
Langit
Aku dan dua keponakan cantikku sedang dalam perjalanan menjemput Rara, calon istriku. Tak terlalu jauh jaraknya hanya sepuluh menit dari rumah kami.
Akhirnya, setelah penantian bertahun-tahun, aku jadi juga menikah dengan gadis itu. Bukan karena aku tak mampu melamarnya bertahun lalu. Tapi cita-cita yang ingin dia gapai begitu besar. Aku tak ingin egois dan meruntuhkan cita-cita itu begitu saja, disaat kakakku justru yang membuka jalannya.
Dan inilah dia, gadisku. Gadis tercantik yang makin kesini makin dewasa saja. Dia tengah menyambutku di depan pintu rumahnya memasang senyum mengembang.
"Kak Raraa!" Seru Bintang yang baru turun dari mobil. "Cantik banget ih." Dia memeluk Rara.
"Apa kabar Zoya!" Rara merangkul Zoya.
"Baik kak."
"Zoya belum mulai syutingnya?"
"Belum kak. Nanti pas di studio, timnya udah nunggu disana."
"Yaaa, kakak kira dari jemput kakak udah di shoot. Makanya make up nih." Ucapnya lemas. Rara menunjuk pipinya yang tersapu blush on.
Bintang dan Zoya kompak tertawa.
"Keponakannya doang yang disapa. Omnya enggak nih?" tanyaku padanya.
"Mau masuk dulu atau langsung cuss?" Tanyanya tanpa menjawab pertanyaanku.
"Ibu kemana Ra?" tanyaku tanpa menjawabnya.
"Kalau pertanyaan di balas pertanyaan kapan kelarnya om!" Ucap Zoya menahan tawa.
Aku dan Rara tersenyum tipis. "Gak ada orang di rumah, mas. Ibu sama kak Mira udah ke butik. Ada yang harus mereka kerjakan disana."
"Kak, kita langsung berangkat aja deh. Takut gak keburu nih!" Bintang menunjuk jam tangannya.
Bintang dan Zoya terbiasa memanggilnya kakak. Padahal sebentar lagi Rara akan menjadi tantenya mereka. Tapi tak masalah, senyamannya mereka saja. Yang penting mereka akur dan semakin akrab.
"Oke. Let's go! Kakak kunci pintu dulu ya!"
__ADS_1
Kami langsung berangkat menuju studio foto milik bang Josep. Diperjalanan Zoya mulai mengarahkan keduanya. "Nanti kamu ambil foto kayak biasa aja, Bi. Aku janji gak akan ganggu deh."
"Harus Zoy. Jangan ganggu konsentrasiku! Aku bakal marah sama kamu kalau kamu ganggu!" Bintang mengancam. Namun, Zoya menanggapinya dengan tertawa.
Aku bahagia melihat keduanya tumbuh bersama. Aku mengingat dengan sangat jelas. Bintang, bayi prematur yang hadir dikeluarga kami. Dulu dia sangat kecil tapi lihatlah sekarang, diusia sepuluh tahun dia sudah sebesar dan sepintar ini. Aku bangga padanya sebagai seorang om yang melihat tumbuh kembangnya.
Zoya, bayi yang hadir karena, ah sudahlah. Terlalu menyakitkan jika diingat. Aku juga menyayanginya. Ya! Kak Lintanglah yang mengajariku untuk menyayanginya.
Aku menjadi saksi bagaimana kak Lintang dengan ikhlas memberikan ASInya. Aku yang kerap kali mengantar ASI dalam cooler bag ke rumah tante Hana karena Zoya tinggal di sana.
Entahlah, hati kakakku terbuat dari apa. Tapi aku bangga memilikinya. Dia malaikat bagiku, bagi Bi dan bagi Zoya.
Kami sampai di studio dan langsung menuju lantai empat. Aku membuka pintu ruangan bang Josep.
"Wiih, calon pengantin! Seger banget tuh muka!" Kali ini sindiran atau pujian? Bang Josep menyalamiku.
"Harus dong." jawabku. "Supaya hasilnya bagus. Wajah glowing tanpa lighting." Ngomong apa aku ini?
"Yakin nih tanpa lighting?" tantangnya.
"Hai FG cilik om Josep!" Bintang ber-toss dengan pria beranak satu itu. Bang Josep juga melakukan hal yang sama pada Zoya. "Hai Youtub*r cantik kesayangan om Josep."
Kami langsung ke ruangan khusus yang mereka siapkan. Disana ada banyak orang, sekitar sepuluh orang termasuk tim make up.
