
Lintang
Tiga bulan berlalu.
Aku menantap nanar rintikan hujan yang sedari sore turun ke bumi. Aku hanya mematung di depan kaca jendela di lantai dua rumah mama Riana. Mata sembab dan hidung memerah bahkan sudah tak ku pedulikan lagi.
Sudah entah berapa banyak air mata yang mengalir deras di pipiku. Kejadian secara tiba-tiba sore tadi membuat duniaku terasa jungkir balik. Memisahkanku dengan sang belahan jiwa. Membawanya secara paksa bahkan tanpa bisa aku memeluknya terlebih dahulu. Aku merindukanmu, Mas.
Ku elus perut besarku yang sedari tadi sudah terasa bergerak-gerak akibat ulah janin kembar di dalamnya. Sepertinya mereka juga merasakan kegelisahan dan kesedihan yang kurasa.
Selama tiga bulan ini, banyak hal sudah kami lalui. Berawal dari datangnya om Bram dan tante Hana ke rumah kami.
"Tolong adopsi Zoya Lin, Tar. Angkat dia sebagai anak kalian." Tante Hana memohon pada kami. Membuatku dan mas Akhtar hanya bisa saling pandang
"Zoya anak kami Ma, dia sama seperti Bintang." Ucap mas Akhtar meyakinkan mereka bahwa tak ada yang berbeda dengan perlakuan kami terhadap Bintang dan Zoya.
"Jadikan dia anak kalian yang sah di mata hukum melalui tetapan pengadilan Tar." Om Bram memohon. "Dia butuh perlindungan setelah kami tiada. Kami menitipkan Zoya pada kalian. Hanya kalian yang kami percaya," lanjutnya.
Dan akhirnya kami menyetujui permintaan om Bram untuk mengangkat Zoya sebagai anak kami. Proses demi proses kami lewati hingga sebulan lalu Zoya sah menjadi anak kami.
Lalu setelahnya, beberapa kali ada yang meneror rumah kami. Mulai surat kaleng yang dilempar dan mengenai kaca jendela kamar. Hingga orang asing yang berusaha menjemput anak-anak di sekolah.
Tak tau siapa dalang dibalik ini semua. Tapi kami sudah melaporkannya pada pihak berwajib.
Mas Akhtar sampai mempekerjakan satpam untuk berjaga 24 jam. Aku dan anak-anak juga harus diantar kemana pun kami pergi.
Aku kembali menghapus air mataku. Jilbab instan yang ku pakai sudah basah. Namun, aku tak berniat menggantinya.
Ku ambil foto suamiku di nakas, fotonya dengan toga dan senyumnya mengembang sempurna. Ku usap permukaan kaca bingkai itu. Dan berhasil membangkitkan kenangan bersamanya.
"Aku sudah menyiapkan nama untuk anak kita. Kamu bisa pilih sayang. El Nath, Aldebaran, Adara, Bellatrix, Shaula, Alhena, Izar, Ankaa, atau Aludra." Mas Akhtar menulis nama-nama itu di kertas kosong.
Aku memandang tulisan itu, "namanya kok aneh ya Mas?"
"Itu adalah beberapa nama dari 96 nama bintang yang paling terang yang bisa diamati dari bumi dengan mata telanjang, Lin."
Air mata kembali menetes. Mas, cepat kembali. Aku dan anak-anak membutuhkanmu.
Cekleek...
__ADS_1
Suara pintu dibuka, aku menoleh dan ternyata Sora yang masuk. Aku kembali memandang kearah jendela. "Kak, ayo makan dulu." Sora berjalan mendekat. "Kasian si kembar kak. Fikirkan mereka." Sora mengelus perutku.
Aku menatapnya. Wajahnya tampak pucat dengan mata yang juga sembab. "Ra...." Aku kembali menangis dalam pelukannya. Menumpahkan segala kesedihan.
"Sora juga sedih kak. Semua sedang berusaha kak. Kakak makan ya, kasian kak Akhtar pasti selalu kepikiran kakak." Sora mengelus punggungku.
Demi anak-anak dan kamu, aku harus kuat, Mas. Aku harus sabar dan pasti kita bisa melewati ini bersama.
Akhirnya aku makan di dalam kamar. Sora menyuapiku. "Kakak jangan sedih, Langit, Om Reza, Papa, dan semuanya sedang berusaha kak. Kakak harus kuat disini. Kita berdoa ya kak. Bintang dan Zoya juga butuh kakak."
