
Safira benar benar menjadi wanita yang paling bahagia malam ini, dia tak menyangka rasa cintanya pada Bintang ternyata tak bertepuk sebelah tangan, sungguh ini seperti mimpi indah baginya, secepat itu Tuhan mengirimkan pengisi hatinya yang kosong, hancur karena penghianatan.
" Pulang kantor bahagia amat, nih pasangan palsu," Cibir Dara, merasa heran dengan tingkah Bintang dan Safira yang super ceria malam itu.
" Hohoho.... Apa kamu bilang, pasangan palsu ? Hati hati menyebar hoax nona, coba liatin yang ada di jari kamu itu sayang, biar dia nyaho !" Bintang mengangkat tangan Safira yang jarinya sudah berhias cincin indah darinya.
" Ka-kalian....? Pacaran beneran ?" Dara menutup mulutnya yang menganga karena kaget dengan kedua tangannya.
" Beberapa hari ke depan kita pacaran beneran," Kata kata Bintang menggantung.
" Maksud abang ?" Dara merasa bingung dengan maksud perkataan kakak sepupunya itu.
" Karena beberapa hari lagi dia bakal jadi istri sah abang." Bintang memeluk pinggang Safira yang dari tadi terdiam.
Safira yakin setelah ini Dara tak akan melepaskan dirinya semudah itu, si cerewet itu pasti mencecar berjuta pertanyaan padanya.
" Fir,,, kamu harus jelasin semuanya sekarang !" Dara menarik tangan Safira membawanya secara paksa ke kamar mereka di lantai atas.
Bintang hanya mampu pasrah membiarkan kekasih hatinya yang belum sehari di pacarinya itu di geret paksa sang adik sepupu menjauh dari dirinya.
***
" Sayang, aku mau melihat proyek pembangunan apartemen xxx dulu, kamu disini saja karena akan ada tamu penting yang datang hari ini." Titah Bintang siang itu,
" Baik Pak," Jawab Safira sambil menyiapkan barang barang yang biasa Bintang bawa kalau meninjau proyek.
" Ulangi !" Ketus Bintang.
" Maksudnya ?" Safira menghentikan kegiatannya, lalu melirik ke arah Bintang.
" Ulangi panggilan mu padaku dengan panggilan yang benar !" Tegas Bintang
" Mhm,, tapi ini di kantor," Safira merona, dia baru menyadari apa yang di maksud pacar sekali gus bos nya itu.
" Aku tak peduli, di manapun !" Bos otoriter mulai mengeluarkan kuasanya.
" Baik, sayang,,, !" Safira malu malu, dia tak ingin di hari keduanya sebagai pasangan kekasih mereka ribut hanya karena panggilan.
Cup,,,
" Calon istriku ini memang paling istimewa !" Bintang mengecup pipi Safira, lalu meninggalkan ruangan kerjanya.
__ADS_1
Safira mematung menatap punggung Bintang yang menghilang di balik pintu.
' Ya Tuhan,,,, aku sudah seperti anak abg yang baru mengenal cinta saja, seperti yang baru pertama pacaran, masa cuma di cium pipi saja hatiku seakan mau meledak gini, ah,,,, memalukan !' Safira bermonolog dalam hatinya, tangannya mengusap usap pipi yang tadi di cium Bintang dengan senyum yang tak lepas dari bibir merahnya.
" Aku sepertinya sudah gila !" Pekik Safira meruntuki dirinya sendiri.
Tiga jam berlalu, tamu yang katanya mau datang ke kantor, di tunggu tunggu tapi tak kunjung datang, Bintang juga belum kembali dari proyek, padahal sudah hampir jam pulang kantor.
" Sayang, aku tunggu di parkiran depan loby sekarang, kita harus menemui tamu penting." Begitu bunyi pesan yang di kirimkan Bintang pada Safira.
Safira bergegas turun untuk menemui Bintang yang sudah menunggunya di parkiran.
" Tamu nya gak jadi datang ke kantor ?" Tanya Safira begitu masuk ke dalam mobil sedan mewah milik Bintang.
" Iya, mereka minta ketemuan di luar kantor." Bintang melajukan mobilnya.
Setelah hampir 45 menit perjalanan, Bintang menghentikan mobilnya di depan pekarangan sebuah rumah yang asri, di teras tampak beberapa orang sedang bercengkrama akrab.
" Sayang,,, sayang,,, bangun sudah sampai." Bintang mengelus lembut pipi Safira yang tertidur tadi di perjalanan.
" Eh, maaf,,, aku ketiduran, sudah sampai ya," Safira mengerjap ngerjapkan matanya beberapa kali.
" Tapi,,,,, tunggu, ini kan...." Belum sempat Safira melanjutkan kalimatnya, seorang wanita paruh baya sudah berdiri dan mengetuk kaca jendela mobil di sampingnya.
Safira segera turun dari mobil lalu memeluk dan mencium punggung tangan ayah dan ibunya.
Tapi sebentar, ada dua orang asing di rumahnya yang sedang menatap dirinya sambil tersenyum, seorang laki laki dan perempuan seumuran ayah dan ibunya, tapi Safira baru pertama kali melihat mereka, wajah mereka seskan terasa tak asing baginya, lalu Safira melirik ke arah Bintang, berpikir sejenak dan,,
" Sayang,,, apa mereka...?" Bisik Safira mendekati Bintang yang mesem mesem.
