
Lintang
Seminggu sejak liburan Bintang dan Zoya ke pulau, Bunga sudah dua kali berkunjung ke rumahku. Saat kutanya ada perlu apa? Dia malah menjawab, "Bunda Una kangen anak-anak, Kak!"
Seperti sekarang, dihari Minggu yang cerah dia
tiba-tiba datang. Aku mengatakan pada bi Imah untuk menyuruhnya masuk ke kamar karena aku tengah menyusui si kembar.
Dia mengetuk pintu kamar, lalu masuk dengan membawa beberapa paper bag yang katanya hadiah untuk anak-anak, termasuk baby Nair dan baby Nath.
"Anak-anak kemana kak? Kok sepi." Dia berjalan ke kamar mandi, langsung mencuci tangan. Kebiasaannya saat akan memegang bayiku.
Dia keluar dengan tangan yang sudah di keringkan. "Anak-anak pergi sama tante Hana dan mbak Dini. Katanya sih mau nyekar ke makam Arum. Mungkin sekalian jalan-jalan, Na."
"Suami kakak kemana, kak?"
"Sejak kemarin ke Surabaya."
"Loh, ngapain kesana?"
"Kak Satya akan memperkenalkan mas Akhtar sebagai pemilik baru Arumi Resto."
"Kak Satya?" Bunga tampak kaget. Ekspresinya terlihat jelas.
Aku mengangguk. "Kamu gak tau?" Aku menegakkan Nair agar ia bersendawa.
Wajahnya berubah sedih. Dia menggeleng. "Sejak kembali ke Kalimantan, kakak Satya mendiamkan aku kak."
"Kalian bertengkar?" tanyaku. Karena setelah dari jalan-jalan ke Aquarium raksasa Bunga menceritakan bahwa kak Satya akan melamarnya. Aku turut senang. Aku bahagia adik iparku mendapatkan pria yang tepat.
Bunga menggeleng. Hari minggu sore, dia datang ke rumah sebelum berangkat ke bandara. "Dia cuma bilang 'jaga diri baik-baik. Aku akan tetap mencintaimu, apapun yang terjadi'."
"Saat kutanya kenapa? Dia cuma tersenyum dan memelukku erat kak. Aku melihat wajahnya penuh kegelisahan." Bunga berkaca-kaca. Matanya mulai berembun.
"Dan sampai sekarang dia bahkan tak pernah mengangkat telponku, kak. Dia mengirimkan pesan agar aku tak terlambat makan. Dan pesan I love you, selalu dia kirim setiap harinya kak."
"Dia mungkin sedang sibuk, Na."
Bunga mengangkat bahu. "Empat hari kak. Kami hanya bertemu empat hari. Kami baru bahagia empat hari kak. Lalu sekarang??" Bunga terisak. Aku memeluknya setelah meletakkan Nair di box nya. Aku menuntun Bunga ke balkon kamar. Kami duduk di sofa.
"Kak, bantu aku. Aku harus bagaimana?"
Ini terasa aneh. Kak Satya menghindar, tapi selalu mengirim pesan cinta. Padahal setiap malam dia selalu melakukan video call dengan anak-anak walau hanya sekitar sepuluh menit.
__ADS_1
"Kamu tenang, ya." Aku mengelus bahunya.
Aku turun kebawah, mengambil minum untuk Bunga. Sepanjang menuruni anak tangga aku terus berfikir. Bagaimana jika aku mempertemukan Kak Satya dengan Bunga? Bagaimana jika aku langsung bertanya pada kak Satya tentang alasannya memperlakukan Bunga seperti itu? Tapi apakah aku tidak terlalu ikut campur dalam urusan mereka?
Aku masuk ke kamar dan melihat Bunga sedang menggendong Nath. Bayi itu terbangun, tapi tidak menangis.
"Kak, Nath haus nih?" Bunga menggerak-gerakkan tubuhnya, membuai Nath. Aku mengambil Nath dari gendongannya dan segera menyusui bayi mungil itu.
"Setiap hari kakak selalu begini, kak?"
Aku mengerutkan kening. "Begini?"
"Iya, begini. Dikurung di dalam kamar dan terus menyusui, menyusui, dan menyusui para bayi."
Aku tertawa kecil. "Ya mau bagaimana lagi, Na. Ini pilihan kakak untuk tidak memberikan mereka susu formula."
"Mereka pakai botol gak sih kak? Seperti Zoya dulu. ASI tapi pakai botol susu."
"Sesekali iya, Na. Terlebih saat kakak mandi. Selalu disediakan sama Dini."
