Aku Dan Bintang

Aku Dan Bintang
Bab 74 Siapa Dia


__ADS_3

Lintang


Setelah foto prewedding yang dilakukan Langit dan Rara beberapa hari lalu, hari ini aku dan bunda berbelanja kebutuhan yang akan kami bawa sebagai hantaran pernikahan.


"Lin, sudah dibuat daftarnya kan?" tanya Bunda saat kami sedang dalam perjalanan menuju sebuah pusat perbelanjaan.


"Sudah, Bun." Jawabku. Aku memang sudah membuat daftar barang-barang yang akan kami beli. Sebenarnya Rara juga kami ajak, tapi gadis itu menolak. "Beli yang menurut mbak dan bunda bagus. Aku terima apapun itu, mbak." Ucapnya kemarin saat aku mengajaknya.


Aku dan bunda menghabiskan banyak waktu dan uang. Bukan uangku, tapi uang Langit. Ya, adikku si juragan kost-an. Kami pulang sekitar jam satu siang. Aku dan bunda duduk di kursi belakang karena kami di antar supir.


Drrrt... Drrtt..


Ponselku bergetar. Aku mencarinya di tas dan terlihat mang Joko menelpon.


"Hallo, Mang." Sapaku.


"Ma... Zoya gak ada di sekolah. Bi udah nunggu dari tadi tapi Zoya gak ada." Suara Bintang terdengar panik.


"Gak ada gimana, Bi? Kamu sudah cari di kelas?"


"Kata temannya Zoya gak masuk hari ini, ma." Padahal tadi pagi kami kan di antar papa sampai ke depan gerbang."


"Kamu yakin Zoya gak ada, Bi?" Aku khawatir teman Zoya hanya bercanda.


"Yakin ma! Kami pisah di gerbang karena Bi buru-buru masuk ke kelas. Tadi jam istirahat Bi juga gak ketemu Zoya, ma! Karena Bi gak keluar dari kelas."


Bi menceritakan apa yang ia tahu. Bintang dan Zoya memang berada di kelas yang berbeda. Bintang di kelas 4A dan Zoya di kelas 4B.


Walau bersebelahan, mereka juga jarang bertemu saat istirahat karena mereka punya teman masing-masing.


"Kamu jangan panik ya. Mama tanya yang lain. Sekalian mama jalan ke sekolah. Kamu tunggu disana ya sayang." ucapku padanya.


"Iya ma. Cepat ya Ma."


"Iya sayang." Aku mengakhiri panggilan telpon.


"Ada apa Lin?"


"Zoya hilang, Bun." Aku menjawab tanpa melihat bunda. Aku akan menelpon beberapa orang yang mungkin mengetahui keberadaan Zoya.


"Kok bisa Lin?"


"Lintang juga gak tau, Bun." Aku berusaha tenang. Padahal aku sudah sangat khawatir. Kemana Zoya selama lebih dari 6 jam?

__ADS_1


"Mang, ke sekolah anak-anak ya!" ucapku pada supirku.


Aku menghubungi mas Akhtar. Dan menanyakan keberadaan Zoya. "Gak ada Lin. Setelah mengantar aku langsung pulang. Tapi Zoya tadi masuk ke gerbang kok. Ada apa Lin?"


Aku menceritakan semuanya. "Tetap tenang. Aku langsung kesana. Kita cek cctv sekolah. Kamu telpon Bunga sama Satya. Aku mau hubungi mama Hana." Ucap mas Akhtar melalui telpon.


Aku segera mencari nomor ponsel Bunga. Dering kedua langsung diangkat.


"Hallo Kak."


"Kamu dimana, Na?"


"Di rumah kak. Ada apa?"


"Zoya ada di sana gak, Na?"


"Gak ada kak. Aku dari pagi gak kemana-mana. Dan Zoya gak ada kesini. Ada apa kak?"


"Oh, gak ada apa-apa Na. Nanti kakak ceritain ya."


Aku menutup panggilan. Tanganku sudah bergetar hebat. Dan kak Satya harapan terakhirku.


Namun, kak Satya memberikan jawaban yang membuat aku semakin gelisah. "Aku baru selesai meeting, Lin. Zoya belum sampai. Dia mau kesini? Tumben gak ngabarin?"


Dan Jantungku berdebar tak karuan saat mas Akhtar mengirim pesan singkat.


