
Kita dengarkan cerita versi Zoya, yuk! Zoya masih anak 10 tahun, jadi wajar ya kalau Povnya bakal berantakan 😂
[Alasan othor yang mau nulis ngasal 😂😂😂]
Zoya
Aku Zoya Khairumi Bramantyo. Aku punya dua mama dan satu papa. Almarhum mama Arum dan mama Lintang, serta papa Akhtar. Aku punya tiga saudara. Bintang, Nair dan Nath.
Sekarang umurku sepuluh tahun. Aku mulai mengerti tentang hubungan keluarga dan perasaan. Kalau dulu aku hanya tau bermain, kini aku tau bagaimana kami semua terhubung. Aku, Bi, mama papa, Ayah bunda, kakek nenek, uti kakung, dan yang lainnya.
Aku tau bagaimana aku disayangi dan menyayangi mereka semua. Selama ini aku bahagia. Apalagi ada ayah Satya yangselalu mrndengar ceritaku. Dan bunda Una yang asik seperti temanku.
Menurut cerita oma Hana, aku anak mama Arum yang diadopsi oleh mama Lintang dan papa Akhtar. Aku tau itu, karena saat itu usiaku sudah empat tahun lebih. Yang aku bingungkan siapa papa kandungku?
Oma bilang, papaku sudah meninggal. Lalu dimana makamnya? Dan dimana kakek nenekku? Aku bingung dengan asal usulku. Apakah mama Arum memang mamaku? Atau aku cuma bayi yang dibuang lalu di ambil oleh oma dan opa?
Aku tidak ingin bertanya, karena akan membuat oma Hana sedih. Akhirnya aku memendam semua pertanyaan itu. Aku yakin saat dewasa nanti aku akan tau jawabannya.
Dua hari lalu, seorang laki-laki lebih tua dari papa datang menemuiku saat aku menunggu mang Joko menjemput. Kebetulan Bi ada kegiatan tambahan, yaitu ekskul melukis.
Laki-laki itu mendatangiku. "Nama kamu Zoya kan? Anaknya Arum?"
Aku merasa heran sekaligus takut. Kenapa dia mengenalku. "I-iya om. Om siapa?" Aku melihat kanan kiri dan syukurnya masih ramai.
"Om teman mama dan papa kamu?"
Mendengar kata papa. Aku langsung deg-degan. Papa siapa? Papa Akhtar?
"Papa Akhtar?"
Om itu tersenyum dan menggeleng. "Papa kandung kamu."
Aku mundur selangkah. Ini pasti bohong. Siapa dia yang tau papa kandungku?
"Cari tau saja di rumah oma mu. Mamamu dulu pernah menikah. Besok pagi temui om di situ." Om itu menunjuk arah samping gerbang.
"Om akan bawa bukti. Om kasihan sama kamu yang di bohongi terus-terusan. Mendiang mamamu pasti sedih melihat kamu yang terus dibohongi." Om itu pergi dan tak lama mang Joko datang.
__ADS_1
Aku memikirkan ucapan om itu. Aku harus cari tau! "Mang, antar Zoya ke rumah oma Hana, ya."
"Mamang telpon buk Lintang dulu, ya."
Mang Joko menelpon mama dan mama mengizinkan. Aku tau mama pasti mengizikan kalau ku katakan akan ke rumah oma.
Aku tiba di ruah oma. Dan Bik Jum langsung menyambutku. "Ibu Hana sedang ke makam, non. Mungkin sebentar lagi pulang."
Bagus, oma gak ada di rumah. "Gak apa-apa Bik. Aku mau ke kamar mama Arum. Aku kangen suasana kamar mama."
"Makan dulu, Non."
"Nanti aja, aku mau bareng oma." Aku langsung menaiki anak tangga dan masuk ke kamar mama Arum dengan kunci yang sudah ku tau di simpan dimana. Oma sudah memberi tahuku dimana kuncinya disimpan.
Aku mengunci pintu dari dalam. "Mamaaaa." Aku langsung duduk di lantai. Ku lihat foto mama yang menempel di dinding.
