
Akhtar
Siang hari kami menjenguk mama Hana.
Satya ada disana menunggu di depan ruang ICU. Ku yakin dia tak penah meninggalkan mama Hana.
Aku masuk kedalam ruangan hening yang di penuhi alat-alat medis itu. Aku duduk di sebelah brankar mama Hana. Hatiku teriris melihat wanita sebaik beliau terbaring lemah dengan banyak alat media melekat ditubuhnya.
Ma, maafkan Akhtar. Karena kecerobohanku kalian menjadi korban. Seandainya aku tidak keluar malam itu, semua ini tidak akan terjadi. Maafkan Akhtar ma.
Kuraih tangan mama, "Bangun ma, Zoya butuh mama. Mama harus kuat. Kita besarkan Zoya sama-sama ma. Kalau mama sudah sehat, ikut Akhtar ya, Ma. Tinggal bersama kami." Aku menyeka air mataku.
Satya mengelus bahuku, "Ibu pasti segera sehat Tar."
Aku menatap Satya, "Kamu percaya kan Sat, bukan aku pelakunya." Satya mengangguk.
"Bagiku tidak penting siapa pelakunya. Yang terpenting Ibu kembali sehat."
"Setelah Ibu pulih, ku akan membawanya dan Zoya bersamaku Tar," lanjutnya membuat mataku terbelalak.
"Sat," aku memelas.
"Hanya mereka yang tersisa Tar! Ini adalah janjiku pada Ayah."
Aku tak menanggapinya. "Cepat sembuh, Ma." Aku bangun dari kursiku dan berjalan keluar.
Satya juga ikut keluar. "Kita bahas itu nanti Sat," bisikku padanya.
Sore hari kami kembali ke rumah duka. Masih banyak tamu yang datang untuk mengucapkan bela sungkawa. Aku ikut menerima tamu bersama Satya, bibi Heni dan paman Dipo. Malam ini juga akan diadakan tahlilan hingga tiga hari kedepan.
Malam harinya, saat memindahkan Zoya dan Bintang kekamar tanpa sengaja aku mendengar perdebatan di kamar sebelah. Kamar tamu yang dipakai keluarga Bibi Heni.
"Makanya cepat nikahkan aku dengan kak Satya ma." Sayup ku dengar suara Sintya.
"Dia itu kakakmu Sin, cari laki-laki lain dan mama pasti langsung merestui." Terdengar perdebatan antara bibi Heni dan putrinya.
"Aku cintanya sama kak Satya ma. Sekarang ini momen yang tepat ma. Kak Satya butuh istri untuk bisa membawa Zoya bersamanya." Ucapan Sintya membuatku terkejut.
"Momen tepat apanya Sin, Pakde baru saja meninggal dan Bude sedang kritis." Aku juga mendengar suara Ferdy.
"Kamu diam saja, Mas. Kamu memang tak pernah setuju jika aku bersama kak Satya."
"Hentikan obsesimu Sin. Satya juga tidak akan menikahimu. Dia menganggapmu adik, sama seperti menganggapku dan almarhumah Arum." Ferdy terdengar membentak.
"Pelankan suaramu Fer!" Terdengar suara bibi Heni.
Aku masih mematung di depan pintu. Pura-pura membalas pesan.
Ceklek! Pintu terbuka.
"Ka..k Akhtar?" Sintya menyapaku. Wajahnya pucat. Dia pasti takut jika aku mendengar percakapan mereka tadi.
"Ya, kenapa?" Jawabku santai sambil meletakkan ponsel di telinga, menelpon seseorang. Padahal ini hanya pura-pura.
__ADS_1
"Eh... gak apa-apa kak. Aku ke dapur dulu. Mau ambil minum." Ucapnya gugup.
"Iya, silahkan." Ucapku padanya.
"Ya hallo, Waalaikumsalam. Iya, cuma salah faham." Ucapku asal pada orang disebrang telpon, karena tak kusangka panggilanku di jawab saat dering ke pertama. Aku masih melihat Sintya sesekali menoleh kebelakang untuk memperhatikanku. Aku harus terus beracting.
"Eh... Hallo. Lo salah sambung Tar!" Aku terkejut mendengar jawaban di sebrang telpon. Aku melihat ponselku. Lalu terkekeh sendiri. Pantas saja yang disebrang sana ngegas, ternyata si Josep.
"Sorry Sep."
"Beneran salah sambung?" tanyanya.
"Iya..." Ucapku singkat.
"Dasar Sableng." Tut... tut... tut... panggilan terputus. Dan aku kembali senyum-senyum sendiri. Untung saja Josep. Kalau itu pengacara, atau kantor polisi, bisa habis aku.
"Ada apa Tar? Kok senyum-senyum sendiri." Tiba-tiba Bibi Heni dan Ferdy keluar dari kamar.
"Tidak ada Bi, aku baru saja menelpon temanku." Ucapku asal. Tapi kan memang benar aku baru saja menelpon Josep, temanku.
***
Malam ini adalah tahlilan malam ketiga, dan besok mereka semua akan kembali ke Kalimantan. Paman Dipo sudah kembali sore tadi karena ada masalah di pertambangan mereka.
Aku sedang mengambil minum di dapur dan lagi-lagi ada suara orang yang tengah berdebat.
"Aku akan membawa Zoya! Tapi tidak dengan cara menikah denganmu Sin." Suara Satya! Pikirku.
"Aku cinta kak, sama kamu." Sintya memeluk Satya dari belakang.
Satya melepas paksa tangan Sintya. "Buang obsesimu Sintya. Aku kakakmu sama seperti Ferdy." Bentak Satya.
