Aku Dan Bintang

Aku Dan Bintang
Bab 47 Bukan Sinetron


__ADS_3

Lintang


Karena kondisiku yang lemah, akhirnya aku menginap di rumah mama Riana dan bunda menemaniku di sini.


Pagi harinya , sekitar jam delapan pagi aku dan Langit berangkat untuk menemui mas Akhtar. Tapi aku menyadari jalan yang kami lewati bukan jalan menuju kantor polisi. "Kemana ini dek?"


Tapi Langit tak menjawab dan kami berbelok di sebuah studio foto. Ini milik Josep kan? Pikirku.


Kami masuk ke dalam menuju sebuah ruangan di lantai tiga. Disana sudah ada Ray dan Josep. Kami duduk di sofa. "Disini saja ya, biar nyaman untuk Lintang yang sedang hamil."


Josep menunjukkan layar laptopnya. "Ini cctv tetangga om Bram." Tampak mobil putih berhenti di depannya dan keluar seorang pria dengan hoodie serta masker yang menutup setengah wajahnya.


"Itu hoodie mas Akhtar!" Aku menunjuk layar laptop. Tapi tak ada yang menanggapiku.


"Ini cctv di rumah om Bram." Josep kembali menunjukkan rekaman.


Pria yang keluar dari mobil tadi, melompati pagar, memanjat rumah hingga naik ke balkon dan masuk ke dalam. "Dia tau seluk-beluk rumah om Bram." Ucapku kembali mengamati rekaman.


Cuma lima menit, pria itu keluar dan kembali melompati pagar. Tanpa ketahuan penjaga rumah.


Dan dua menit kemudian semua lampu di rumah itu menyala. "Inilah saat asisten rumah tangga mendapati korban meregang nyawa." Ucap Langit.


"Itu karena Bik Jum sempat mendengar suara gaduh dari kamar om Bram dan tante Hana." Ucapku kepada mereka. Bik Jum sendiri yang menceritakan padaku. Bahwa dia mendengar suara ribut-ribut sebelum akhirnya menemukan keduanya tergeletak di lantai.


Josep dan Ray duduk bersandar. "Kamu tau malam itu Akhtar kemana Lin?"


Aku menggeleng. "Dia menulis surat dan bilang cuma pergi sebentar."


Ray menghela nafas. "Dia keluar karena si peneror memintanya untuk bertemu."


"Kamu tau itu Ray?" tanyaku terkejut.


"Aku tau, dia meminta pendapatku. Aku melarang tapi suami kamu yang b*go itu nekat pergi."


"Astaga, Mas!" Aku memijat keningku yang terasa pusing. "Kalian percaya bukan dia kan pelakunya?"


"Percayalah! Gila! Kita kenal dia udah hampir lima belas tahun Lin!" Ucap Ray menggebu.


"Lagi pula apa tujuan Akhtar melenyapkan mantan mertuanya!" ucap Josep. Dan seketika suasana hening, karena kami sibuk dengan fikiran masing-masing.


"Harta Zoya." Langit membuatku tersentak. Aku membulatkan mata tak percaya.


"Peneror ingin mas Akhtar dianggap mengincar harta om Bram yang akan diwariskan pada Zoya."


"Keuntungannya untuk peneror apa?" tanyaku.

__ADS_1


Langit mengangkat bahu. "Dendam pribadi. Sakit hati. Atau peneror juga menginginkan harta om Bram."


"Kalau motifnya dendam pribadi, kenapa bukan Akhtar yang diserang? Lalu kalau peneror ingin harta om Bram. Berarti dia keluarga terdekat om Bram." Ray berasumsi.


"Keluarga terdekatnya, hanya keluarga tante Heni dan Satya, anak angkat om Bram."


"Kamu kenal Lin?" tanya Ray. Aku mengangguk. "Dulu Zoya kan membutuhkan ASIku. Jadi aku pernah bertemu mereka sih beberapa kali."


"Ada yang kamu curigai." tanya Josep. Aku menggeleng.


"Yang kelihatan paling sedih siapa?" tanya Ray.


"Semua pasti sedih Ray. Namanya juga lagi kena musibah." Josep memutar bola matanya.


"Siapa tau, yang paling sedih itu cuma pura-pura Sep."


"Ayolah Ray. Ini bukan cerita sinetron!"


Kami terdiam beberapa saat.


"Satu-satunya saksi cuma tante Hana.Tapi beliau masih belum sadar." gumam Langit. Lalu dia kembali terdiam.


"Mas Akhtar sampai di rumah jam setengah dua. Dan cctv, menunjukkan jam 00.00 malam." Aku mengetuk-ngetuk meja sambil berfikir. "Mas Akhtar keluar rumah sekitar jam sepuluh malam. Selama itu dia kemana? Dia pingsan atau disekap?"


"Mobil putih." Mataku membulat menyadari sesuatu. "Ya Allah." Aku mencari ponsel di tasku.


