Aku Dan Bintang

Aku Dan Bintang
Bab 61 Manusia Sibuk are in the house


__ADS_3

Akhtar


Aku dan Lintang meninggalkan Satya dan Bunga bersama anak-anak. Kami berjalan ke dapur. Lintang langsung bergabung bersama para mama. Dan aku bergabung dengan para papa.


"Om, apa kabar?" aku menyalami om Darma. Pria paruh baya itu menepuk lenganku.


"Alhamdulillah, sehat Tar."


Kami mengobrol membicarakan beberapa hal. Tapi ini tak berlangsung lama. Karena teman -temanku datang berbarengan.


"Akthar tinggal sebentar ya Om, pa, yah." Aku berjalan ke arah pintu depan bersama Lintang.


"Assalamualaikum." Ray paling semangat dibarisan terdepan.


"Waalaikumsalam." Jawabku dan Lintang.


"Wah. Udah langsing lagi nyonya Alvarendra."


"Iya dong. Noh udah keluar isinya." Lintang menunjuk kearah bayi kami berada.


"Ayo duduk dulu. Ibu hamil di sofa aja yuk." Ajak Lintang pada Diana dan Sania.


"Babynya udah gembul banget, ya Nat?" Lintag melihat bayi yang di gendong Nathalia.


"Iya Lin, ASInya kuat banget." Ucap Nathalia.


"Ehm, sama dong sama si kembar." Aku dan para pria hanya menjadi pendengar para wanita berbicara.


"Ayo kita duduk di sofa." Lintang membawa mereka duduk di sofa yang di susun di pinggir ruangan. Karena ruangan ini kami bentangkan karpet.


"Kita duduk disini aja ya, sebentar lagi Ustadz sama anak-anak datang." Ucapku pada mereka.


Dan benar saja, pak Ustadz datang bersama anak-anak yatim yang jumlahnya hampir 20 orang. Mereka segera memenuhi ruang tamu di rumah ini.


Bi Imah dan Sora membantu menghidangkan berbagai jenis kue dan minuman kepada tamu yang hadir.


Anak BL shop juga datang dan langsung bergabung bersama Lintang. "Asep sama Bayu kemana An?" tanyaku.


"Entar nyusul, mas. Masih antar paket ke ekspedisi." jawabnya.


Sesuai jadwal, acara dimulai sekitar pukul dua siang. Pak Ustadz memulai acara dengan pembukaan. Lalu pembacaan ayat suci Al-Qur'an oleh salah satu anak yatim yang kami undang. Selanjutnya adalah kata sambutan dariku selaku tuan rumah.


"Semoga dedek-dedeknya menjadi anak yang soleh, berbakti kepada orang tua bangsa dan negara. Juga menjadi anak yang sehat dan pintar." Ucapku saat menyampaikan kata sambutan.


"Amiiiin." Anak-anak mengaminkan ucapanku.


Selanjutnya acara pencukuran rambut secara simbolik dan pengesahan nama. Lalu tausiah dari pak ustadz dan ditutup dengan doa.

__ADS_1


Acara ini berlangsung sampai jam empat sore. "Terima kasih sudah hadir adik-adik." Ucapku dan Lintang saat anak-anak pamit pulang. Kami juga mengucapkan terima kasih pada pak Ustadz yang sudah bersedia hadir.


Sekarang hanya teman-temanku dan saudara yang masih berada disini. Kami masih saling bercerita. Satya ikut bergabung denganku dan Manusia Sibuk. Sedangkan para wanita berkumpul mengerubungi si kembar dan baby Arlando, putra Josep.


"Assalamualaikum," Seorang pria yang wujud dan suaranya tak asing lagi bagi kami masuk dari pintu depan.


"Woow, pada ngumpul nih. Gabung boleh dong ya." Tanpa menunggu persetujuan, Langit langsung ikut duduk bersila. "Apa kabar abang-abang tampan." Tanyanya pada Ray, Josep dan Dion."


"Baik." Jawab ketiganya. "Sehat kan Lang? Manager sering cuti nih nampaknya!" Ray melirikku.


"Harus sehat bang. Harus strong!" Langit mengangkat lengan menunjukkan ototnya. "Manager lagi banyak acara." Dia juga melirikku.


"Bang Sat disini juga?" Langit beralih pada Satya.


"Cari yang lebih enak di dengar, gak bisa Lang?" Satya tak terima di panggil Bang Sat.


"Lah... itu paling enak di dengar." Jawabnya acuh.


"Cih, gak pernah berubah kamu." Ucap Satya sinis. Aku memakluminya, karena siapapun yang berhadapan dengan Lagit akan melakukan hal yang sama. Langit memang sosok yang pintar memancing emosi orang lain.


"Rencana mau jadi boboiboy halilintar bang, tapi gak kesampean." Langit mencomot kue diatas piring lalu memasukkan kemulutnya.


