Aku Dan Bintang

Aku Dan Bintang
Welcome Baby Boy !


__ADS_3

" Aduh Mas,,, perutku...! perutku sakit.." Mia meringis sambil memegangi perut buncitnya.


Wisnu Terlihat panik tak tau apa yang harus dia lakukan saat itu, semua yang terjadi hari ini serba mengejutkan dan penuh pertanyaan.


Seorang laki laki paruh baya bernama Heru yang tiba tiba memaki istrinya dan mengatakan pernah berhubungan dan tertipu oleh istri sirinya itu, lalu Mia yang sepertinya akan melahirkan padahal ini belum waktunya, karena usia kandungannya masih 8 bulan, belum lagi yang paling berat bagi dia karena harus menerima kenyataan bahwa Safira mantan istri yang masih di sayanginya telah menikah dengan orang lain.


Benar benar kepalanya seperti akan meledak saat ini. Sampai sampai dia tak tau apa yang harus di lakukannya saat ini.


Wisnu saat ini berada di rumah sakit bersalin, entah siapa yang membawa Mia ke sana, dia tak ingat apapun, yang dia ingat dirinya di beri tahu salah satu warga bahwa dia harus pergi ke rumah sakit bersalin untuk menyusul istrinya yang akan segera melahirkan.


Di rumah sakit hanya tampak Arya yang menunggu Mia di luar ruangan, sepertinya seseorang atau pihak rumah sakit menghubunginya, karena cuma Arya satu satunya kerabat Mia di kota ini setahu Wisnu.


" Bos, Mia terus menanyakan anda sedari tadi, coba anda temui dia di ruang bersalin." Wajah Arya tak bisa menyembunyikan kepanikannya.


" Apa kamu tau siapa itu Heru?" Tanya Wisnu tak memperdulikan apa yang di katakan Arya tentang istri yang sedang berjuang melahirkan anaknya di dalam ruangan sana.


" Ma- maksud bos? Saya tak mengerti apa yang bos bicarakan, Mia sedang berjuang hidup dan mati di dalam, apa anda tak ada rasa simpati sedikit pun?" Arya tak kuasa menaran amarahnya karena kecewa dengan sikap yang seolah tak peduli bosnya pada Mia.


" Ah, sudah lah,, maaf, aku kacau sekali saat ini, kau temani saja dulu Mia, kalau ada apa apa hubungi aku." Wisnu malah meninggalkan Arya yang semakin mengeraskan rahangnya geram.


" Bos,,, anda harus menemani istri anda,!" Arya setengah berteriak barmaksud menyadarkan kekeliruan sikap Wisnu pada istrinya.


" Heh ! Aku bos mu, jangan berani berani berteriak di hadapan ku, berengs*k ! Aku perintahkan temani Mia, bukan kah kau temannya ? Ada urusan yang harus aku selesaikan saat ini.!" Wajah Wisnu memerah.


" Tapi anda suaminya, lagi pula hal serius apa yang lebih penting dari keselamatan istri dan anakmu !" Arya seakan tak kenal takut pada bosnya saat itu.


" Bukan urusan mu ! " Wisnu melengos pergi tak ingin meladeni karyawannya, dan seolah tak ada sedikitpun rasa hawatir dengan keadaan Mia yang sedang di dalam ruangan, apa lagi menemaninya di saat istrinya sangat membutuhkan semangat dan keberadaan dirinya di sisinya.


Hanya satu tujuan Wisnu saat ini, dia ingin pergi menemui laki laki paruh baya bernama Heru itu, dia ingin memastikan apa yang sebenarnya terjadi, dia tak ingin di hantui rasa penasaran berkepanjangan, dia harus mendapatkan kebenaran secepatnya.


***

__ADS_1


" Wisnu ? Apa yang kamu lakukan disini? kenapa kamu tak menemani istrimu di rumah sakit?" Tanya Safira terkejut saat membukakan pintu rumahnya yang baru saja di ketuk dari luar.


" Tolong pertemukan aku dengan orang yang bernama Heru itu." Pinta Wisnu to the point.


" Tapi, kamu tak bisa menemuinya sekarang, Om Heru sudah pulang ke Batam." Ucap Safira masih di depan pintu belum mempersilahkan Wisnu untuk masuk ke rumahnya.


" Sayang, siapa yang datang ?" Bintang menghampiri Safira yang berdiri di depan pintu utama.


" Aku tak ingin mengganggu kalian, aku hanya ingin kebenaran tentang apa yang di katakan laki laki yang bernama Heru kepada istriku tadi, adakah yang bisa membantuku menjelaskan ini semua?" Tanya Wisnu dengan tatapan yang memohon.


" Kami tak punya hak dan kewenangan untuk memberikan penjelasan tentang itu, meskipun kami tau !" Tegas Bintang yang langsung memeluk pinggang Safira posesif.


" Lalu, kepada siapa aku harus bertanya?" Wisnu melemah, matanya sayu, wajahnya kusut mendapati jawaban Bintang.


" Baiklah, kau masuklah dulu, aku akan membantu mu." Bintang akhirnya mempersilahkan dan mengijinkan Wisnu untuk masuk ke dalam rumahnya karena dia merasa iba melihat keadaan Wisnu yang kacau, lagi pula cepat atau lambat masalah ini memang pasti akan terungkap.


