
Akhtar
Hari Sabtu begini biasanya kami habiskan dengan bersantai. Namun ada agenda yang sudah kami susun dari jauh-jauh hari yaitu pergi ke rumah mama Hana. Sebenarnya kami sudah beberapa kali menyambangi rumahnya semenjak beliau pulang dari rumah sakit dua minggu lalu.
"Belok kanan." Zoya menunjukkan arah kepadaku. Kedua putriku tengah duduk di kursi belakang. "Stop Pa! Lampu merah!" Dan aku menghentikan mobil. Mengantri di belakang kendaraan yang padat merayap.
"Setelah ini belok kemana Zoy." Tanya Bintang.
Aku melihat keduanya dari spion tengah. Zoya diam sejenak, bola matanya melihat ke atas seolah tengah berfikir keras. "He...he...he... lupa Bi?"
"Setelah ini belok kemana, Ma?" Zoya malah bertanya pada Lintang yang duduk di sebelahku.
"Yaaa, Zoya curang ih! Masa tanya sama mama."
"Zoya lupa, Bintaaaaang." Suaranya terdengar menggemaskan. "Memangnya kamu ingat, Bi?" tanyanya.
Bintang menggeleng. "Ahaaaa!!!" Oke. Sepertinya Bintang punya ide cemerlang.
"Pakai hp mama, Zoy. Om Bayu kalau antar paket suka ada kakak-kakak yang kasih tau dia loh Zoy. Belok kanan. Belok kiri." Aku terkekeh, karena yang dimaksud adalah google maps.
"Oh yaa!" Aku melihat mata Zoya berbinar. "Ayo ma, minta bantuan kakak itu aja. Yang temannya om Bayu." Lintang malah tertawa menanggapi ucapan Zoya.
"Papa tau arahnya sayang. Kita gak akan nyasar. Kita kan sudah sering ke rumah oma Hana." Ucapku pada keduanya.
Dering ponselku berbunyi. Aku mengambilnya dari tas selempangku dan memberikannya pada Lintang. Karena lampu sudah berubah hijau.
Lintang mengarahkan layar pada anak-anak setelah menjawab panggilan dari Satya. "Uncle Satya, Zoy."
Dan suara riuh langsung memekakan telingaku. "Haiiiiii uncle Satyaaaaaa!"
"Haiii sayang-sayangnya uncle."
"Lagi di mobil yaaa? Pada mau kemana?"
"Mau ke rumah oma Hanaaaa." Suara ceria itu membuat Satya tertawa.
"Oh ya, uncle juga mau kesana nih! Baru jalan dari bandara."
"Yeeee... ada uncle Satya."
"Sudah dulu ya, kita jumpa disana. Sekarang uncle mau bicara sama papa kalian dulu."
"Daaa uncle." Keduanya melambaikan tangan.
"Ada apa Sat?" tanyaku saat Lintang mengarahkan layar ponsel padaku. Tapi aku tetap fokus mengemudikan mobil.
"Tadinya mau minta kamu untuk datang ke rumah ibu. Tapi kalian malah sudah jalan."
"Iya... Karena mama pasti kangen sama Zoya."
__ADS_1
"Ya sudah, kita ketemu disana Tar. Ada hal penting yang harus kita selesaikan."
"Oke... Oke..."
***
"Assalamualaikum Omaaaaa." Kedua putriku berlari menghampiri mama Hana yang sedang menunggu di teras rumah.
"Waalaikum salam cucu-cucu oma." Mama Hana menggandeng tangan mereka dan berjalan menuju sofa. Mama Hana sudah tampak sehat seperti sedia kala. Walau masih terlihat kantung mata yang menandakan waktu tidurnya yang tak cukup.
Pasti sulit menerima kenyataan, ditinggal suami yang ia cintai. Bahkan menyaksikan secara langsung bagaimana seseorang menikam suaminya berkali-kali dengan belati.
"Mama sehat, Ma?" Aku mencium punggung tangannya saat beliau sudah duduk di sofa.
Lintang juga menanyakan hal yang sama saat memeluk wanita paruhbaya itu.
"Seperti yang kalian lihat. Mama sehat." Ucapnya mama Hana.
"Assalamualaikum." Suara bariton dari arah depan menyita perhatian kami. Seorang pria yang mengenakan celana pendek, kaos polo berkerah dan tas punggung itu langsung meraih tangan mama Hana untuk ia cium.
Kami menjawab salamnya. "Dari Kalimantan, Sat?" tanyaku.
"Iya lah, emang dari mana?"
"Gila! Santai bener."
"Dih, Bos pertambangan pulang kampung ala backpaker." Sindirku.
"Ha...ha...ha... Kelihatan banget ngiritnya ya?" Ucapnya dengan tawa. Lalu duduk berlutut di depan dua bocah berkucir dua yang tengah menikmati kue nastar.
"Haiiii sayang? Gak mau peluk uncle nih?"
