Aku Dan Bintang

Aku Dan Bintang
Bab 51 Oke Deal


__ADS_3

Akhtar


Tak lama setelah kepulangan Sora dan Abi. Aku melihat Lintang bersungut-sungut berjalan dari arah dapur. Wajahnya cemberut dan dia terlihat kesal. Lintang langsung duduk di sebelahku dan menelusupkan kepalanya di ketiakku.


"Kenapa, sayang?" tanyaku.


Mama, papa, ayah dan bunda juga merasakan sesuatu terjadi pada istriku.


Dia tidak menjawab dan malah terisak. "Heei, kenapa Lin. Ada yang sakit?" Aku sedikit mendorongnya supaya dapat melihat wajahnya?


Matanya basah, Kenapa dia?


"Mama kenapa ma? Dinakalin sama om Skai?" Bintang berdiri di depanku untuk memastikan bahwa Lintang baik-baik saja.


"Ayo Bi, kita balas om Langit. Dia udah jahatin mama." Zoya dan Bintang langsung berlari kearah belakang dimana pemuda jahil bernama Langit itu berada.


Lintang menatapku. "Aku dikatain badut ulang tahun sama Langit?" Dia menangis seperti anak kecil.


Aku ingin tertawa, tapi itu pasti bahaya untuk kesejahteraan tidur malamku. Aku melirik dua pasang orang tua yang sedari tadi hanya diam. Dan ya, seperti dugaanku. Mereka juga mengulum senyum. Bahkan bunda sampai menutup mulut agar tawanya tidak meledak.


"Badut ulang tahun kan biasanya yang mukanya putih, hidung merah kayak tomat, sama perutnya yang besar itu kan, Mas?" tanyanya.


Aku mengangguk. Lalu Lintang spontan menjauhiku, dan menepuk lenganku. "Berarti kamu sama aja sama Langit. Kamu juga mandang aku mirip badut kan?"


Ya elaaah, salah lagi kan?


"Enggak sayang. Aku gak bilang begitu. Kamu tetap cantik seperti pertama kali kita ketemu." Aku menjeda ucapanku lalu berbisik padanya, "dan makin sexy."


Matanya memicing. Oke Tar, hitung mundur di mulai. 3... 2...1.


"Kamu kalau bohong itu kira-kira dong, Mas." Sekarang perutku habis dengan cubitannya. "Mana ada kata sexy dengan berat badanku yang udah naik 20 kilo."


"Mukaku aja udah lebih besar dari bakso jumbo Kang Soleh diujung jalan sana." Dia menunjuk arah selatan dimana warung Kang Soleh berada. Aku yakin dia asal tunjuk. Tapi kenapa bisa pas?


"Udah sayang, tenang ya. Sikembar entar kaget loh kalau mamanya jerit-jeritan." Aku melirik dua pasang orang tua yang masih sibuk menahan tawa.


"Biar aja. Hitung-hitung latihan." Dia masih cemberut. Tapi aku tau, otaknya tengah berfikir keras. Terlihat dari sorot matanya yang hanya menatap satu objek, yaitu lantai.


"Kamu pasti suka lirik-lirik karyawan cewek di kantor kan?" Tuduhnya.


Ya Allah, apa lagi ini?


"Enggak sayang. Gak pernah. Sumpah!" Ku acungkan jari telunjuk dan jari tengahku.


"Jangan sumpah-sumpah, Mas! Pamali."


Terserah Lin, terserah. Mau pamali atau bumali yang penting kamu jangan ngamuk begini.


"Beneran sayang." Aku menariknya dalam pelukan. Tapi dia menolak untuk ku peluk.


"Yakin!" Dia masih menelisik wajahku.

__ADS_1


"Yakin sayang. Yakin!" Ucapku seribu persen yakin.


"Perlu aku pasang Gps di badan kamu, Mas? Atau mau kamera tersembunyi?" Dia melipat tangannya di dada. Huuh, udah dong Lin. Kita gak lagi main detektif-detektifan, sayang.


"Gak perlu Lin, kan ada Langit yang ngawasi aku."


"Aku gak percaya sama dia."


"Kalau gitu ikut aku ke kantor." Aku seketika terdiam. Astaga! Sepertinya aku salah bicara.


"Oke. Deal!!!" Serunya senang, menjabat tanganku secara paksa tanpa menunggu jeda barang semenit pun.


****


Dan pagi ini aku menyaksikan pemandangan terindah. Wanita berperut besar karena ulahku itu tengah memasak di dapur, bersenandung ria seolah tak ada perdebatan sengit kemarin. Anak-anak bahkan sudah berseragam rapi duduk di meja makan.


"Selamat pagi para princess. Semangat ke sekolah!"


"Semangat papaaaa."


