
Bunga
Untuk pertama kalinya setelah dua tahun, aku melihat wajah tampan itu. Aku merindukannya sungguh! Jika tak ada siapapun disini, aku akan masuk dalam rengkuhannya dan mengec*p rahang kokoh itu.
Aku berdebar melihatnya. Melihat cinta dan rindu yang sama besar pada matanya. Dia terlihat semakin dewasa. Kak, kamu semakin tampan!
Aku tengah bersiap, mematut diri di depan cermin. Karena selepas sholat Jum'at Kak Satya akan menjemputku bersama Bintang dan Zoya. Sesuai janji untuk membawa mereka ke Aquarium raksasa.
Aku memakai celana jeans biru muda dan atasan blouse lengan panjang berwarna putih. Aku sudah mengirim pesan pada kak Lintang untuk memakaikan pakaian senada kepada Zoya dan Bintang.
Aku menyempurnakan penampilanku dengan lipstick nude. Tapi ingatanku melambung saat pertemuan pertama kami di sebuah bus.
Aku nekat ke Jogja, karena seorang pria yang berstatus sebagai pacarku. Pria yang hampir enam bulan tak pernah menemuiku dengan alasan sibuk kuliah. Dan dengan berbekal uang tabungan yang kusisihkan dari uang jajanku, aku menyusulnya ke Jogja.
Aku berbohong pada orang tuaku, aku mengatakan menginap di rumah temanku. Hal yang biasa kulakukan saat ada tugas kelompok.
Aku membawa ransel kecil yang hanya berisi sepasang pakaian ganti. Aku tiba di kosan tempatnya tinggal. Bertanya pada satpam guna memastikan dia benar tinggal disini. "Oh, mas Calvin belum pulang, mbak. Biasanya sih siang. Saudaranya ya?" Aku mengangguk ragu.
Aku menunggunya di pos satpam, dan saat satpam itu sedang kekamar mandi, Calvin datang bersama seorang wanita yang duduk di boncengannya dan memeluk pinggangnya erat.
Aku masih belum menemuinya. Mereka naik ke lantai dua dan belum juga masuk kedalam, mereka sudah saling cium. Ya Tuhan, apa yang ku lihat ini?
Aku memfoto mereka, dan mengirimkan foto itu padanya.
Terima kasih atas sambutan panasnya. Setelah ini jangan cari atau hubungi aku lagi!
Aku segera pergi dan membeli tiket pulang di terminal. Aku sempat memeriksa ponsel dan lelaki itu tak membalas sama sekali. Ku masukkan ponsel ke tas. Dan tiket ku masukkan ke kantong celanku.
Setengah jam sebelum bus berangkat, aku kecopetan. Seorang pria kurus melarikan ranselku. Aku berusaha mengejar, namun nihil.
Aku bingung harus bagaimana. Menghubungi mama dan kakakku sama saja meledakkan bom bunuh diri.
Akhirnya, dengan langkah gontai aku memasuki bus. Untung saja tiketku ada di kantong. Setidaknya aku bisa pulang.
Dan malam hari cuaca sedang hujan deras. Aku yang tak memakai jaket merasakan tubuhku menggigil. Aku memang tak tahan dengan suhu dingin.
Pria disebelahku memberikan hoodie dan minyak anginnya kepadaku. Pria asing saja bisa berbaik hati padaku. Sedangkan Calvin yang mengaku pacar justru menyakiti**ku.
Dan aku terkejut saat aku meringkuk kedinginan, pria disebalahku mencium tepat di bibirku. Aku terbelalak. Tapi deru nafasnya penuh kehangatan menyerbu wajahku, terlebih saat dia menyatukan kening kami. Wajahku memanas.
Ini jelas pelec*han. Tapi aku tau dia tak akan melakukan lebih. Dia tak mungkin memperk*saku disini, kan?
Jika Calvin bisa, mengapa aku tidak! Hatiku masih dipenuhi amarah.
__ADS_1
Dia berulang kali mengatakan maaf. Aku tak mengerti mengapa tubuhku tak menolaknya, saat dia memelukku aku justru terisak.
Aku merasa sendiri, menjadi wanita bodoh yang rela membohongi orang tua demi seorang pria pecund*ng.
Beberapa hari setelah kejadian itu, dia menemuiku kesekolah dan menyapaku di kursi taman. Aku terpesona, dia mencariku. Jika dia pria baj*ngan, dia tak akan mau menemuiku lagi setelah perlakuannya di bus itu.
Tapi dia berbeda, dia menjadi teman bicara yang menyenangkan. Dia menjadi sosok kakak yang menasehatiku dikala aku menceritakan setiap masalah yang kuhadapi, terlebih masalah sekolah.
Kami menjalani hubungan tanpa sepengetahuan keluarga. Aku sengaja tak mengenalkannya. Karena takut jika dia sama seperti Calvin. Aku hanya akan mengenalkan pria yang benar-benar ku yakini akan menjadi suamiku.
