
Untuk beberapa bab kedepan, cerita ini akan di bawa oleh pasangan jaim malu-malu meong, tapi terkadang bar-bar bak kucing garong 😂
Karena Lintang dan Akhtar sedang repot mengurus baby Nair dan Nath. 😊 Happy reading and tinggalkan jejak kalian 😍
Satya
Aku dan Ibu menghadiri acara aqiqahan putra kembar Lintang dan Akhtar. Sekaligus ingin menepati janjiku pada dua keponakan tersayang.
Aku duduk menghadap si kembar, dan sesekali berbicara dengan Akhtar dan Lintang. Namun teriakan melengking datang dari arah belakangku. Tepatnya dari arah pintu depan. "Haaaai babynya tanteee...."
Deg. Suara itu!
Suara seorang gadis yang sudah dua tahun tak pernah ku dengar. Aku merindukan suara ini. Aku merindukan bibir manis yang ia miliki. Aku rindu memeluk tubuh itu. Astaga Satya! Jangan terlalu jauh pikiranmu melayang.
"Maaf tantenya baru sempat datang sayang..." Gadis itu terlihat cantik dengan hijabnya. Langsung duduk di sampingku menyapa si kembar. Dan saat dia menatapku, kami saling melempar senyum canggung.
Bunga Ayana Darma, gadis yang ku kenal 7 tahun lalu. Ya, sebelum tragedi Arum dan Rezki, kakak kandungnya. Setelah pertemuan tak sengaja kami, aku mencarinya hanya berbekal informasi seadanya. "Bunga Darma, SMA Cahaya Bangsa." Ucapnya kala itu saat ia turun dari bus.
Bus Jogja-Jakarta, kami dipertemukan disana. Dan terpisah setelah sampai di Jakarta. Apa yang ku lakukan di Jogja? Berlibur. Lalu tujuanku ke Jakarta adalah untuk menemui ibu dan ayah sebelum aku bertolak ke Kalimantan. Kembali pada aktivitas mengurus pertambangan ayah yang sudah ku jalankan sekitar dua tahun terakhir.
Kenapa tidak dengan pesawat dan malah memilih bus yang memakan waktu belasan jam? Karena aku suka petualangan. Dan tak pernah ku sesali, karena diperjalanan aku bertemu dengan gadis lemah yang tengah menggigil kedinginan. Gadis yang menaiki bus tanpa membawa apapun. Tanpa tas bahkan tanpa Jaket.
Tubuh kurusnya hanya berbalut kaos putih dan celana jeans serta sepatu conv*rse. Tampak seperti orang berada, namun mengapa kenyataannya ia begitu miskin. Apa dia kabur dari rumah?
Selama beberapa jam pertama, kami hanya sedikit berbicara. "Sendirian?" tanyanya. Aku mengangguk.
"Kamu sendiri juga?"
Dia menatap kedepan. "Sama saudara, ada di depan." dia menunjuk kursi depan. Aku hanya manggut-manggut. Tapi dalam benakku tak yakin dengan ucapannya.
Dia lebih banyak melihat kearah jendela karena posisi duduknya memang di pinggir.
__ADS_1
Namun, tengah malam tubuhnya menggigil, karena cuaca sedang hujan deras. Aku memberikan hoodie yang ku pakai, dia menatapku cukup lama. "Pakailah. Aku masih punya kemeja panjang di tas." Aku menunjuk tas ranselku yang ku letakkan dibawah kakiku.
Dan akhirnya dia menurut, dia bahkan meminta minyak angin padaku, dan aku memberikan minyak angin roll on yang ku simpan di tas selempangku.
Tapi ada satu hal diluar kendali terjadi. Aku tak sabar melihatnya yang masih menggigil. Padahal sudah memakai pakaian tebal. Aku mendekatkan wajahku dan menyatukan kami. Entahlah, aku seperti bukan diriku. Keberanianku menyatukan bibir kami sungguh di luar dugaan.
Gadis itu menatapku tajam. Aku tau itu. Kedua telapak tanganku berada di pipinya. Dan tangannya memegang erat kemejaku. Cukup lama hingga aku menyatukan kening kami. Dia tak menolak atau mendorong tubuhku. Entah karena dia takut, atau tak memiliki tenanga, atau karena dia juga menikmatinya. Entahlah.
"Maaf, aku lancang." Ucapku lirih. "Maaf!" Ucapku penuh sesal. Jika ada kata lebih buruk dari br*ngsek. Maka berikan itu padaku.
Tapi dia malah terisak. Aku memeluknya. "Hei, maafkan aku. Aku bingung melihatmu menggigil, bahkan bibirmu hampir membiru." bisikku di telinganya.