"Kenapa kak?"


Aku mengecek ponsel. "Alhamdulillah. Aku baru ingat kalau memasang kamera tersembunyi di mobil." Aku memasang dua camera. Satu merekam kearah dalam dan yang satu merekam arah depan. Kamera kecil itu ku masukkan kedalam boneka berbentuk ulat bulu yang ku letakkan pada dashboard mobil sebagai aksesories.


"Lintang kenapa gak bilang dari tadi?" Ray mengacak rambutnya.


"Maaf Ray. Aku baru menyadari mobil yang di pakai mas Akhtar adalah mobil yang biasa ku pakai."


"Selama mendapat teror dan beberapa kali anak-anak nyaris dijemput orang tak dikenal. Aku mulai mencurigai siapa pun, termasuk mang Joko, supir kami."


"Jadi aku memasang kamera tersembunyi." lanjutku.


Aku menunjukkan peristiwa yang terekam malam itu. Seorang pria memasukkan tubuh mas Akhtar yang sudah pingsan ke kursi belakang. Pria bermasker dengan baju serba hitam dan memakai sarung tangan itu membuka hoodie yang dipakai mas Akhtar lalu memakainya.


"Akhtar bilang, peneror mengajak bertemu jam 10 malam. Tapi dari rekaman Akhtar terlambat hampir satu jam." Ray menunjuk layar ponselku.


"Dia juga pakai sarung tangan, supaya tak ada sidik jarinya yang tertinggal." lanjutnya.


"Dari ciri fisiknya ada yang kamu curigai Lin?" tanya Josep dan aku menggeleng.

__ADS_1


Pria itu juga membekap mulut mas Akhtar dengan sapu tangan. "Itu obat bius kak." Langit menunjuk layar ponselku. "Mungkin agar mas Akhtar pingsan lebih lama."


Lalu orang tersebut menelpon seseorang. "Siap Bos! Tinggal menunggu waktu eksekusi!" Untung saja kamera tersembunyi itu juga dapat merekam suara.


"Dia cuma orang suruhan Bang." ucap Langit pada Ray dan Josep.


Lalu rekaman menujukkan mobil melaju sekitar empat puluh lima menit. Mobil berhenti di tempat sepi. Orang tersebut keluar dari mobil dan tak lama kembali lagi. "Ini saat dia mengeksekusi om Bram dan tante Hana." Ucap Josep.


Pria itu kembali memakaikan hoodie di tubuh mas Akhtar. Lalu melajukan mobil ke jalanan sepi dan "Braakkk." Menabrakkan mobil ke pohon di pinggir jalan. Lalu mendudukkan mas Akhtar di kursi kemudi.


"Ini sih psycho!" Ray terbelalak.


"Ini harusnya cukup jadi bukti untuk membebaskan mas Akhtar!" Ucap Langit.


"Serahkan pada pengacara, agar segera di urus!" Perintah Josep.


"Kalian harus hati-hati. Pasang mata dan telinga kalian baik-baik. Perhatikan siapapun yang mencurigakan. Terlebih keluarga terdekat. Karena saat Akhtar dibebaskan. Sudah pasti 'Big Bos'nya kalang kabut. Reaksinya bisa saja diam gak bertindak, tapi mungkin juga makin menggila." Sambungnya.


"Kalau ini ulah pesaing bisnis om Bram bagaimana?" tanyaku.


"Setidaknya Akhtar bebas dan kita serahkan semua pada pihak berwajib kak."


Kami menghubungi pengacara dan langsung memintanya datang ke kantor polisi.


"Hati-hati ponsel kalian bisa saja di sadap. Jangan gegabah saat menggunakannya." Josep kembali memperingati saat kami akan keluar dari ruangannya.


Kami tiba di kantor polisi, pengacara langsung mengurus segala sesuatunya dan mas Akhtar di bebaskan.


Kami keluar dari kantor polisi bertepatan dengan datangnya rombongan mama Riana dan tante Heni serta keluarganya.


"Tar, kamu bebas nak?" Mama langsung memeluk mas Akhtar. Dan papa juga ikut memeluk suamiku.


Aku mengamati keluarga tante Heni. Hanya Satya yang tidak ada. Mungkin dia sedang ke rumah sakit menjaga tante Hana.


"Kamu dibebaskan Tar?" tante Heni berjalan mendekat kearah suamiku.


"Iya Bi, aku terbukti tidak bersalah."


"Jadi siapa pelakunya kak?" tanya Sintya.


Mas Akhtar mengangkat bahu, "soal itu biar polisi yang mengurusnya Sin."


"Benar, yang penting sekarang sudah jelas bahwa kak Akhtar tidak bersalah." Sahut Ferdy.


"Ayo kita pulang ma, aku ingin bertemu mama Hana." Ucap mas Akhtar sambil berjalan dengan menggandeng tanganku dan mama.

__ADS_1


__ADS_2