Aku Dan Bintang

Aku Dan Bintang
Bab 44 Double jackpot


__ADS_3

Akhtar


Waktu terus berganti. Semenjak pujian papa tentang ngidamnya Lintang yang anti mainstream, istriku itu terus menginginkan hal yang tak biasa.


Setelah dua gedung kosan yang pembangunannya langsung ditangani oleh perusahaan tempatku bekerja, Lintang kembali memberi gebrakan luar biasa dalam keluarga kami.


"Kemarin, tanpa sengaja, Siska keceplosan mengatakan Bayu dan Asep kuliah malam dan masih berjalan dua semester." Ucapnya ditengah anggota keluarga. Dia sengaja mengundang ayah, bunda, Langit, mama, papa, Sora dan suaminya. Lintang bertingkah seolah ia sedang memimpin rapat.


"Lintang kecolongan soal ini yah. Lintang tidak menyadari bahwa mereka sebenarnya ingin masa depan yang lebih baik." Ucapnya dengan raut wajah kecewa.


"Papa, di minimarket bisa tidak, jika hanya bekerja pada malam hari?" Tanyanya pada papa.


Papa terkesiap. "Bisa Lin. Bisa di atur." Sahut papa cepat. Aku hampir kelepasan untuk tertawa. Segarang itu kamu Lin, sampai papa saja tidak berani menolak.


"Alhamdulillah. Satu masalah selesai."


"Lang, Rara tidak mau kamu ajak menikah karena apa?" Lintang bertanya pada Langit.


Langit tercengang mendengar pertanyaan kakaknya yang terlalu to the point.


Ayah memicingkan mata kearah Langit. Sedangkan bunda hanya tersenyum melihat putranya


"Dia bilang, dia masih muda kak."


"Salah!" Potong Lintang cepat. Ayo lah Lin, ini bukan acara kuis sayang!


"Dia menolak karena dia merasa minder dan tak pantas bersanding denganmu, dia merasa dia hanya gadis biasa lulusan SMA dan kebetulan di terima bekerja olehku."


Langit membulatkan matanya. Istriku ini detektif atau apa? Sedari tadi aku hanya bisa membatin. Menunggu giliran untuk ditanya.


"Kakak sudah bertanya pada mama Citra dan Papa Darma. Sedang ada program beasiswa di kampus mereka. Rara akan mencobanya. Jika tak lulus dia akan tetap kuliah. Pagi dia kuliah, sore hingga malam dia bekerja di minimarket papa Rendra."


"Kak, bicara dulu ke Rara. Kalau dia gak mau gimana?" Langit memelas.


"Dia sudah setuju Lang!"


Dan meeting dadakan itu akhirnya selesai juga. Ketika Lintang pergi kedapur, semua orang bernafas lega


"Huuuu! Akhirnya!" Ucap Sora yang sedari tadi hanya diam.


"Kak Lintang hamil anak siapa sih? Kok makin hari makin menjadi kemaunnya."


"Anak ku Lang! Jadi anak siapa?" Sergahku cepat. Anakku lah! Aku yang nabur benih gak kenal lelah.


"Pantes nyebelin kayak bapaknya." Cibir Langit padaku.


"Hamil kali ini dia benar-benar beda." Bunda geleng-geleng kepala. "Bukannya lemas, dia malah aktifnya luar biasa. Gak kenal capek."

__ADS_1


"Iya. Dia juga kelihatan makin berisi." Ucap mama.


"Naik 5 kilo ma."


"Lima kilo?" Mama kaget. "Sejak periksa pertama?"


Aku mengangguk. " Besok jadwal periksa lagi ma, masuk minggu ke 10 ya kan ma?" Tanyaku.


Mama mengangguk.


***


Esok harinya, aku sengaja izin setengah hari. Siang ini aku menemani Lintang untuk kontrol ke dokter.


Ini pertama kalinya aku menemaninya ke dokter kandungan. Aku berdebar tak sabar melihat janin dalam perutnya.


Kami menunggu antrian. Di sebelah Lintang ada seorang wanita ditemani suaminya. Mereka baru saja datang. Perutnya sangat besar. Mungkin sudah mendekati persalinan.


"Kenapa Mas, kok melihat istri saya sampai segitunya?" Suami wanita itu bertanya padaku.


Aku terkesiap. Lintang sampai melihatku dengan tatapan curiga.