" Iya sayang, mereka mama dan papa ku, salim dulu sana sama calon mertua !" Goda Bintang yang sukses membuat wajah Safira memerah bak kepiting rebus.
Safira mendekati orang tua Bintang, lalu mencium punggung tangan mereka bergantian.
Mama Erna malah memeluk bahagia Safira.
" Calon mantu mama cantik sekali, pantesan Bintang ngebet banget pengen langsung sah." Celoteh mama Erna yang langsung di sambut gelak tawa orang orang yang berada di sana.
" Bagaimana Fira, Ayah menyerahkan semua keputusan sama kamu." Ayah Safira membuka pembicaraan.
" Apanya yang bagaimana Ayah?" Safira melirik ke arah ibunya mencari penjelasan.
__ADS_1
" Pak Wira dan Bu Erna datang kesini melamar kamu untuk nak Bintang, tapi kami belum menjawab apapun karena semua keputusan ada di kamu, kami hanya bisa mendukung dan mendo'akan apapun yang kamu pilih untuk hidupmu, nak." Jelas ibunya Safira.
" Iya nak, mungkin kedatangan kami ini terkesan mendadak dan terburu buru, tapi kamu tau bagaimana Bintang kan ? Dan lagi pula,, apa bila itu hal yang baik memang sebaiknya jangan di tunda tunda, kan ?" Sambung papa Wira.
" Emh... Fira setuju, dan menerima lamarannya Ayah." Ucap Safira malu malu.
" Ah,,, akhirnya ! Mah, Pah, minggu depan Bintang jadi suaminya Safira !" Pekik Bintang memeluk mama Erna.
" Hei,,, minggu depan? Apanya yang minggu depan?" Kaget Safira mendengar ucapan Bintang.
" Tenang saja sayang, semua biar Alan yang mengurusnya, pasti beres, kita tinggal mempersiapkan diri saja. Lagi pula Ayah dan Ibu juga tadi sudah setuju kita menikah minggu depan kalau kamu menerima lamaran ku hari ini." Bintang menjelaskan penuh semangat.
" Tapi, kenapa minggu depan bukan kah itu terlalu.."
" Apa terlalu lama sayang ? Bagaimana kalau kita menikah besok saja kalau kamu tak mau menunggu sampai minggu depan ?" Bintang menyambar ucapan Safira yang belum selesai.
" Oh, tidak, Bintang, sayang ! Sudah lah minggu depan saja tak apa, aku setuju.!" Safira memijat keningnya sendiri, berdebat dan menolak keinginan Bintang adalah hal yang sia sia, lebih baik dia ikuti saja keinginannya, toh itu bukan hal yang buruk.
Hanya saja, dia merasa di kejutkan dengan hal hal yang tak terduga beberapa hari terakhir ini.
" Hehe,,, aku akan menghubungi Alan biar dia mengurus segala sesuatunya secepatnya, kamu tinggal bilang ingin pernikahan yang seperti apa." Bintang mengeluarkan ponselnya hendak menghubungi Alan, namun tiba tiba Safira menahan nya.
" Sayang, aku ingin pernikahan yang sederhana, yang di hadiri okeh keluarga dan teman teman dekat saja, aku ingin pernikahan yang suasananya akrab dan hangat, yang hadir di pernikahan kita pun adalah orang orang yang kita kenal semua.itu pernikahan impian ku, sayang." Safira mengutarakan keinginannya.
" As you wish, sayang !" Bintang tersenyum bangga pada calon istrinya,
Betapa beruntungnya dia akan mempersunting wanita cantik, pintar, baik, dan sederhana, meski tau calon suami yang akan menikahinya dan calon mertuanya para pengusaha sukses, dia tak meminta kemewahan darinya, sungguh Bintang benar benar bangga, dan merasa tak salah telah memilih Safira menjadi calon istrinya.
" Terimakasih sayang, telah bersedia menerima aku menjadi calon suamimu." Bisik Bintang saat duduk santai di taman belakang rumah Safira, sementara orang tua mereka sedang berbincang di ruang keluarga.
" Yaah,,, mau gimana lagi, kamu kan gak akan pernah bisa menerima penolakan, jadi di iyain aja lah." Ledek Safira.
" Sayang ! kamu terpaksa menerima aku?" Bintang melebarkan matanya.
" Di paksa lebih tepatnya !" gelak Safira puas melihat Bintang yang terbelalak.
" Sayang ! aku gak mau kamu kamu menerimaku karena terpaksa." Bintang tertunduk lesu.
" Memang aku di paksa, aku di paksa oleh hati ku untuk menerima kamu dan menjadikan kamu pendamping hidupku, sayang !" Safira memeluk Bintang yang membelakanginya.
" Ah,, Safira, kamu....!" Bintang membalikan badan dan membalas pelukan Safira dengan erat.
__ADS_1
' Bintangku yang penuh dengan kejutan manis, bagaimana bisa aku menolak mu, kamu cahaya yang membuat indah dan terang hidupku.' Batin Safira, semakin mengeratkan pelukannya dan membenamkan wajahnya di dada bidang Bintang.