"Harusnya kamu jadi doraemon, Lang. Asisten pribadi kan harus bisa menyelesaikan semua masalah." ucap Josep.


"Laah itukan kalau asprinya Ceo bang, gue cuma asprinya manager. Dah gitu, gak ganteng pula." Dia tersenyum mengejekku.


"Ya, biasanya kalau atasan kita ganteng, kita punya sampingan tuh buat menyingkirkan wanita ulat bulu yang suka cari perhatian." Kebanyakan baca novel online nih bocah.


"Lah Mas Akhtar, boro-boro ada yang ganggu. Ini malah kakak ku yang di embat." Yang lainnya tergelak. Ray bahkan sampai memegangi perutnya. Josep juga menghapus air matanya.


"Mana pakai alasan jatuh cinta sama Bi, lagi!" Lanjutnya membuat yang lain makin tergelak.


"Modus duda berkarat, Lang." Ray masih tergelak.


"Modus sih modus ya bang, tapi gak gini juga. Mana nambahin keponakan langsung dua." Langit geleng-geleng kepala. "Kantong gak aman bang."


"Heeei," Ku tarik kerah belakangnya. "Anak itu rezeki. Kalau dikasih langsung empat juga aku gak nolak."


"Ya, pasti. Kan yang hamil kakakku, bukan mas Akhtar!" Wajahnya semakin tengil. Posisi sudah tercekik kemeja, tapi masih nekat mendebat.


"Mas, lepaskan." Lintang sedikit berteriak. Langit menjulurkan lidah kearahku. "Rasain." Ucapnya tanpa suara.


"Langit! Kamu juga sama! Berhenti bertingkah seperti anak kecil."


Aku tau, teman-temanku menertawakan aku dan Langit yang tak berkutik dihadapan Lintang. Kami memang tak pernah menang melawannya. Atau memang kami yang tak ingin berdebat, lantas memilih mengalah.


"Weekend ini ikut aku yuk Lang!" Satya mengajak Langit.

__ADS_1


"Kemana Bang?"


"Rencana mau bawa Bi dan Zoya snorkeling. Bintang ingin berenang sama nemo katanya." Ucap Satya pada Langit.


"Siapa aja yang pergi Sat?" tanyaku.


"Aku, Bunga sama mbak Dini yang bakalan bantu urus anak-anak, Tar."


"Mungkin ibu juga aku ajak."


"Om Darma dan tante Citra mungkin juga ikut. Bunga yang ajak." lanjutnya.


"Bunga setuju?" Tanyaku penasaran.


Satya mengangkat bahu. "Siapa yang bisa nolak duo bocah itu sih, Tar."


Aku tertawa. Satya memang benar. Tak ada yang mampu menolak kedua bocah itu. Terlebih saat mereka meminta dengan tatapan memohon.


"Boleh deh, aku coba bawa Rara. Sabtu ini ya bang?" Satya mengangguk.


"Di mana bang?"


"Kepulauan seribu aja, yang dekat Lang. Atau kita bawa ke Raja Ampat?"


"Heei... jangan bawa anak gadisku terlalu jauh, Sat." Aku memperingatkan mereka. Aku tak kan tenang melepas kedua putriku bersama mereka sementara aku berada di rumah.


"Kepulauan seribu masih bisa lah. Gak perlu menginap." Itu perintahku.


"Tergantung, Tar!" Ucap Satya.


"Tergantung?" Keningku berkerut.


"Tergantung cuaca. Kalau tiba-tiba cuaca buruk dan gak memungkinkan untuk balik, ya kami terpaksa menginap."


Aku diam sebentar. "Kalau begitu cari pulau yang ada penghuninya. Minimal banyak resort dan penginapan disana."


"Ya iya lah, Tar. Kamu fikir kami akan menelusuri hutan di pulau tak berpenghuni!" Cibirnya.


Aku sebenarnya khawatir. Tapi jika aku ikut, bagaimana dengan Lintang. Dan jika menunda kepergian mereka sampai Nair dan Nath bisa diajak, aku kasihan pada Bintang yang akan selalu menagih janji Satya.


"Jaga anak-anakku dengan benar. Jangan pacaran aja kalian berdua!"


"Diih, iya kali pacaran sama bang Sat! Aku masih normal, mas!" Langit salah mengartikan maksudku. Maksudku adalah mereka pacaran dengan pasangan masing-masing. Bukan mereka berdua yang berpacaran.


"Aku juga ogah sama kamu, Lang!"


"Aku terbukti punya Rara! Lah bang Sat? Ck...ck...ck..." Langit menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Udah pernah ngopi sianida, Lang? Ku traktir yuk!" Ucapan Satya membuat Langit bergidik ngerih.


__ADS_2