Keduanya langsung menyerbu dalam pelukan Satya. "Uncle bawa sesuatu." Satya melepas pelukannya. Melepas tas di punggungnya dan mengambil sesuatu dari dalamnya. "Ini buat Zoya." Satya meletakkan sebuah kotak kecil ditangan Zoya. "Dan ini untuk Bintang." Lalu meletakkan kotak dengan ukuran yang sama ditangan Bintang.
Mata mereka berbinar. "Buka ya uncle!" Satya mengangguk.
Mereka segera membukanya. Dan kado itu berhasil membuat mereka menjerit kegirangan.
"Yeeeee... Terima kasih uncle. Uncle terbaik." Mereka berdiri di sofa dan mengangkat tinggi-tinggi cat lukis hadiah dari Satya.
Mereka kegirangan, padahal di rumah sudah banyak cat seperti itu. Batinku.
"Zoya, Bintang. Duduk nak!" Perintah Lintang dengan suara rendah, tanpa menjerit.
Dan Yaaap. Mereka langsung diam dan kembali duduk. "Siap mama." Keduanya memberi hormat.
Aku terkesima. Bagaimana bisa Lintang membuat mereka tenang hanya dengan sekali perintah. Amazing.
Sekitar jam sepuluh, beberapa orang pria datang ke rumah mama Hana. Ternyata salah satunya adalah seorang notaris yang memegang surat wasiat papa Bram.
__ADS_1
Kami berkumpul di ruang tamu, sedangkan anak-anak sedang bermain di ruangan lain bersama para pekerja di rumah itu.
"Jadi, karena ini kamu memintaku kesini Sat?" Tanyaku. Dan Satya mengangguk.
Pria bernama Bondan itu langsung membacakan isi surat wasiat yang diamanahkan papa.
"Saya memberikan satu unit rumah dan seluruh isinya yang terletak di....." Pak Bondan menyebutkan alamat rumah yang sekarang ditinggali mama Hana, "serta 30% saham yang saya miliki di Hotel xxx kepada istri saya Hana Lestari."
"Saya memberikan satu unit rumah di...." pak Bondan menyebut sebuah alamat di kota Surabaya, "serta dua wilayah pertambangan, 100 hektar perkebunan kelapa sawit dan sebuah pabrik kelapa sawit yang terletak di Kalimantan kepada putra angkat saya Satya Bramantyo Putra."
"Saya memberikan satu unit rumah di..." pak Bondan menyebut sebuah alamat yang hanya berjarak dua blok dari rumah kami, "tiga cabang Arumi Resto serta lima unit Villa di Bandung kepada cucu saya Zoya Khairumi Bramantyo yang akan akan dikelolah oleh Akhtar Alvarendra selaku orang tua angkatnya yang sah sebelum usianya 21 tahun."
"Demikian surat wasiat ini saya buat, dengan saksi-saksi yang saya percaya."
Aku dan Lintang saling pandang. Papa Bram mempercayakan pada kami harta warisan yang di terima Zoya.
"Ma..." Ucapku pada mama Hana.
"Mama titip Zoya, Tar."
"Sat, please. Kamu yang pegang ya. Aku masih bisa membiayai Zoya sampai dewasa. Setelah dewasa kamu bisa memberikan haknya. Aku gak bisa pegang amanah ini Sat." Ucapku pada Satya.
Satya menggeleng. "Itu keinginan terakhir ayah, Tar. Zoya bahagia bersama kalian. Dia punya keluarga yang utuh."
"Satya..." Aku masih berusaha membujuknya.
"Aku hanya berjanji pada ayah untuk menjaga ibu dan Zoya serta membantumu menjalankan Arumi Resto. Sekedar membantu. Bukan untuk memegang sepenuhnya."
"Tapi aku punya pekerjaanku sendiri Sat."
"Aku bantu Tar. Kamu bisa berhenti bekerja dan mulai menjalankan usaha papa."
"Tapi itu milik Zoya, Sat."
Dan percuma saja berdebat. Karena apa yang menjadi wasiat papa haruslah dijalankan. Dan akhirnya aku menerima semua yang di percayakaan padaku.
"Semoga Akhtar bisa menerima amanah dari papa, Ma." Mama memelukku erat. "Sekali lagi, titip Zoya, Tar."
****
Hai readers tersayaaang 😗😗😗 Maafkan author yang up nya masih random ya 😂😂
Nulis Bab ini tuh maju mundur, karena masalah surat wasiat 😥😥 Ampun daah harus Seaching sana-sini.
Kalau ada yang harus di koreksi, please tulis di komentar ya cintaaaa 😊. Biar author revisi ceritanya. Atau author hapus pas part surat wasiat itu 😥
Maafkan daku, Author gak keceh yang baru belajar nulis 🤗
Happy reading dan jangan Lupa tinggalkan jejak akak cantiiik 😊
__ADS_1