Aku Dan Bintang

Aku Dan Bintang
Kenyataan yang Pahit


__ADS_3

Safira membersihkan teras depan rumahnya siang itu, di temani seorang asisten rumah tangga yang biasa datang setiap hari untuk membereskan rumahnya, Safira sengaja hanya memperkerjakan asistennya yang hanya datang pagi dan pulang sore tanpa menginap, sebenarnya Bintang menawarkan beberapa asisten rumah tangga untuk tinggal dan mengurus rumah juga keperluan nya, tapi Safira menolaknya, baginya asisten rumah tangga setengah hari sudah cukup, untuk malam hari dirinya mampu mengerjakan apa apa sendiri.


" Rajin amat Fir," Terdengar sapaan seorang laki laki yang suaranya sangat akrab di telinga Safira.


" Eh, kamu,,, iya ini mumpung lagi ga ngantor, jadi nyempetin bebenah rumah." Jawab Safira pada Wisnu yang berdiri di depan teras rumahnya.


Safira dan Bintang memang masih cuti, menukmati masa bulan madu mereka meski hanya di rumah saja, karena Bintang belum bisa pergi jauh, Proyeknya sedang tahap butuh pengecekan intens dirinya.


" Aku ada perlu sama suami mu, apa dia ada?" Tanya Wisnu yang hatinya agak perih ketika menyebut kata 'suami mu' jujur diri nya belum rela.


" Bintang lagi ke proyek tadi, tapi bentar lagi pulang kok, cuma ada yang perlu di cek dikit. Gimana, ada apa?" Safira hanya memperhatikan Wisnu yang masuk dan mendekati kursi yang terletak di taman teras rumahnya,


" Aku boleh nunggu dia disini ?" Wisnu mendudukan dirinya di kursi taman itu dan mengambil gitar yang tergeletak di samping kursi.


" Hmm,,, boleh, tadi sih, aku hubungi bintang katanya udah lagi perjalanan pulang, tunggu aja, tapi aku ga temenin ya, aku lanjutin beberes." Safira berfikir ini tak akan menjadi masalah, toh Wisnu mencari Bintang bukan untuk menemuinya.



Wisnu hanya mengangguk dan tersenyum, lalu dia mulai memainkan gitar dan menyanyikan sebuah lagu mengisi waktu sambil menunggu Bintang pulang, atau bahkan mencurahkan isi hatinya, ah, entahlah hanya Wisnu yang tau, lagu mesin waktu milik Budi doremi mengalun merdu di siang itu,


Kalau harus ku mengingatmu lagi


Aku takkan sanggup dengan yang terjadi pada kita


Jika melupakan mu hal yang mudah


Ini takkan berat, takkan membuat hati ku lelah


Kala, ku akui aku kalah


Cinta ini pahit dan tak harus memiliki


Jika aku bisa ku akan kembali


Ku akan merubah takdir cinta yang ku pilih


meski pun tak mungkin walaupun ku mau


Membawa kamu lewat mesin waktu


Jika melupakan mu hal yang mudah


Ini takkan berat takkan membuat hati ku lelah


panjang perjalanan yang harus ku lalui

__ADS_1


merelakan mu....


Wisnu menghentikan petikan gitar dan nyanyiannya saat Safira datang membawa dua gelas minuman dingin ke hadapannya.


" Kok berhenti ?" Protes Safira


" Gak sanggup nerusin, takut nangis hehe..." Cengir Wisnu


" Masa, udah jadi ayah masih nangis, malu ah sama anak kamu, oh iya, gimana kabar anak mu sehat ? aku pengen nengokin tapi...." Safira tak melanjutkan kata katanya.


" Bayi siapa yang mau kamu tengokin?" Wajah Wisnu tiba tiba suram, dia menyesap minuman yang di suguhkan Safira untuknya,


" Bayi itu bukan anak ku," lanjutnya seraya menyimpan kembali gitar yang di peluknya ke tempat semula.