"Kakak pompa dong?"
"Ya. Kalau mereka tidur lebih dari sejam, ASI udah langsung penuh, Na. Makanya kakak pompa dan disimpan."
Aku mengangguk.
Jam dua siang kami turun ke ruang keluarga. Para bayi tidak ada yang tidur. Keduanya terlihat anteng di bouncer masing-masing.
"Perut kenyang pada tenang ya, duo N?" Bunga mengajak mereka berbicara. "Besar nanti, sayang sama mama ya. Tuh lihat, mamanya sampai punya mata panda." Aku tersenyum mendengar ucapannya. "Mama pasti kurang tidur, gara-gara kalian nih. Kuat banget nyusunya."
Memang benar, semenjak lahirnya Nair dan Nath waktu tidurku menjadi berantakan. Kadang baru lima menit terlelap, aku harus kembali terjaga menyusui salah satu bayiku.
Untung saja mas Akhtar mau membantu mengurus si kecil. Bahkan dia beberapa kali bangun untuk menghangatkan ASI.
"Besar nanti, jadi pahlawannya mama, pelindung dan pembelanya mama."
"Bantu mama sama papa untuk jaga kakak-kakak kalian. Jagain mereka dari cowok gak beres yang mau mendekat." Bunga memegang tangan Nath dan menggerakkannya pelan seolah sedang meninju. "Pukul begini."
Aku tertawa. "Masih bayi udah di ajarin bar-bar sama tante Una ya, Nak." Ucapku yang tengah duduk di sofa.
Bunga juga tertawa. "Kak, si kembar kayaknya ngenalin aku deh. Mereka juga kayak sayang sama aku. Nih lihat, dua-duanya ngelus pipi aku kalau aku dekatkan wajah ke mereka."
"Assalamualaikum." Suara dari arah depan.
__ADS_1
"Waalaikum salam." jawabku. "Mas, kenapa gak minta jemput?" tanyaku pada mas Akhtar yang baru saja masuk.
"Naik taxi, Lin." Aku menyalami tangannya dan dia mengecup keningku. "Aku mandi dulu."
"Loh, ada Bunga!"
"Iya kak. Main sama si kembar."
Mas Akhtar langsung masuk ke kamar. Dan seorang pria masuk tanpa mengucap salam. "Anak-anak dimana Lin?"
Deg! Kak Satya?
Bunga langsung menoleh ke asal suara. Tapi dia kembali membuang muka setelah melihat siapa yang datang. Aku menggeleng pelan melihat tingkahnya. Rindu tapi gengsi.
"Loh, kak Satya ikut turun? Anak-anak belum pulang kak. Pergi sama tante Hana."
"Ku fikir udah pulang. Aku mau pulang bareng ibu. Sekalian ketemu anak-anak. Kangen."
"Sama yang itu gak kangen?" Aku menunjuk Bunga. Dan Kak Satya tak bereaksi. Bunga juga tampak diam saja.
Bi Imah menghidangkan minuman dingin kepada Kak Satya. Bersamaan dengan turunnya mas Akhtar dari lantai dua.
"Na, kita bicara sebentar." Kak Satya sudah berdiri.
Bunga menatapku dan kak Satya bergantian. Aku memberi kode padanya untuk ikut.
Akhirnya Bunga dan kak Satya berjalan ke belakang. Mungkin mereka akan berbicara di halaman belakang, atau di kolam renang.
Mas Akhtar langsung menghujani Nair dan Nath dengan ciuman. "Mamanya cuma sekali." Bisikku.
"Mama gak boleh banyak-banyak. Takut papa kepancing. Soalnya mama belum bisa di apa-apain." Ucapnya tanpa menoleh ke arahku.
"Dih, kamu selalu kesana mikirnya, Mas."
"Aku sedang puasa 40 hari Lin. Jangan di goda dulu ya sayang." Dia kini menumpukan dagunya di lututku. Sedari tadi dia memang duduk membelakangiku dan menghadap si kembar. Mereka duduk di karpet sementara aku duduk di sofa.
Aku mengelus kepalanya. "Oke bayi besar mama." Mas Akhtar meletakkan kepalanya di lututku. Dia memang merasa tenang jika di elus rambutnya seperti ini. Sejak dulu mama Riana memang sering melakukannya.
"Mas, Kak Satya sama Bunga sepertinya sedang ada masalah."
Dia mengangguk, lalu menatapku. "Mama Hana gak kasih restu!"
Masalah berat, Na!
__ADS_1