
Lintang
Setelah tayangan slide terakhir muncul, teman-teman mas Akhtar langsung menubruknya, menindihnya hingga ia berontak minta di bebaskan. Cara mereka bereuforia sungguh kekanakan!
Aku dihujani ucapan selamat. Dan yang paling membuatku terharu adalah ucapan Bunda. "Jaga baik-baik nak. Ini anak pertama bagi suamimu. Turuti dia dan jangan membantah jika itu demi kebaikan."
***
Pagi ini aku hanya bisa duduk di meja makan menunggu bi Imah membuat sarapan. Karena aroma bumbu dapur membuatku mual, walau aku tak sampai memuntahkan isi perutku.
Hari Sabtu begini, tak perlu terlalu pagi untuk sarapan karena mas Akhtar libur bekerja. Anak-anak juga libur sekolah.
Siangnya kami pergi ke toko, entah apa yang akan mas Akhtar lakukan di sana.
Mas Akhtar mengumpulkan karyawanku dan kami duduk melingkar. "Maaf sebelumnya, saya memang tak punya kuasa atas tempat ini. Tapi saya memohon, untuk kerja samanya agar kita sama-sama menjaga Lintang dan calon anak kami. Saat dia disini, saya percayakan dia kepada kalian. Saya tau kalian lebih menyayangi dia jauh sebelum saya." Mas Akhtar berucapa tanpa basa-basi.
"Jangan membuatnya lelah, jika kalian kekurangan orang. Silahkan rekrut orang baru." Lanjutnya lagi.
"Suami mbak Lintang, pesonanya bikin gerah." Rara berbisik di telingku. Aku menoleh kesamping dan memicingkan mata. "Jangan macem-macem kamu. Dia milikku." Bisikku mengancamnya.
Rara terbahak. "Ada apa Ra?" Mas Akhtar menegurnya.
"Eh..." Dia nyengir dengan wajah polosnya. "Anu mas. Gak ada apa-apa." Dia langsung diam dan menunduk. Aku ingin tertawa, tapi urung. Kerena mas Akhtar sedang membicarakan hal serius.
"Diawal kehamilan, mungkin Lintang akan jarang kesini. Atau jika ia datang hanya untuk duduk dan memeriksa laporan. Kamu paham, Sayang?" Aku terkesiap. Karena mas Akhtar tiba-tiba mengelus kepalaku.
"Jangan coba-coba untuk mengangkat apapun!" Itu harga mati yang tak bisa ku tawar. Kami memang sudah membahas ini tadi malam. Aku hanya pasrah, aku pernah hamil tapi biar bagaimana pun ini anak pertamanya, darah dagingnya. Aku harus menurut terlebih ini untuk kebaikan kami.
Kami hanya sebentar, selebihnya ku serahkan pada Anna yang sudah dianggap senior oleh anak-anak. "Titip toko An, soal makan tetap aku yang tanggung. Kirim laporan tiap seminggu sekali Ra. Tetap akur kalian ya..." Aku hanya menambahkan pesan itu pada mereka.
Malamnya kami pergi ke resepsi pernikahan Ray dan Sania, pesta mewah yang didominasi dekorasi warna putih. Anak-anak tak ada yang ikut, karena mereka lebih memilih ditinggal di rumah ayah.
"Sudah ku kembalikan tissu ajaibmu. Semoga berhasil Ray!" Bisik mas Akhtar padanya saat di pelaminan. Dan berhasil membuatnya ku hadiahi cubitan kecil di perut.
"Selamat San. Semoga jadi keluarga sakinah, mawaddah, warahma." Ucapku pada Sania, mempelai wanita dengan gaun putih membuatnya terlihat seperti barbie.
__ADS_1
Dan Minggu siang, keluarga mas Akhtar datang ke rumah kami. Kami memilih duduk di ruang keluarga. Mama papa duduk di sofa sementara aku memilih duduk di karpet tapi punggungku bersandarkan di sofa.
Sora dan Abimanyu menemani anak-anak. Caraka bermain robot, Zoya bermain lego dan Bintang tetap dengan crayonnya.
Mas Akhtar terlihat turun dari lantai atas. Rasa mual masih ia rasakan pagi tadi.
Mas Akhtar menuruni anak tangga dengan terburu buru. "Ma, masakin ini ma?" Mas Akhtar menunjukkan ponselnya pada mama Riana. Ulah apa lagi yang akan dilakukan suamiku.