Zoya gak ada di rumah mama Hana. Tetap tenang, sayang. Kita akan cek cctv sekolah.


Bunda mengelus bahuku, "Zoya pasti baik-baik aja Lin."


"Iya. Lintang yakin dia baik-baik aja bun. Tapi sekarang dia dimana? Dia kemana? Apa sudah makan atau belum? Perasaan Lintang gak enak, Bun." Dia memang bukan darah dagingku. Tapi bertahun hidup bersamanya membuatku menyayanginya sama seperti anakku yang lain.


"Kalau kamu gak bisa menenangkan dirimu, bagaimana dengan Bintang, Nak."


Bunda benar. Aku harus bisa tenang. Perasaan Bintang tergantung padaku. Dia akan lebih panik jika aku panik.


Aku tiba di sekolah. Terlihat Bintang sedang menunggu diluar mobil dengan wajah panik.


"Bi!" Aku menghampirinya.


"Maaaa." Benar saja. Bintang sudah menangis.


"Kita tunggu papa sebentar." Aku menghapus air matanya lalu memeluk putriku yang tingginya sedadaku. "Zoya pasti baik-baik aja, Bi." Namun putriku itu terisak. Bintang kenapa, Nak?

__ADS_1


Tak lama mas Akhtar datang. Kami langsung masuk ke gedung sekolah. Untung saja kepala sekolah dan beberapa guru belum pulang.


"Kami mohon pak. Karena pagi tadi saya sendiri yang mengantarnya hingga ke gerbang." Mas Akhtar memohon pada kepala sekolah agar di izinkan untuk melihat rekaman cctv pagi tadi.


"Ma, tadi ada yang bilang kalau Zoya keluar sama om-om pakai kaos hitam." Bintang membuatku semakin khawatir.


"Astagfirullah, Mas." Aku menatap mas Akhtar. Mas Akhtar langsung merangkul bahuku agar aku tenang.


Kepala sekolah langsung meminta petugas keamanan untuk menge-cek cctv.


"Jam berapa pak?"


"Lima menit sebelum bel masuk, pak." Jawab Bi cepat. Mungkin ini alasannya Bintang terburu-buru masuk ke kelas.


Petugas keamanan mengecek satu persatu cctv. Dan menemukan seorang pria yang memang sedang menunggu diluar gerbang. Wajahnya tak terlihat jelas.


"Itu Bi dan Zoya, ma!" Bintang menunjuk layar dimana ia dan Zoya berjalan memasuki gerbang.


Dan Bintang memang langsung berlari meninggalkan Zoya. "Bi fikir Zoya ikut lari, ma. Karena bel sebentar lagi berbunyi," ucap Bintang saat melihat Zoya berhenti di gerbang. Dan tak lama dia mendatangi pria berkaos hitam itu.


"Putri bapak yang mendatangi pria itu, pak." Ucap bapak Kepala Sekolah.


Aku dan mas Akhtar saling pandang. "Siapa dia, mas?" Mas Akhtar menggeleng.


"Ma, apa yang orang itu kasih ke Zoya ma?" Bintang kembali menunjuk layar. Pria bertopi itu memberi beberapa lembar kertas kepada Zoya. "Coba di zoom pak!" Perintah mas Akhtar.


Dan percuma saja di zoom, karena tidak terlihat kertas apa itu. Jarak mereka dari kamera cctv memang cukup jauh.


"Mungkin pria itu tidak berniat jahat, Pak. Dia tidak mungkin melakukan kejahatan disaat dia tau disini ada banyak cctv." Kepala sekolah yang ikut melihat rekaman mengemukakan pendapatnya.


Benar juga, batinku.


"Pria itu pergi." Petugas keamanan menunjuk layar. "Anak itu juga pergi. Tapi berbeda arah." Lanjutnya.


"Pak. Mundurin sedikit," pintaku.


Dan pria bertopi itu menunjukkan wajahnya ke kamera. Aku seperti tak asing dengan wajahnya. Walaupun jaraknya jauh dan wajahnya tak terlihat jelas.


"Zoom wajahnya, pak," pinta mas Akhtar.


Dan setelah dizoom, "Mas... Dia?" Aku bergetar saat menatap mas Akhtar.


Dan mas Akhtar mengangguk dengan raut wajah menahan emosi. "Telpon Satya tentang kebenarannya Lin."

__ADS_1


__ADS_2