" Om, disini ada Wisnu suami Mia, dia ingin tahu kebenaran tentang apa yang Om Heru bicarakan pada Mia tadi." Bintang berbicara dengan Heru melalui sambungan telepon yang di loud speaker.


Setelah mendapatkan ijin dari Heru, Bintang mulai menceritakan tentang affair yang terjadi antara Mia dan Om nya itu, semua di ceritakan tanpa ada yang di kurangi atau di lebihkan.


Wisnu terlihat serius mendengarkan cerita Bintang, sesekali wajahnya mengeras menahan amarah, tapi masih dia tahan.


" Sudah lah, bukan kah itu sudah berlalu, sekarang kenyataannya Mia sudah menjadi istrimu, sudah tak ada hubungan apa apa lagi dengan Om Heru, sebaiknya kamu kembali ke rumah sakit, setidaknya demi anakmu, dia tak berdosa, jangan membenci anakmu karena kelakuan ibunya." Ucapan Safira berhasil membuat Wisnu tersadar dan ingat dengan anaknya.


Setelah berpamitan dan berterima kasih pada Bintang dan Safira, Wisnu kembali ke rumah sakit untuk menemui Mia, bukan,,, bukan Mia, tapi untuk melihat anaknya.


Seharusnya bayi tak berdosa itu sudah lahir, apapun yang terjadi pada dia dan Mia, apapun yang telah di lakukan Mia tanpa sepengetahuannya, anaknya tidak pantas menanggung kebencian darinya, anak yang selama ini dia tunggu dan dia harapkan kehadiannya.


Wisnu telah sampai di pintu rumah sakit, berjalan menyusuri lorong panjang rumah sakit, setelah dia di beritahu oleh salah satu suster kalau istrinya telah melahirkan bayi laki laki yang sehat satu jam yang lalu, dan sekarang mereka sudah berada di ruang inap.


Wajahnya berubah menjadi sedikit berbinar, dia ingin bertemu dan menyambut anak laki lakinya dengan bahagia.

__ADS_1


Saat sampai di depan pintu kamar ruang inap yang di tempati Mia, Wisnu menghentikan langkahnya, dia melihat Arya yang sedang menggendong bayi dengan kedua tangannya, dan Mia yang tersenyum bahagia.


Tapi tunggu,,, dari celah pintu kamar yang sedikit terbuka Wisnu mendengar percakapan mereka.


" Hai baby boy... Ayah bahagia akhirnya bertemu dengan mu!" Ucap Arya dengan wajah yang sumringah.


" Dia sangat tampan dan begitu mirip denganmu, sayang !" Timpal Mia tersenyum memandang ke arah dua laki laki berbeda generasi itu.


Brakk....


Wisnu mendorong keras pintu di hadapannya,


" Ayah ? Sayang ? Ada yang ingin kalian jelaskan padaku dengan apa yang baru saja ku dengar barusan?" Mata Wisnu menatap tajam sepasang laki laki dan perempuan di ruangan itu.


" Mas,,, bos,,, !" Ujar Mia dan Arya bersahutan.


" Apa hubungan kalian sebenarnya ? Apa maksudmu memanggil laki laki ini sayang?" Cecar Wisnu pada Mia yang terlihat gugup dan ketakutan,


" Lalu, apa maksud kau menyebut dirimu ayah pada bayi ini ?" Wisnu berbalik menatap ke arah Arya yang juga gelagapan.


" Mas, kamu salah paham, tak ada hubungan apapun antara aku dan Arya !" Mia meraih tangan Wisnu.


" CUKUP ! Untuk saat ini sepertinya aku tak butuh penjelasan kalian ! tes DNA yang akan menjawab semuanya !" Wisnu menepis tangan Mia kasar.


" Mas ! kamu keterlaluan ! kamu meragukan anak ini ?" Tangis Mia pecah.


" Bukan hanya anak ini, aku bahkan meragukan semua tentang dirimu !" Wisnu membanting pintu dan pergi dari ruangan itu, tak peduli banyak orang yang melihat kemurkaannya di rumah sakit itu.


Entah apa yang di pikirkan Wisnu saat ini, dia hanya berkemudi tanpa tujuan, sampai tanpa dia sadari dia sekarang berada di tempat biasanya dia berkeluh kesah, menumpahkan kesedihan dan amarahnya.


Ya, tepat di samping pusara Rena saat ini Wisnu berada, dia berlutut, cairan bening menganak sungai di kedua pipinya, dia seakan selalu lemah saat berada di dekat Rena, dia ingin menumpahkan segala yang dia rasakan saat ini.

__ADS_1


" Re,,, apa kamu tak ingin mengajaku pergi ke tempatmu saat ini ? Aku tak sanggup menerima hukuman ini, bawa aku pergi ke tempat mu sekarang Re....!" Tangis Wisnu yang bersimpuh sambil memeluk sebuah nisan, terdengar sangat memilukan dan menyayat hati siapapun yang melihatnya, dia hancur, sungguh hancur se hancur hancurnya.


__ADS_2