Aku Dan Bintang

Aku Dan Bintang
Bab 40 Rahasia Arum


__ADS_3

Akhtar


Malam ini aku menginap di sebuah hotel mewah. Pertama kali tidur tanpa Lintang ternyata rasanya begitu hampa. Tempat tidur luas dan selimut tebal tak mampu memberikan kehangatan seperti pelukannya. Ah... cepatlah pagi dan aku ingin segera pulang untuk memeluknya.


Panggilan video yang hanya dihiasi kebisuan kami baru berakhir sepuluh menit lalu. Kami hanya saling pandang, dan menunjukkan wajah penuh kegelisahan. "Aku ingin dipeluk." Hanya itu yang ia ucap berkali-kali. "Cepat pulang, Mas." Lalu kami saling pandang lagi.


Ah... rasanya aku ingin masuk ke dalam layar ponsel dan dalam sekejap aku sudah ada di sampingnya. Atau jika bisa akan ku pinjam pintu kemana saja milik doraemon.


Aku mencuci muka dan kembali berbaring. Namun aku malah teringat kejadian siang tadi saat peresmian gedung rumah sakit.


"Mas Akhtar, suami Arum kan?" Seorang wanita cantik menyapaku. Aku sedang ada di barisan paling belakang karena menerima panggilan dari Langit. Dan sekarang memang sedang memasuki acara ramah-tamah setelah sebelumnya acara pemotongan pita.


Aku memandang wanita ini. Kalau tidak salah dia adalah salah satu dokter yang menyampaikan kata sambutan di podium. Aku mengangguk. "Ya, anda temannya Arum?"


Dia mengangguk. Dan memperkenalkan diri. "Saya Celia. Bisa ngobrol sebentar?"


Akhirnya kami duduk di sebuah kursi kosong yang mungkin pemiliknya sudah entah kemana.


"Arum apa kabar?" tanyanya. Aku mendengar tapi belum merespon karena sedang membalas pesan Langit. Kuletakkan diponselku di meja karena sepertinya Langit akan membalas lagi.


Wanita itu sempat melirik ke layar ponselku yang masih menyala. Dia menanyakan kabar Arum? Apa benar dia temannya.


"Maaf sebelumnya, apa kita pernah bertemu?" tanyaku sopan.


Dia tersenyum. "Beberapa kali dan terakhir saat pernikahan kalian." Aku manggut-manggut berusaha mengingat, "Ah ya, yang dokter kandungan ya." Aku ingat sekarang.


"Akhirnya ingat juga." Dia tersenyum senang. "Anak kalian?" Dia menujuk poselku. "Yang di wallpaper." Lanjutnya.


Aku tersenyum samar dan mengangguk. "Wah kembar ya? Gak sia-sia nunda selama dua tahun?" Wajahnya kembali ceria.


Menunda dua tahun? Apa maksudnya? batinku. Hatiku bergemuruh, tau apa dia soal rumah tangga kami dulu?


"Umur berapa?"


"Empat lebih."


Dia diam sebentar, seperti sedang memikirkan sesuatu. "Wah, berarti dulu setelah lepas IUD langsung hamil dong ya?"

__ADS_1


IUD? Astaga, otakku sedang berusah mencerna ucapan dokter di depanku ini. Apa Arum pernah memasang IUD? Bukankah IUD sejenis alat kontrasepsi?


Aku tersenyum samar. Menutupi hati yang tengah bergejolak hebat.


"Arum pasti senang sekali."


"Tapi Arum sudah meninggal dua hari setelah melahirkan." Dan ucapanku membuatnya terkejut.


"Arum?" Air matanya mengalir. "Ya Tuhan, maaf mas saya tidak tahu kalau Arum sudah meninggal. Saya baru kembali setelah lima tahun di luar negeri."


"Tidak masalah Dok." Ucapku pelan.


Dia diem sebentar lalu berdehem sebelum akhirnya berbicara kembali. "Dulu, setelah beberapa bulan menikah dia berkonsultasi padaku. Katanya kalian belum ingin punya anak, karena dia masih kuliah. Dan ia mengatakan pil KB membuat wajahnya berjerawat." Celia menghapus air matanya. Pandangannya menerawang, mengingat momen-momen terakhir bersama Arum.


"Iya, kami memang menikah saat dia belum lulus kuliah." Aku berusaha menutupi keterkejutanku. Arum bilang belum ingin punya anak? Sementara tujuan kami menikah agar bisa memberikan cucu untuk orang tuanya.


"Dia banyak bertanya soal IUD dan akhirnya memutuskan untuk menggunakan kontrasepsi itu. Tapi aku menyarankan untuk berdiskusi terlebih dahulu dengan kamu, suaminya. Dua hari setelahnya, dia datang lagi dan mengatakan bahwa kamu mengizinkannya." Lanjutnya lagi.