Aku kembali menyeka air mata. "Bunda sudah pulang Ra?"
"Belum kak. Bunda dan mama sedang menenangkan anak-anak. Bintang sedari tadi menangis kak. Terlebih lagi Zoya. Tante Citra juga masih disini."
"Kakak istirahat ya, sudah jam sembilan malam kak. Atau mau ditemani siapa kak?" Tanya Sora.
Aku cuma butuh suami ku Sora. Aku butuh dia. Aku butuh kakakmu. Batinku menangis.
"Bawa anak-anak kesini ya Ra. Aku mau tidur bersama mereka."
***
Setelah menggantikan gamis hitam dan hijab yang dipakai kak Lintang sore tadi. Aku kembali turun ke bawah untuk melihat keadaan. Mama menangis dalam diam, bunda kak Lintang sibuk menenangkan anak-anak bersama tante Citra.
Aku berkali-kali memeriksa keadaan kak Lintang yang tak pernah mengalihkan pandangan dari kaca jendela. Entah ada hal menarik apa disana. Pandangan kosong dan air mata yang tak ada habisnya menggambarkan luka mendalam yang tengah ia rasa.
Sweeter besar milik kak Akhtar melekat di tubuhnya menghalau suhu dingin. Sepertinya semesta juga berduka bersama kami. Karena hujan tak kunjung reda sedari sore tadi.
Aku bersyukur ada wanita yang mencintaimu sebesar ini, kak. Namun, mengapa jalan kalian begitu berliku. Membuat kak Akhtar harus terdorong ke jurang terdalam. Kak, cepatlah kembali. Kakak iparku membutuhkanmu.
Tante Lena sudah berkali-kali membujuk kak Lintang untuk makan. Namun tak juga berhasil. Wanita yang tengah mengadung enam bulan itu selalu menolak.
Ku elus perut besarnya dan kubujuk dia sebisaku. Mata itu tak pernah kering. Diseka, tapi menetes lagi. Ia seka lagi, dan menetes lagi. Bahkan dalam pelukanku dia kembali terisak.
Ya Allah, segera berlalulah badai besar ini.
Aku memang menyuapinya, tapi juga meneteskan air mata bersamanya. Hanya beberapa suapan, tapi lumayan untuk mengisi perut kosongnya. Aku menyuruhnya istirahat. Kak Lintang kini tengah duduk di tepi ranjang.
"Bawa anak-anak kesini Ra, aku ingin tidur bersama mereka." Ucapnya padaku.
__ADS_1
Pintu dibuka.
Langit, dan Om Reza masuk disusul dengan yang lainnya. Orang yang sedari tadi kami tunggu. Terlebih lagi kak Lintang. Kabar baik dari mereka sungguh berarti bagi kami.
Kak Lintang langsung menubruk adiknya. Memeluk tubuh atletis itu beberapa saat. Lalu melerai pelukan. Kak Lintang memegang kedua bahu Langit. Menghujaninya dengan banyak pertanyaan.
"Bagaimana dek!"
"Bisa tidak!"
"Sudah dapat bukti?"
"Mana Mas Akhtar?" Matanya mencari dalam kerumunan orang.
"Kakak mau dia!"
"Kakak mau dia Dek."
"Kakak mau dia Lang!! Kamu dengar Langit! Kakak mau dia. Bawa dia pulang!." Suaranya meninggi.
"Kak, tenang kak. Kasian si kembar." Langit berusah menenangkan kak Lintang.
"Kembalikan suami Lintang, Yah!"
"Bawa dia pulang!"
"Mas Akhtar gak salah, Pa." Kak Lintang memandang wajah papa. Mama dan tante Lena mendekat kearah kak Lintang.
Tubuh kak Lintang perlahan merosot kebawah. Namun sebelum terduduk di lantai, om Reza berhasil menangkap dan menuntunnya duduk di ranjang.
"Lin, sabar nak!" Pelukan diberika om Reza padanya.
"Ayah harus percaya, Yah."
"Mas Akhtar gak salah,Yah!" Suaranya mulai melemah.
"Suami Lintang difitnah."
"Mas Akhtar dijebak."
__ADS_1
"Mas Akhtar bukan pembunuh!" Dan kak Lintang tak sadarkan diri.