"Mama, Zoya anak mama kan?" Aku menatap wajah yang mirip denganku itu.
"Kita gak pernah ketemu ma, tapi Zoya sayang mama. Karena mama, Zoya ada disini. Bisa kenal mama Lintang, papa Akhtar dan yang lainnya."
"Terima kasih mama sudah melahirkan Zoya."
"Mama simpan foto papa kan? Pasti mama simpan."
Aku bangkit. "Maaf, Zoya bongkar-bongkar kamar mama."
Aku membuka lemari pakaian mama yang kuncinya ku ambil dari laci meja di dekat tempat tidur. Aku mencari apapun yang bisa menjadi petunjuk.
Aku sebenarnya takut melakukan ini. Karena ini perbuatan yang salah. Aku seperti pencuri. Tpi anggap saja aku sedang jadi detektif seperti kartun yang sering ku tonton. Atau aku seorang polisi yang mencari barang bukti seperti yang sering ku lihat di tv.
Aku sudah mencari di semua ruang di lemari. Aku sampai naik ke kursi tapi tidak menemukan apapun.
Aku hampir menyerah. Oma pasti sudah mau sampai rumah nih. Ayo Zoy, jangan nyerah.
Dan mataku tertuju pada kotak kecil berwarna biru dongker yang terletak di lemari paling ujung. Dibawah pakaian yang digantung.
Aku mengambil kotak itu dan membukanya. Ada beberapa amplop coklat. Dan aku tertarik dengan kertas bertulis. Malaikat kecil Mama.
__ADS_1
Ku buka isinya foto hitam putih, seperti hasil pemeriksaan dari dokter kerena ada kertas dengan nama sebuah rumah sakit. Ini foto USG seperti yang mama Lintang dan bunda Una punya.
"Ini aku?" Ku elus foto yang tidak jelas gambarnya itu. Ada banyak. Ada lima buah foto.
"Zoya anak mama, Ma?" Ku peluk foto dan kertas-kertas itu. Air mataku menetes.
Aku lihat amplop yang lain. My first love. Aku tau artinya, cinta pertamaku. Aku langsung membuka amplop itu dan isinya foto mama dengan seorang laki-laki yang sepertinya pernah ku lihat. Tapi di mana?
Ya ampun!! Ini papa Bintang. Papa Rezki!
Aku selalu melihat fotonya ada di kamar kami karena Bintang yang minta di letakkan di nakas sebelah tempat tidur.
Dan satu foto membuatku ingin menangis. Mama Arum dengan perut besar sedang duduk di kursi dan papa Bintang mencium perutnya.
Mama hamil siapa? Apa itu aku? Berarti papa Bi, juga papaku? Zoya bingung, Ma.
Paa, inikah papa Zoya? Kalau iya, kenapa bisa papa juga jadi papanya Bintang?
Aku menghapus air mataku dengan tangan. Aku melihat amplop ke tiga. Pernikahanku. Mama menikah?
Tokk... tokk... tokk...
"Zoya, kamu di dalam sayang?"
Oma! Bagaimana ini?
Aku buru-buru memasukkan amplop kedalam kotak dan meletakkan kotak itu ketempatnya semula. Aku mengunci lemari dan menyimpannya kembali.
"Zoyaaaa! Kamu sedang apa, Nak?" Oma terus mengetuk pintu.
"Sebentar oma." ucapku dengan suara serak karena aku menangis dalam diam sedari tadi. Aku mengambil foto mama di nakas dan berlari untuk membuka pintu.
Saat pintu di buka, aku menatap wajah oma. Oma merahasiakan papa dariku. Apa karena papaku dan papa Bintang orang yang sama.
Umur kami sama. Tapi mama kami berbeda. Apa papa punya dua istri?
Aku memeluk oma. Oma menuntunku ke tempat tidur. "Zoya kenapa, Nak? Kok nangis?"
__ADS_1
Aku diam dan kembali memeluk oma. Apa mama jahat, oma? Atau mama Lintang yang jahat yang ambil papa Zoya.
"Zoya kangen mama." Aku terpaksa berbohong.