Sintya menangis berjongkok di rumput. "Aku cinta kak, sama kakak. Sejak remaja kakak selalu mengutamakan Arum. Dan tidak pernah peduli padaku." Sintya terisak.
"Karena Arum anak Ibu dan Ayahku Sin. Orang tua yang telah berbaik hati merawatku. Wajar aku lebih menyayanginya."
Sintya berdiri dan menatap Satya, seolah tengah menantang pria yang tubuhnya lebih besar darinya. "Dan saat Arum sudah tiada, kamu juga tidak peduli kak. Dan saat hanya keturunannya yang tersisa. Kakak bahkan lebih peduli pada Zoya sialan itu. Anak haram adik kesayanganmu!"
Plaakkk! Plaakk! Satya menampar Sintya.
Suara mereka memancing orang-orang untuk datang. Lintang langsung meraih lenganku untuk ia gandeng.
Dan disusul dua orang polisi yang mencari wanita bernama Sintya.
"Itu orangnya pak." Tunjuk bik Jum pada Sintya. Sontak membuat gadis itu kebingungan.
"Ini ada apa pak?" Dia berusaha melawan dua orang polisi yang hendak memborgolnya.
"Anda di tangkap, karna terbukti terlibat dalam kasus penyerangan pak Bramantyo dan istrinya." Salah seorang polisi memberikan surat perintah penangkapan Sintya kepada bibi Heni.
Bibi Heni memohon pada petugas kepolisian. "Ini pasti salah pak. Anak saya tidak mungkin terlibat pembunuhan pakdenya sendiri!"
Tapi tak ada yang bisa menolongnya. Sama seperti yang terjadi padaku beberapa hari lalu. "Jelaskan nanti dikantor polisi, Bu."
__ADS_1
"Tunggu pak!" Ucap Sintya saat polisi menggiringnya.
"Kak Sat, tidak ingin menolongku?" Dia menatap Satya. Dan pria itu hanya mematung.
Sintya menyeringai. "Kak, berterima kasihlah padaku! Karena aku berhasil menyingkirkan Arum agar kamu bisa memiliki seluruh harta pakde Bram!" Semua orang tampak terkejut termasuk aku.
"Ha...ha...ha... kalian terkejut?"
"Ini demi kamu kak Sat. Ayo kita menikah dan menguasai semua harta pakde!" Sintya berteriak seperti orang gila.
Satya geram menatap tajam gadis yang terobsesi padanya itu. "Aku tidak butuh harta ayah! Kembalikan ayahku Sintya. Kembalikan ayahku!" Satya mengguncangkan bahu Sintya tapi polisi segera menjauhkan gadis itu darinya.
"Aku sudah berusaha membunuh Zoya tapi tidak pernah berhasil Kak!"
"Ayo kita menikah kak. Setelah itu kita bawa Zoya dan kita lenyapkan dia!" Sintya berteriak sambil menangis.
"Ayo kak! Aku kasihan padamu kak, kamu bekerja keras untuk memajukan perusahaan yang akan menjadi milik Zoya. Anak haram itu!"
Plaakk! Bibi Heni menampar Sintya. "Kamu kelewatan batas Sin. Mama tak menduga kamu bertindak sejauh ini."
Sintya memegang pipinya. "Mama nampar aku? Hahaha... wajar ma. Wajar! Karena aku cuma anak pungut!"
"Mama tidak pernah membedakan antara kamu dan Ferdy!" Bibi Heni menuding wajah putrinya.
Sintya tak peduli malah berpindah menatap Lintang.
"Hai Lin." Dia menyapa Lintang yang sudah menangis dalam pelukanku. "Tidak ingin berterima kasih padaku? Karena telah memberikan pelajaran pada Rezki, suami bejat mu itu?"
Lintang menggeleng. "Kamu gila Sin! Kamu melewati batas! Kamu membuat Bintangku kehilangan papanya. Dan membuat Zoyaku kehilangan kedua orang tuanya!"
"Harusnya kamu berterima kasih padaku Lintang! Harusnya kamu bunuh Zoya! Anak haram suamimu! Bukan malah menghidupinya dengan ASI mu!" Sintya menatap Lintang.
Kami semua sudah jengah. "Silahkan bawa dia pak!" Ucap bibi Heni. Sintya terus meronta dan berbicara saat polisi membawa paksa tubuh kecilnya ke dalam mobil.
Menyisakan orang-orang yang terduduk lemas dengan air mata yang terus mengalir.
Sudah terlalu jauh Sintya bertindak. Kecelakaan Arum ternyata juga dia dalangnya. Dia cukup beruntung waktu itu, karena papa Bram dan om Darma menutup kasusnya. Tapi kali ini tak akan ada lagi kata maaf untuknya.
Ponselku berdering, dari rumah sakit! Batinku. Aku mendengarkan penjelasan dari pihak rumah sakit.
Aku menatap semua orang disana. "Kita harus ke rumah sakit sekarang!"
***
Hai readers setia yang jumlahnya masih bisa dihitung jari π π ( syukur-syukur ngitungnya pake jarinya orang sekampung yak π)
Noh, udah aku kasih tau siapa dalangnya yaa π aku Up dua bab biar gak ngerasa digantungin π
Bukan maksud membelokkan alur, tapi aku mau semua masalah di masalalu clear supaya kehidupan Akhtar-Lintang tak ada halangan rintangan membentang tak jadi masalah dan tak jadi beban fikiran! (π π lagu kera-sakti!)
Dah ah... jangan lama-lama. Belum tentu di baca juga π₯π₯
Tapi jangan lupa tinggalkan jejak sayangπ
__ADS_1