Lintang, Zoya adalah anugrah yang hadir karena cinta namun dengan cara yang salah.
Zoya juga secara tak langsung menjadi penghubung antara aku dan Kak Satya. Dia lah yang membuat kami dan keluarga masih berhubungan. Kami berusaha menjadikan hidupnya ramai meski tanpa sosok papa dan mama.
Dan kami bersyukur karena Zoya merasa bahagia hidup di keluarga ini. Sampai kedua orang tuaku dan Om Bram serta tante Hana berdiskusi agar kak Akhtar dan Kak Lintang mengadopsinya secara resmi. Dan aku orang paling setuju dengan keputusan ini.
"Pergi dulu, Lin."
"Hati-hati kak. Maaf merepotkan kalian."
"It's oke, Lin."
Kami berangkat ke salah satu mall, dimana ada aquarium raksasa yang dimaksud Zoya. Kami membeli tiket.
Sebelum masuk kedalam, kami foto berempat. Aku dan kak Satya berdiri di belakang Zoya dan Bintang yang berpose mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah membentuk huruf v.
Keduanya sangat antusias melihat ikan-ikan kecil berenang di balik kaca. "Itu Dori! Teman Nemo!" Bintang menunjuk ikan berwarna biru.
Mereka berjalan kesana-kesini sementara aku dan kak Satya berjalan di belakang mereka. Seorang ibu menyapa kami. "Anak kembarnya lucu sekali, mbak." Aku tersenyum canggung.
Lalu menatap Kak Satya yang tersenyum penuh arti. Dan menatap kedua bocah yang katanya kembar. Ternyata keduanya sedang menatap ku juga.
Mereka terus berjalan, tapi saling bisik. Aku mengerutkan kening. "Kalian ngomongin apa?" Aku berjongkok menyamai tinggi mereka.
__ADS_1
Keduanya memeluk dan mengecup pipiku. "Sayang bunda Una." Ucap keduanya kompak. Kata-kata sederhana yang menggetarkan hatiku. Dadaku bergemuruh, perasaan hangat menyelimuti kalbu. Air mata mendobrak paksa menuruni pipiku.
Bunda? Kenapa begitu terdengar istimewa.
Aku menatap Kak Satya yang berdiri di belakangku. Pria itu juga ikut berjongkok di sebelahku. Dia mengelus kepala Zoya dan Bintang bergantian.
"Ayah." Keduanya beralih memeluk kak Satya.
Tuhan, siapa yang mengajari mereka bertingkah semanis ini?
Kak Satya membelalakkan mata tak percaya dengan apa yang ia dengar. Ia memeluk erat keduanya. Untung kami berada di tempat yang agak sepi dan tak terlalu banyak orang lewat.
"Siapa yang ajarin, sayang?" tanyaku pada keduanya.
"Mama!" Jawab mereka kompak.
"Mama?" Aku dan kak Satya mengulang ucapan mereka dengan penuh tanda tanya. Kami saling pandang.
Keduanya mengangguk. Ya Allah, kak Lintang??
Kami kembali berkeliling. Mengikuti kemana kaki mereka melangkah. Mereka menunjuk apapun yang mereka lihat. Terkadang sesekali mereka berdebat.
"Ikan pari."
"Baby shark."
"Hiu Zoy," ralat Bintang.
"Landak laut atau biasa disebut bulu babi." Jawab kak Satya.
Bintang dan Zoya cekikikan, mungkin lucu mendengar nama itu.
"Patrick star." Zoya kembali menunjuk ke dinding kaca.
"Bintang laut."
"Kembaran kamu, Bi!"
"Hihihi... Aku Bintang manusia."
"Bukan. Kamu Bintang bumi. Itu bintang laut. Kalau malam bintang langit."
Bintang diam sejenak, dia seperti tengah berfikir. "Aku juga bintang langit, Zoy. Bintangnya om Langit. Yeeee." Teriakan Bintang mengundang perhatian orang lain.
Zoya terlihat bingung. Namun segera menutup mulut Bintang dengan tangannya. "Gak boleh berisik, Bi."
Aku dan kak Satya ikut tertawa. Mereka berdua sangat menggemaskan.
Kami makan siang bersama. Semua menu sudah ludes berpindah ke perut kami.
__ADS_1
"Uncle Satya mau tanya sama kalian."
"No Uncle. Ayah!" Itu perintah Zoya.
"Yes Ayah. Kita punya papa dan ayah, Zoy!" Bintang berbinar. Dan keduanya berteriak kegirangan.
"Oke... oke..." Kak Satya melipat tangan di meja, sedikit menunduk saat berbicara dengan keduanya. "Kenapa mama suruh kalian panggil ayah sama bunda ke uncle dan tante una?"
Zoya dan Bintang diam sejenak. Mereka memiringkan kepala, menatap ke atas. Ciri khas orang yang tengah berfikir keras. Jangan lupa telunjuk yang mengetuk-ngetuk dagu itu.
"Ayo jawab pertanyaan ayah. Jangan bohong ya, bunda Una gak suka." Ucapku penuh kelembutan. Aku terkekeh dalam hati. Panggilan Bunda Una terdengar manis.
"Zoya yang minta!" Bintang menunjuk Zoya.
"Bintang yang mau!" Zoya menunjuk Bintang.
Keduanya tertawa menutup mulut mereka. Kak Lintang, lihat putri-putrimu kak. Sungguh menggemaskan! Ingin ku gigit pipi bakpao mereka.
"Jadi, yang mana yang benar." Kak Satya memiringkan kepala sambil tersenyum.
Interaksinya dengan keponakan kami membuatku membayangkan bagaimana jika kami punya anak suatu saat nanti. Dia pasti akan menjadi ayah yang tampan dan penuh kasih sayang. Ah, membayangkannya saja sudah membahagiakan.
"Ck." Bintang berdecak. Jangan bergaya sok dewasa, Bi!
"Mama kan punya ayah sama bunda," ucap Zoya.
"Iya..." Kak Satya mengangguk.
"Mama juga punya mama sama papa," ucap Bintang.
Aku mengangguk. Mungkin maksudnya mama dan papaku. Atau mungkin mama papa kak Akhtar.
"Kita juga mau punya mama papa. Ayah sama bunda." Zoya dan Bintang cekikikan berdua.
"Terus mama bolehin panggil tante Una sama uncle Satya, ayah sama bunda," ucap Zoya.
"Aku memeluk keduanya menurunkan mereka dari kursi."
"Oke, kalau gitu kita beli hadiah untuk kesayangan bunda Una sama ayah Satya."
"Horeee."
"Cat lukis."
"Kostum marmaid."
"Semua yang kalian mau. Ayah yang bayar." Aku mengerling ke arah kak Satya.
Pria itu langsung tertawa. "Tetep ya, bundanya gak mau rugi."
__ADS_1
"Yes, karena kesejahteraan keluarga tanggung jawab ayah." Aku segera berlalu menggandeng keduanya. Aku merasa bagai hot mommy dengan dua anak dan suami tampan di belakang sana.
Ini memang impianku suatu saat nanti. Jujur, aku tak ingin seperti mama yang sibuk bekerja setelah memiliki anak. Aku ingin menikmati hidupku bersama keluarga kecilku kelak. Memasak untuk suami. Mengantarnya pergi bekerja hingga ke teras rumah. Dan menyambutnya pulang dengan senyum melengkung. Serta menghabiskan setiap rupiah iya beri dari hasil keringatnya. Kak, semoga bersamamu, semua itu menjadi nyata.