" Maksudnya ? Jangan ngaco kamu !" Safira seakan tak percaya dengan apa yang di katakan Wisnu.


" Ya, mungkin ini hukuman buat aku, karena udah ngehianatin kamu, nyakitin kamu, ternyata karma datang begitu cepat pada ku, bayi itu anak hasil hubungan Mia dan Arya." Suara Wisnu melemah.


" Arya ? Arya club ?" Kaget Safira, yang lalu di jawab dengan anggukan oleh Wisnu.


" Ya, mereka menjebak ku, mereka ternyata sepasang kekasih, sebelum menjalin hubungan dengan ku, Mia sudah berbadan dua hasil dari hubungan terlarangnya dengan Arya. Anak itu tadinya mereka akan jadikan senjata untuk menguras harta ku tapi,,, Tuhan sedikit berbaik hati padaku, menunjukkan kebenaran sebelum mereka berhasil dengan rencana busuknya !" Mata Wisnu menerawang jauh, tatapannya kosong, entah apa yang ada di pikirannya saat ini.


Safira tercekat, dia merasa iba dengan apa yang di alami Wisnu, bagai manapun Wisnu pernah menjadi teman hidupnya selama beberapa tahun, dia pikir dia akan puas dan bahagia bila melihat Wisnu menderita karena telah menghianatinya, tapi itu sungguh salah besar, hati Safira juga merasa sedih saat tau Wisnu kini hancur.


" Aku sudah memaafkan kamu, hiduplah dengan baik, lupakan semuanya, aku harap suatu saat kamu akan bertemu dengan seseorang yang benar benar tulus menyayangi kamu, Wisnu." Ucap Safira tulus.


" Sangat bahagia,!" Jawab Safira tegas dan penuh keyakinan.


" Syukurlah, aku tenang dan turut berbahagia,,," Wisnu tersenyum getir.


" Tak baik merayu istri orang, apalagi di depan suaminya !" Bintang yang ternyata sudah datang dari tadi, menghampiri Safira dan Wisnu, dia duduk tepat di sebelah Safira setelah sebelumnya mencium kening istrinya itu.


" Jangan salah sangka, aku tak sejahat itu, setelah aku menyakitinya dengan penghianatan dulu, tak mungkin aku menyakitinya lagi dengan menghancurkan kebahagiaannya bersama mu." Wisnu bersikap tenang, begitu pun Bintang, tak ada aroma permusuhan di antara mereka saat ini.


" Mau aku buatkan minum ?" Tanya Safira menengok ke arah samping kanannya dimana sang suami memeluk erat dirinya.


" Tak usah, ini saja sudah cukup, sayang." Bintang tersenyum manis sambil menunjuk minuman dingin milik istrinya. Safira pun mengangguk.


" Aku ada perlu dengan mu Bintang, aku ingin meminta alamat Om mu yang di Batam itu." Ujar Wisnu dengan raut wajah yang serius.


" Untuk ?" Singkat Bintang,


" Aku tak terima dengan persekongkolan Arya dan Mia, aku juga punya rekaman pengakuan Arya tentang dirinya dan Mia yang memang sengaja merencanakan mengeruk harta om mu itu, aku ingin pasangan mberengsek itu membusuk di penjara, !" Wisnu di penuhi raut amarah.


" Hmm,,, untuk masalah dendam seperti itu, memang sebaiknya kalian para korban wanita jala*g berbicara langsung saja, nanti aku kasih alamatnya." Kata Bintang seakan mengejek kesedihan Wisnu saat ini.

__ADS_1


" Sayang...!" Safira melirik tajam Bintang yang sedikit tersenyum.


" Lho,, iya kan mereka harus berbicara langsung sebagai sesama korban wanita jal-" Mulut Bintang di bekap Safira cepat dengan mata yang membola ke arah suaminya.