Ternyata, dulu dia diam-diam memasang alat kontrasepsi untuk mencegah kehamilan? Lalu mengapa dia seolah memojokkanku? Membuatku berfikir bahwa aku mandul. Apa itu memang rencananya untuk berpisah dariku? Ya Allah, aku harus bersikap bagaimana?


"Lalu saat pernikahan kalian hampir dua tahun, dia datang lagi untuk membuka IUDnya." Celia melanjutkan cerita. "Dan dari hasil pemeriksaan, rahimnya tidak bermasalah dan siap untuk hamil."


"Iya, dia juga menunjukkannya padaku."


"Selamat atas hadirnya si kembar, Mas. Kamu sudah menikah lagi?"


Aku diam sebentar, dan akhirnya mengangguk. "Baru satu bulan Cel."


"Selamat ya Mas." Dia tersenyum. "Selama empat tahun kamu masih setia. Pasti berat kehilangan dia." Aku mengangguk mengiyakan.


"Celia, boleh saya bertanya?" Aku ingin memastikan sesuatu. Jika dulu Arum sengaja menunda kehamilan, itu berarti kemungkinan besar aku tidak mandul?


"Silahkan mas?"


Akhirnya aku bertanya padanya, jika ingin memeriksakan kesuburanku, aku harus datang ke mana? Ke dokter apa?


"Kenapa bertanya seperti itu? Mas kan baru menikah selama satu bulan."

__ADS_1


Aku bingung harus beralasan apa. Dan aku akhirnya mengatakan ingin program kehamilan dalam waktu dekat dan ingin memastikan tidak ada masalah dengan benihku.


Akhirnya dia mengarahkanku pada seorang dokter di rumah sakit itu. Rumah sakit ini sebenarnya sudah beroperasi sejak dua minggu lalu. Namun peresmiannya baru di adakan sekarang karena menunggu jadwal pemiliknya.


Aku memeriksakan kesuburanku ke Dokter Andrologi. Dokter melakukan pemeriksaan fisik, hormon dan analisis sperm*.


Hasil lab akan keluar dalam 24 jam. Dan itu berhasil membuatku berdebar. Aku takut dengan hasilnya. Seperti yang selama ini kurasakan. Yang menyebabkan aku enggan memeriksakan diri.


"Arrrrrggh..." Aku pengusak rambutku. Sulit sekali rasanya memejamkan mata. Aku sudah berdoa, berdzikir dan entah mengapa mataku enggan terpejam.


Banyak pertanyaan yang masuk dalam fikiranku. Jika hasilnya menunjukkan bahwa aku sehat dan tidak mandul, sudah ku pastikan keluargaku akan senang mendengarnya.


Lalu bagaimana dengan keluarga Lintang? Bagaimana jika ayah bunda merasa ditipu jika aku terbukti tidak mandul?


Tapi bukankah ayah juga tau kalau aku memang belum pernah memeriksakan diri sebelumnya? Ya Allah, bagaimana ini?


Pagi harinya, dengan mata panda akibat hanya tidur dua jam. Itupun terbangun karena rasa mual. Aku melangkahkan kaki ke kamar pak Khrisna dan langsung check out dari hotel.


Kami menuju proyek yang sedang tahap penyelesaian. Syukurlah tidak ada kendala yang berarti. Semua berjalan sesuai perencanaan.


Aku dan pak Khrisna berserta manager lapangan menyempatkan diri untuk makan siang bersama. Aku hanya mengaduk-aduk makananku. Aku sama sekali tidak selera makan. Padahal rasa mual sudah mulai berkurang.


Saat baru masuk ke mobil, Pak Khrisna bertanya padaku. "Masih mual Tar?"


Aku mengangguk. "Tapi tidak separah tadi pagi Pak."


"Kita ke dokter sebelum pulang?" tanyanya.


"Tidak perlu pak. Tapi kita singgah ke rumah sakit kemarin ya pak. Ada yang mau saya ambil."


Pak Khrisna mengangguk, untung saja beliau tak banyak tanya, terlebih saat aku menghilang kemarin ketika bertemu Dokter Andrologi.


Aku turun untuk mengambil laporan hasil lab kemarin. Untung saja pak Khrisna tak keberatan menungguku di mobil. Aku menemui Dokter. Dan Dokter menjelaskan isi kertas yang merupakan hasil lab kemarin.


Disana tertulis Normozoospermia (****** normal).


Alhamdulillah, aku bersyukur. Ini berarti aku bisa memberikan adik untuk Bintang dan Zoya. Ingin rasanya aku lari kerumah memeluk istriku dan memberi tahu kabar gembira ini.

__ADS_1


Tunggu aku, Lin.


__ADS_2