Aku mencintainya. Tapi Kak Rezki berselingkuh dengan adiknya. Selama ini aku mengenal kak Arum, pacar kakakku saat SMA. Tapi kak Arum menikah, meninggalkan kakakku karena ia di jodohkan. Lalu setelah kakakku menikah, dia kembali, merusak rumah tangga kak Rezki dan kak Lintang.
Aku tak mungkin melanjutkan hubungan kami. Masa depan yang sudah sering ku bayangkan hancur berkeping saat jasad kak Rezki dan kak Arum terbujur kaku di rumah sakit. Terlebih saat aku melihat pria yang kucintai menatap lekat jasad adiknya.
Aku mundur, tapi cintaku tak pernah luntur. Hingga kemarin kami di pertemukan kembali di rumah kak Lintang.
Seorang asisten rumah tangga mengetuk pintu kamarku. Dan mengatakan kak Satya sudah datang dan menunggu di ruang tamu.
"Loh, anak-anak dimana kak?" Pria berkemeja putih itu menoleh kearahku yang sedang berjalan turun menapaki anak tangga.
"Masih di rumah, baru bangun tidur siang. Jadi aku menjemputmu lebih dulu." Jawabnya.
"Minum dulu, kak?" Aku menawari.
Gandeng, Jangan? Peluk, boleh? Aku nyaris tertawa saat pikiran aneh itu melintas di otakku.
Aku duduk di sampingnya yang tengah mengemudi. Awalnya kami saling diam. Tapi sepertinya dia tak tahan dengan kebisuan ini. "Bagaimana hatimu, Na? Apakah masih sama?" tanyanya sembari menatapku sekilas.
Aku tak menjawab. Aku memilih terhanyut dalam lamunan, menatap jalanan yang ramai.
"Aku akan datang, memintamu pada om Darma." Ucapnya tegas.
Aku menatapnya yang tengah berkonsentrasi mengemudi. "Aku belum siap?"
"Kamu tak pernah siap, Na? Kamu terlalu takut."
"Bagaimana jika kita tidak direstui lalu kita dipisahkan?" ucapku lirih. Setidaknya aku bisa melihat wajahnya sekarang. Sudah cukup aku terpisah darinya selama dua tahun. Walau atas permintaanku, tapi aku sendiri yang tersiksa. Aku berulang kali memberi kesempatan pada pria lain. Namun, tak pernah ada yang bisa menggantikan posisinya di hatiku.
"Kawin lari!"
Aku langsung memukul lengannya. "Ide gila." Ucapku sinis.
"Atau ku perk*sa disini. Dan pulang nanti menangislah dihadapan kedua orang tuamu." Ucapnya dengan tawa kecil.
__ADS_1
"Aku hamil nganggur, dan kamu di penjara!" Jawabku sewot. Bisa-bisanya dia berfikir seperti itu.
Dia terbahak. Dia mengambil telapak tanganku dan menggenggamnya. "Percayalah, selama apapun kita mengulur waktu. Rasa itu tak akan pernah berubah, Na."
Dia meletakkan tanganku di dadanya. "Kenyataan antar Rezki dan Arum juga tak kan pernah bisa di ubah, Na."
"Keluarga kita sudah baik-baik saja."
"Sekarang saatnya kita memperjelas hubungan ini."
"Umurku sudah kepala tiga, Na. Hiduplah denganku, lahirkan keturunanku. Jadilah istri dan ibu dari anak-anakku." Dia melamarku?
"Jadilah wanita yang bisa ku pandang seblum dan saat bangun tidur. Jadilah wanita yang menjadi alasanku bekerja, alasanku tersenyum dan alasanku untuk tetap hidup."
"Kisah kita sudah terlalu panjang untuk sekedar di gantung, Na?"
"Dua tahun lalu, kamu ingin melihat bagaimana kita saat ini kan? Dan ini lah kita. Masih dengan rasa yang sama bahkan jauh lebih besar."
"Aku mencintaimu, Na. Masih dan akan terus mencintaimu. Tak peduli ratusan wanita datang menawarkan cinta. Karena hatiku sudah hilang sejak kamu mengambilnya di bus Jogja-Jakarta."
Aku tertawa dengan air mata yang membanjiri pipi.
"Malah ketawa." Dia pura-pura merajuk.
Mobil berhenti karena lampu merah. Aku membuka seatbelt dan memeluknya erat. Terserah mau dibilang agresif atau keganjenan. Aku tak peduli.
"Eh..." dia terkejut.
"Jadilah suamiku, kak. Minta aku pada papa. Semoga jalan kita dimudahkan, kak. Aku mencintaimu, sungguh."
Aku menyatukan bibir kami. Manis.
Dia tak menyia-nyiakan kesempatan. Melahapku habis-habisan hingga bernafas pun sulit.
"Tiiiiiiin..." Klakson mobil membuat kami saling melepaskan diri.
"Kak, kita dilihat orang?" Aku baru menyadari ini. Kami mungkin menjadi tontonan orang di lampu merah.
"Kaca gelap, Na."
"Lagi, yuk!" sambungnya.
Aku membuang muka, wajahku memanas dan sudah pasti bersemu merah.
__ADS_1