"Good. Belajar yang rajin. Biar jadi orang sukses!"


"Iya paaa." Keduanya selalu kompak.


"Pulang sama tante Sora. Ikut ke rumah nenek ya anak-anak. Sore nanti mama jemput." Lintang datang dari arah dapur. "Nasi goreng seafood sudah selesai." Dia bahagia sekali pagi ini.


"Siap mamaaa."


Bi Imah meletakkan empat piring berisi nasi goreng sesuai porsi kami masing-masing. Sementara Lintang meletakkan empat gelas susu untuk kami. Susu kedelai untuk Zoya, dan susu ibu hamil untuknya.


Dan anak-anak berseru senang. "Ma, cat Bintang sudah mau habis. Kapan-kapan beli lagi ya ma."


"Oke sayang. Kalau Zoya mau beli apa?" Tanya Lintang padanya.


"Zo... ya... boleh belajar melukis seperti Bi?"


Lintang tersenyum, "Boleh sayang, boleh sekali. Nanti mama belikan sama seperti punya Bintang ya. Atau kalian mau mama daftarkan les melukis?"


"Papa setuju!" Ucapku spontan. Anak-anak butuh hiburan. Aktifitas dan pelajaran di sekolah juga harus diselingi dengan kegiatan yang membuat mereka senang.


"Yeee.... terima kasih ma, pa."


"Langit gak ikut, Mas?" Tanyanya saat kami tidak menunggu Langit datang.


"Dia bawa motor. Sudah berangkat lebih pagi karena mempersiapkan meeting." Jawabku sambil memfokuskan diri mengemudi.


Sesampainya di sekolah, aku bergegas turun dari mobil dan mengantarkan kedua anakku ke kelas. "Selamat pagi pak Akhtar." Sapa seorang guru yang menunggu di depan kelas.


"Selamat pagi juga bu Guru," balasku.


Aku berjongkok menyamakan tinggi dengan anak-anakku. "Belajar yang rajin. Jangan nakal. Jangan buat bu Guru marah! Oke princesses." Aku mencium kening keduanya. Dan berbalas dengan kecupan di pipi kanan dan kiriku.

__ADS_1


"Waah, pada semangat ya diantar papanya." Bu Guru menyodorkan tangan untuk di salami anak-anak.


"Pasti dong bu Guru." Sahut Bintang.


"Mamanya kemana nih?"


"Ada di mobil." Aku menunjuk arah dimana mobilku terparkir.


"Saya permisi dulu bu Guru. Titip anak-anak. Dan ya, mereka pulang sama Sora, ya Bu." Ucapku pada bu Guru.


Aku berjalan menuju mobil dengan diringi tatapan memuja para mama yang mengantar anak-anak. Bisik-bisik juga terdengar.


"Hot daday banget?" Ya elaah, baru nyadar.


"Otot kawat tulang besi. Uhhh beli dimana sih?" Di toko bangunan Bu!


"Dadanya, ah... jadi pengen peluk?" Enak aja. Dia kira tubuhku fasilitas umum.


"Lintang beruntung banget sih bisa nikah sama anaknya Bu Riana." Yeah, that's right Bu!


"Selamat pagi Ibu-Ibu." Sapaku pada mereka.


Semuanya tersenyum ceria bak mendapat sapaan dari artis terpopular. "Pagi Pak Akhtar. Istrinya mana pak? Kok gak ikut?"


"Iya, biasanya mamanya yang antar anak-anak."


"Mamanya ada di mobil, Bu." Aku menunjuk mobilku. "Saya duluan ya," Lanjutku.


Aku masuk ke dalam mobil. Dan Lintang biasa saja. Gak cemburu nih?


Aku menyalakan mobil dan segera bergegas menuju kantor.


"Seneng banget yang di sapa emak-emak cantik." Here we go! Taring dan tanduknya sudah keluar!


"Cemburu nih ceritanya." Aku sengaja menanggapinya sambil bercanda.


Lintang mengeryit. "Dih, gak cemburu tuh!"


"Tumben."


"Standart mereka mengukur kegantengan orang itu terlalu rendah, Mas!"


Sekarang gantian keningku yang mengernyit. "Lah kok gitu."


"Iya, soalnya kemarin itu ada papanya salah satu murid mengantar anaknya. Masa jambang sama janggut kayak hutan belantara masih juga dibilang ganteng." Lintang bergidik ngerih.


"Berarti aku terlalu ganteng dong di mata mereka." Dia mengangguk.


"Kalau di mata kamu?" Aku menatapnya.


"B aja." What? Biasa aja?

__ADS_1


"Kok mau sama aku yang B aja bengini?"


"Karena yang dateng ngelamar aku gak ada yang lebih ganteng dari kamu." Ucapnya tanpa ragu sedikitpun.


__ADS_2