Mama menatap layar ponsel. "Mie instan?" Tanyanya dengan kening berkerut. Mas Akhtar adalah penggilan makanan sehat. Mie Instan termasuk dalam daftar makanan yang paling ia hindari.
"Mie instan? Gak salah kak?" Tanya Sora padanya.
"Lagi ngidam yang." Abimanyu sepertinya tau apa yang akan diucapkan mas Akhtar.
"Letak ayam sama telurnya harus pas ya ma. Kayak di foto itu." Ucapnya pada mama. "Eh.. aku aja yang plating, mama masakin aja ya ma." Lanjutnya lagi.
Aku hanya bisa tersenyum melihat tingkah konyol suamiku. Selama aku hamil, dia jadi lapar mata. Semua postingan di media sosial yang membuatnya selera pasti harus dituruti.
Seperti kemarin pagi, dia minta dibuatkan gado-gado. Dan tadi malam dia minta dibuatkan telur gulung. Dan siang ini dia berulah lagi.
Mama langsung ke arah dapur, saat aku menawarkan diri untuk memasak, mas Akhtar malah berkata, "Kamu disini aja. aku maunya mama yang masak."
Mas Akhtar duduk disampingku dan langsung berbaring. Menjadikan pahaku sebagai bantal.
Sora mencibirnya, "Dih manjanya makin parah. Udah mau jadi bapak juga."
"Abi, istri kamu ajak shopping sana. Rese'nya kambuh kalau kurang vitamin F." Mas Akhtar tidur miring dengan wajah menghadap ke perutku. Aku mengelus kepalanya, sesuatu yang paling ia sukai.
"Vitamin F?" Kening Sora berkerut.
"Iya Vitamin Foya-foya." Mas Akhtar menjawab, tanpa merubah posisi.
"Kamu beruntung Lin, Akhtar yang mual, Akhtar juga yang ngidam." Ucap papa padaku. "Dari pada Sora, waktu hamil Caraka dia gak mual, tapi ngidamnya aneh-aneh."
Sora dan suaminya sudah tertawa bahkan sebelum papa bercerita. "Aneh gimana pa?"
__ADS_1
"Apa tidak aneh namanya, wanita hamil dua bulan ingin menelusuri hutan perbatasan Kalimantan-Malaysia." Aku tak percaya ini. Seekstrim itu?
"Terus dituruti pa?" Ucapku antusias.
Papa menggeleng. "Bahaya Lin. Tapi akhirnya kami bawa dia ke tempat wisata hutan pinus."
"Tapi lumayanlah kak daripada enggak sama sekali." Ucap Sora. "Itu pun menunggu sampai usia kandunganku empat bulan kak."
"Makanya kami sepakat kasih nama Caraka. Karena dalam bahasa sansekerta artinya pengembara." Ucap Abimanyu.
"Assalamualaikum!" Teriak seseorang dari arah luar.
"Eh, rame ternyata!" Langit langsung mendudukkan diri didepanku dan meletakkan laptop setelah menyapa papa dan Abimanyu.
"Bagaimana dek? Bisa?" tanyaku padanya.
"Bisa kak." Dia mulai membuka laptopnya.
"Bayi besar kenapa lagi?" Langit menunjuk mas Akhtar dengan dagunya.
"Masih mual." Jawabku. "Kapan mulai dibangun Lang?" tanyaku padanya.
"Apanya yang dibangun sayang?" Mas Akhtar langsung mengambil posisi duduk.
"Begini mas, kami pernah punya rencana untuk membangun kosan. Nah kemarin tiba-tiba aku kok pengennya segera dibangun. Dan langsung tanya ke Langit soal desainnya."
"Berapa kamar Lin?"
"Langit sudah membuat desainnya. Tanah akan kami bagi dua. Satu sisi untuk kos wanita dan satu sisi untuk kos pria." Aku menunjukkan desain di laptop Langit.
Papa, Sora dan Abimanyu tertarik ikut mendengarkan.
"Tiap bangunan akan ada sekitar 26 kamar lengkap dengan tempat parkir." Lanjutku.
"Nah... ini baru cucu kakek! Ngidamnya anti mainstream!" Papa berbicara dengan bangga.
__ADS_1