Selesai make up, kami langsung berganti pakaian. Aku memakai pakaian formal, setelan jas lebih tepatnya. Rara memakai ball gown atau gaun pesta berwarna silver hasil rancangannya sendiri. Ball gown adalah sejenis gaun pesta formal dengan potongan pinggang ramping dan rok melebar hingga menyentuh lantai.
Bintang dibantu Josep dan beberapa tim mengarahkan aku dan Rara. Tak ada pose yang terlalu int*m. Karena Bi masih anak-anak yang tak pantas melihat adegan orang dewasa secara live.
"Om, gandeng tangan kak Rara." Aku menuruti arahannya. Aku dan Rara berdiri bersebelahan membelakangi kamera. "Saling pandang, Om." Aku memandang Rara.
Princess. Batinku.
"Jangan nyengir, om!" Bi mulai kesal karena aku memang kaku dan sedikit sulit di arahkan. Aku hampir terbahak mendengar nada kesalnya.
"Bagus. Tahan om!" Apanya yang di tahan, Bi?
Lampu blitz menyala berkali kali. Tanda Bi tengah mengambil foto. Sementara Zoya tengah berbicara di depan kamera lain. Menyorot kearah kami. Oke, sekali dayung dua pulau terlampaui.
__ADS_1
Kami dan tim berangkat ke pantai setelah jam empat sore. Tempat kedua adalah pantai. Disana semua orang akan datang dan melanjutkan acara sampai malam.
Temanya kali ini serba putih. Rara memakai dress putih sebetis dan aku memakai celana pendek dan kemeja putih.
Kami tiba di pantai. Mas Akhtar dan rombongan sudah tiba disana. Kenapa ku sebut rombongan? Karena kedua orang tuaku, keluarga bang Sat dan keluarga Sora ikut hadir.
"Om Langiiiit!" Jerit Nath. "Horeee om Sky udah datang." Nath langsung berlari kearah kami. Namun yang dia peluk adalah Bintang. Bintang sampai terkejut dan hampir terjatuh. Tapi Bi langsung melepaskan diri dan menggandeng tangan kecil Nath. Lalu kembali berjalan dengan bergandeng tangan.
"Hei, manggil om Langit tapi kenapa kak Bi yang di peluk?" tanyaku pada Nath.
"Karena om Sky pasti bawa kak Bi sama kak Zoya," jawabnya melihat ke arahku.
Pintar sekali dia mencari alasan. Seketika aku teringat mas Akhtar sebelum menikah dengan kak Lintang. Persis bapaknya. Sok jatuh cinta sama Bi, padahal mengincar mamanya. Batinku geli sendiri.
"Wah, kulkas satu pintu sama cooler bag lagi ngobrolin apa?" Aku ikut duduk di tikar bersama bang Sat dan Nair. Keduanya sama-sama tak banyak bicara. Mungkin karena Nair juga sangat dekat dengannya, sikap Nair jadi seperti pria yang usianya hampir 40 tahun itu.
"Biasa Lang, obrolan para pria," jawabnya singkat.
Aku tersenyum miring. "Bang Nair ganteng banget pakai kemeja biru." Aku melihat ke arah Nair yang sedang duduk, namun menunduk karena tengah meminum air kelapa muda langsung dari buah kelapanya.
Dia melirik kearahku. Aku memang kurang akur dengannya. Dia si tenang sementara aku si biang ribut. "Jangan kaku-kaku bang, mukanya kayak kerak nasi tuh!" Aku menaikan daguku.
Satya menahan tawa. "Ganteng gini dibilang kerak nasi!" Pria itu mengacak rambut Nair yang bergerak acak karena hembusan angin. "Om Sky suka mengada-ngada ya Nair?"
Nair mengangguk berkali-kali. "Om Sky mau jadi pengantin?"
Aku mengangguk. "Iya. Kenapa? Kamu mau jadi pengantin juga?"
Nair tersenyum samar. "Diih, dia senyum bang!" ucapku pada bang Sat.
"Kamu mau jadi pengantin juga, Nair?" tanya bang Sat.
Dia terlihat sedang memikirkan jawabannya. Matanya melihat ke kiri atas. "Nanti kalau udah gede." Jawabnya setelah lama berfikir.
Aku tertawa. "Bagus... bagus. Tunggu gede, terus cari duit yang banyak!"
Karena waktu matahari tenggelam hampir tiba. Kami bersiap mengambil foto. Bintang sedari tadi sudah mengambil banyak foto. Apapun itu menjadi objeknya.
__ADS_1
"Lang, kamu kejar Rara dari arah sana!" Bang Josep memberi arahan, dengan menunjuk kearah kanan. "Bi, kamu ambil gambar ya! Langit jingganya lagi bagus banget itu!" Sambung bang Josep.
"Siap Om." Bi mengacungkan jempolnya.