"Maaf Mas. Saya gak bermaksud apa-apa. Cuma sedang berfikir, lama kelamaan perut istri saya juga akan sebesar itu. Pasti dia akan semakin cantik." Aku menggenggam jemari Lintang.


"Istrinya hamil berapa bulan Mas?" Istrinya bertanya padaku.


"Jalan tiga bulan ya sayang?" Aku melihat Lintang dan dia mengangguk.


Lintang berbaring dan dokter menaikkan gamisnya, memberi gel di perutnya. Untung saja dokternya perempuan, jika dokternya laki-laki sudah ku pastikan Lintang kutarik untuk pulang sekarang juga. Tak akan ku izinkan pria manapun melihat perut mulusnya.


"Wah, selamat bu Lintang. Ibu mengandung bayi kembar." Ucap Dokter Salma. Aku dan Lintang langsung melihat ke layar. Dan aku hanya melihat dua lingkaran.


"Tidak salah dok? Bulan kemarin kan cuma satu dok?" tanya Lintang pada dokter.


"Benar bu. Karena kehamilan kembar biasanya baru terlihat pada minggu ke delapan sampai tiga belas bu." Dokter menjelaskan pada kami, tapi aku lebih tertarik pada layar di depanku.


Ini buka mimpi kan?


"Wah... papanya sampai bengong lihatin dedenya ada dua ya pa?" Dokter menyadarkanku.


Setelah selesai, kami kembali duduk berhadapan dengan dokter. "Apa kehamilan kembar jadi penyebab berat badan saya naik drastis dok?"


"Benar bu. Ibu juga akan merasa cepat lelah. Untuk itu istirahat yang cukup ya bu."


"Jika ada keluhan langsung periksa ke dokter ya bu."


Aku benar-benar mendengar nasehat dan saran dari dokter. Aku harus lebih berhati-hati dan memperhatikan Lintang. Karena dalam tubuhnya ada dua janin. Dan itu darah dagingku!

__ADS_1


Sampai di rumah, kami langsung ke kamar untuk istirahat. Anak-anak sedang di rumah mama dan papa.


Lintang duduk bersandar pada headboard. Aku langsung memeluk kakinya. Merebahkan kepalaku di pahanya. Tanganku mengelus perutnya yang sudah sedikit menonjol.


"Anak-anak papa baik-baik ya. Jangan merepotkan mama." Aku berbicara di depan perut Lintang. Lintang mengelus rambutku.


"Pasti papa." Lintang yang menjawab. Aku menatap wajahnya. Semakin chubby, semakin bulat dan semakin cantik.


"Terima kasih sayang. Terima kasih sudah membuat hidupku lebih berwarna. Membuat hidupku lebih hidup. Membuat hidupku menjadi memiliki arah dan tujuan." Aku mencium tangannya.


"Sehat selalu sayang, terima kasih telah bersedia mengandung anakku."


"Ini kewajibanku mas. Dan aku bahagia melewati masa-masa ini. Terima kasih juga telah menerima putri-putriku."


"Sudah memikirkan nama buat sikembar sayang?"


"Belum mas. Nanti saja saat tau jenis kelaminnya."


"Jangan!!!" Sahutku cepat. "Jangan tanya jenis kelaminnya sayang. Biar saja jadi kejutan. Yang penting kalian semua sehat."


"Kita persiapkan saja namanya ya." lanjutku.


Aku mengambil ponsel. "Mau apa mas?"


"Berbagi kabar gembira."


Aku mengirim foto usg pada ayah, papa dan grup Manusia Sibuk.


Akhtar : [foto usg] Baby twin Alvarendra numpang lewat om, tante!


Josep : Gokil Man! Beli benih di mana ni?"


Akhtar : Produk sendiri Sep. Resort di Bali punya andil besar 😀


Ray : Gila! Berkat tissu ajaib!


Sania : Gak sia-sia ke Bali. Double jackpot.


Akhtar : Tissu lo gak ke pake.


Ray : Yakin lo?


Akhtar : Yakinlah. Gimana gue mau pake. Kalau gak pake aja Lintang hampir pingsan.


Dan lintang langsung menarik telingaku. "Aduh... Sakit Sayang."


"Lama-lama kamu ketularan Ray. Kalau ngomong gak di filter!" Lintang meletakkan kepalaku dikasur. "Gak ada malunya ngomong begitu sama teman."

__ADS_1


Dan dia langsung berbaring. Menutup tubuhnya dengan selimut.


"Nanti malam tidur di sofa! Moodku anjlok!"


__ADS_2