" Tak apa Fir, aku memang bodoh bisa di perdaya wanita itu." Wisnu menengahi.


" Tuh, kan dia aja ga apa apa, sayang! mengakui lagi,," Bintang menggenggam tangan Safira yang membekap mulutnya lalu mencium tangan istrinya itu tanpa canggung di hadapan Wisnu yang tertunduk seakan tak kuat menyaksikan kemesraan mantan istrinya.


Meski hati kecilnya harus mengakui kebahagiaan terpancar jelas di wajah Safira bersama suami barunya.


" Bagaimana kalau kamu ke Batam bareng sama Kak Beni minggu depan?" Safira tersenyum saat mendapatkan ide untuk membuat dua orang sahabat yang terpisah itu berbaikan kembali.


" Beni ? " Beo Wisnu meyakinkan pendengarannya.


" Iya, Kak beni minggu depan akan ke Batam menemui Dara, anaknya Om Heru, bulan depan mereka akan bertunangan, apa kamu tak ingin menyaksikan saat saat terpenting di hidupnya Kak Beni bulan depan nanti? makanya baikan dulu dengan pergi bareng ke Batam minggu depan." Jelas Safira


" Tapi, Beni... sepertinya..." Wisnu tak yakin kalau Beni mau pergi bersamanya.


" Itu urusan aku, nanti aku yang bicara dan membujuk Kak Beni, dia pasti mau, aku jamin!" Safira meyakinkan Wisnu yang terlihat agak ragu.


" Baiklah aku percayakan pada mu." Wisnu tersenyum saat membayangkan dirinya akan pergi bersama sahabat yang sangat dia sayangi dan dia rindukan selama ini.


Wisnu berpamitan pulang saat semuanya sudah selesai di bicarakan.


" Bahagia amat mukanya, Yang !" Goda Wisnu pada Safira sepeninggal Wisnu.


" Biasa aja !" Safira datar


" Masa sih, abis ngobrol berdua sama mantan terindah gitu looo.." Bintang mencubit hidung Safira gemas.


" Jangan mulai deh, ntar kamu berasumsi sendiri, cemburu sendiri, marah marah sendiri, malesin tau,,! kamu ngambeknya nyebelin !" Safira mengusap usap hidungnya yang memerah akibat cubitan Bintang.


" Ish... cemburu ? ngambek ? mana pernah..!" Elak Bintang


" Jangan lupakan kamu nganbek gara gara ayam bakar itu ya!" Safira mengingatkan


" Oooh,, ayam bakar nostalgia itu maksud kamu, sayang ?" Bintang tersenyum geli mengingat dirinya saat itu, yang tiba tiba ngambek padahal mereka belum jadian, dan itu hanya gara gara ayam bakar.


" Tuh kan, mulai lagi, udah deh, malesin ah kamu, Yang !" Safira melepaskan tangan Bintang yang memeluk dirinya posesive.


" Maaf sayang, waktu itu memang aku terbawa emosi, tapi sekarang udah ga mungkin lagi, aku sudah tau semuanya." Bintang mengelus rambut istrinya yang terlihat bingung.


" Maksudnya?" Safira


" Aku sudah pulang dari tadi, dan mendengar semua obrolan mu dengan Wisnu, terimakasih sayang, kamu mau menerima ku dan menjadikan aku sebagai suami kamu, apa yang kamu bilang tadi pada Wisnu kalau kamu sangat bahagia bersamaku itu benar?" Bintang semakin erat mendekap Safira.

__ADS_1


" Benar dong, aku sangat sangat sangat bahagia bersama kamu, sayang !" Safira mencium sekilas bibir Bintang.


" Sayang,,, kamu menggodaku, kamu nakal sekali..." Bintang langsung mengangkat tubuh Safira dan membawanya ke dalam rumah, tepatnya ke dalam kamar, karena ada sesuatu yang harus Bintang tuntaskan atas perlakuan nakal Safira padanya.


__ADS_2