"Maafkan aku, aku salah." Dan dia makin terisak. Dan disini aku yakin, dia sendirian. Tak bersama saudaranya.
Aku mencarinya ke sekolah yang ia sebutkan. Dan aku menemukannya berjalan sendirian disepanjang trotoar. Ternyata tujuannya adalah sebuah taman. Dan dia duduk disalah satu kursi. Aku mengikutinya. "Hai Bunga. Masih ingat?" Aku duduk disampingnya.
Dia memandangku, dia tak takut sedikitpun. Dia melemparkan senyum. Dan sejak saat itu aku dan dia saling berkomunikasi via suara, Jakarta-Kalimantan. Sesekali bertemu jika aku berkunjung ke sini.
Aku bahkan berniat mengenalkannya pada ayah dan ibu. Namun dia belum siap. Dia masih ingin kuliah, karena mama papanya seorang dosen di universitas ternama. Hingga pendidikan menjadi nomor satu dalam keluarganya.
Aku tau dia memiliki kakak laki-laki, tapi aku tak pernah tahu jika pria itu pernah berpacaran dengan Arum, adikku.
Sampai suatu ketika kami bertemu dalam suasana duka. Aku menatap gadis yang kucintai menangisi jasad seorang pria yang mengalami kecelakaan bersama Arum.
Dia menangisi jasad kakaknya dan aku menatap jasad adikku. Kami sama-sama terkejut. Dan kata-kata paling menyakitkan keluar dari bibirnya. "Kita gak mungkin bersama kak." Dia menangis segugukan memeluk lutut saat kami berbicara di taman rumah sakit.
"Ini diluar kendali kita, Na!" aku memeluknya.
"Tapi ini rumit bagi keluarga kita, Kak!" Ya, dia benar. Bagaimanapun adikku menjadi selingkuhan seorang pria beristri. Lalu aku berniat menikahi adik pria itu. Kenyataan hidupku, sebercanda ini?
"Bahagialah kak. Aku mencintaimu."
__ADS_1
"Aku lebih mencintaimu, Na. Kisah kita baru dimulai, Na."
"Tapi belum dihadapan keluarga, kak. Jangan pernah katakan apapun, tolong!" Dia memohon, selama ini memang tak ada yang tahu hubungan kami. Bunga terlalu pandai menyembunyikannya.
Tapi seiring waktu berjalan, Tuhan membuat jalan itu terbentang lebar. Kesempatan mengurus Zoya, putri kakaknya bersama Arum. Membuat keluarga kami memiliki hubungan dekat. Aku bahkan beberapa kali ikut dalam acara liburan keluarga mereka.
Bunga tetap bersikap biasa saja. Seolah tak pernah ada hubungan apapun diantara kami. Kami menjalani hubungan tanpa ada kata pacaran, dan kejelasan. Murni karena hanya adanya Zoya di antara keluarga kami. Tapi tatapan mata itu masih sama, penuh cinta.
Hingga dua tahun lalu, pertemuan terakhir kami. Aku meminta sedikit keberaniannya untuk membuka hubungan yang pernah kami jalani di depan keluarga. Tapi dia menolak.
"Beri sedikit waktu kak. Dua tahun. Setelah itu kita lihat bagaimana kita dimasa itu. Apakah masih ingin saling bersama atau sudah sama-sama melupakan."
Kekanakan, sungguh! Tapi aku menepati janji itu. Aku bahkan tak hadir di pernikahan Lintang dan Akhtar, karena apa? Karena aku tau dia disana.
Aku tetap menunggu. Dan pertemuanku kemarin dengannya di rumah Lintang seolah memperjelas, waktu dua tahun itu sudah berlalu.
Dan saat Akhtar dan Lintang meninggalkan kami kedapur bersama keempat anaknya. Disitulah mulai terjadi obrolan yang juga melibatkan Zoya dan Bintang.
"Besok kita ke Aquarium raksasa. Sama mbak Dini, ya!" Ucapku pada dua gadis kecil itu.
"Sama tante Una aja, uncle! Tante Una lebih asik."
"Iya, mbak Dini suka bilang gini. 'Aduh neng Zoya, jangan begitu, nanti oma marah'." Zoya dengan ekspresi lucunya menirukan suara mbak Dini, pengasuhnya.
"Terus gini Zoy, 'neng Bintang, catnya awas kena mata. Aduh hati-hati neng'. Hihihi." Bintang tertawa menutup mulutnya.
Aku dan Bunga tergelak melihat kelucuan keponakan kami. Aku menatapnya lekat saat ia tertawa lepas. Na, aku bahagia melihat tawa ini.
Dia segera berhenti tertawa saat menyadari aku menatapnya. Dia segera beralih bermain dengan si kembar.
Apakah rasa itu masih sama, Na?
__ADS_1