Aku Dan Bintang

Aku Dan Bintang
Bab 41 Double happiness


__ADS_3

Sora


Aku baru selesai sholat subuh berjamaah dengan keluargaku di mushollah kecil di lantai bawah. Mama, papa, Mas Abimanyu dan aku. Kak Lintang tidak ikut turun, dan kami sengaja tak mengajaknya. Sejak kemarin ia tampak pucat. Mungkin sedang tidak enak badan.


"Tanteee Soraaa... kakeek... huhuhuhu..." Aku segera berlari saat mendengar suara Zoya menangis. "Tolong maamaaa."


Kami segera berlari dan Zoya terlihat sedang menuruni anak tangga dengan hati-hati. "Ya Allah, ada apa Zoya?" Aku segera berlari menyusulnya takut kalau dia terjatuh.


Aku menghapus air matanya. "Mama Lintang... jatuh di kamar mandi. Mama... gak mau... bangun tante. Hu...hu...hu..." Ucapnya terbata di sela tangis.


Kami semua kaget dan langsung naik ke kamar Kak Akhtar. Mas Abimanyu menggendong Zoya, mama dan papa berjalan di belakangnya.


Aku terkejut mendapati Bintang yang terisak disamping tubuh kak Lintang yang tergeletak di lantai kamar mandi.


Mas Abi dan papa langsung mengangkat tubuh kak Lintang dan menidurkannya di atas ranjang. Mama memberikan minyak kayu putih di hidungnya. Tapi aku menyadari sesuatu. Tadi di kamar mandi aku melihat benda yang berserakan dilantai.


Aku masuk ke dalam dan mendapati empat testpack dengan dua strip. Yang artinya positif. Aku segera keluar dari kamar mandi. "Maa..." Air mataku menetes entah karena apa. Aku menunjukkan keempat benda itu pada mama.


Mama juga menangis. "Ini artinya kak Lintang hamil ma." Aku memeluk mama.


"Akhtar tidak mandul Ra. Akhtar akan punya anak pa." Mama melepas pelukanku dan langsung memeluk papa. Subuh ini begitu membahagiakan bagi kami.


Terima kasih ya Allah. Telah mengirimkan kebahagiaan pada keluarga kak Akhtar.


***


Lintang


Aku menerjap dan mendapati tubuhku telah terbaring di atas tempat tidur. Aku mendengar isak tangis bersahutan. "Ma, Pa." Aku melihat mama dan papa berpelukan.


Kemudian menatap Sora dan Abi yang berdiri disamping mereka.


"Mama..."


"Mama..." Bintang dan Zoya terisak disebelahku. Aku berusaha duduk dan mama membantuku.


Aku memegang kepalaku yang terasa berat. Aku melihat Sora memegang testpackku. Aku langsung menangis.


"Lin, kenapa menangis." Mama duduk di sebelahku.


"Lintang harus kedokter ma."


"Iya. Kamu harus segera ke dokter sayang." Mama mengelus kepalaku.


"Lintang harus sehat ma, demi anak-anak. Kalau seandainya ada penyakit di perut Lintang, Lintang gak ingin terlambat menanganinya ma?" Aku terisak dan membawa anak anak dalam pelukanku.


Mama mengernyit. "Kamu bicara apa Lin?"

__ADS_1


"Ma, Lintang terlambat datang bulan sudah 2 minggu. Dan hasil positif di testpack bisa saja menunjukkan adanya kista di rahim Lintang ma."


"Astagfirullah. Kamu kok mikirnya gitu sih Lin?" Mama sepertinya marah padaku.


Atas perintah Sora, Abi dan Papa membawa keluar Bintang dan Zoya. Awalnya mereka menolak. Namun setelah mama memberi pengertian, akhirnya keduanya setuju.


"Kak, kakak pasti hamil kak." Sora ikut duduk di sampingku setelah papa dan suaminya membawa kedua putriku keluar dari kamar.


"Kamu menuduhku tidur dengan laki-laki lain Ra? Sumpah demi apapun Ra. Itu tidak benar." Aku tak terima, bagaimana mungkin dia mengatakan aku hamil sementara kakaknya....? Aku menggeleng. "Kamu tau sendiri kakak kamu itu..." Aku tak berani melanjutkan ucapanku. Takut mama tersinggung.


"Ya Allah kak Lintang. Sora gak menuduh kak." Dia tetap berbicara dengan suara lembut.


"Dengar mama Lin. Kamu mungkin saja hamil. Bukankah Akhtar belum terbukti mandul? Akhtar juga belum pernah ke dokter untuk memastikan hal itu." Ucapan mama membuatku tertegun. Apa benar aku hamil?


"Kamu terlalu terfokus pada opini tentang mandulnya suamimu. Hingga kamu tidak bisa berfikir positif. Kamu malah memikirkan hal negatif seperti penyakit dan hal semacamnya."


"Siang nanti kita kedokter ya, untuk memastikan. Mama temani. Atau kamu mau menunggu suamimu? Atau mau bersama bunda?"


Aku menggeleng. "Lintang takut ma. Takut mas Akhtar dan bunda kecewa. Lintang sama mama aja ya." Aku memeluk mama Riana.


Jam sembilan pagi kami langsung kerumah sakit. Sora juga memaksa ikut. Dan tugas menjemput anak-anak diserahkan pada Abimanyu.


Kami tiba di rumah sakit sekitar jam sembilan. Dan mendapat nomor antrian ke 10. Aku sangat cemas. Dan pasti kelihatan dimata mama dan Sora.


"Jangan cemas kak. Semua pasti baik-baik saja." Sora menggenggam tanganku. Sekarang kami sedang duduk menunggu antrian. Mama dan Sora mengapitku di tengah.


Begitu juga dengan ayah dan bunda. Aku juga tidak mengabari mereka. Karena takut membuat mereka khawatir.


Antrian ke sembilan sudah masuk. Dan aku semakin gelisah. "Tenang lah Lin." Mama masih terus berusaha menenangkanku.


Akhirnya sekarang giliranku. Aku menjawab beberapa pertanyaan guna mengisi data.


"Dokter, anak saya sudah terlambat haid selama dua minggu. Dan telah melakukan tes dengan empat testpack dan semuanya hasilnya positif." Mama yang berbicara dengan dokter.


"Tapi saya takut, itu bukan janin melainkan sejenis penyakit kista." Aku menambahkan.


"Tidak ada keluhan seperti mual, muntah atau pusing?" tanya dokter.


Aku menggeleng. Aku memang tak merasakan ada keluhan apapun.


Dokter mengarahkanku untuk berbaring di brankar dan memberikan gel di perutku. Aku pernah merasakan ini beberapa kali sat hamil Bintang. Tapi kali ini aku sangat cemas.


"Selamat bu, ibu sedang mengandung." Aku tak percaya dan menatap ke monitor di depanku.


"Usianya baru enam minggu ya Bu. Nih dedenya baru sebesar kacang polong. Say hello sama mama nak." Dokter wanita ini berhasil membuat air mataku lolos dan mengalir ke pelipisku.


Mama dan Sora saling berpelukan. Lalu menciumku bergantian. "Terima kasih Lin. Terima kasih."

__ADS_1


"Ma, anak Mas Akhtar ma." Ucapku memegang tangan mama. Mama mengangguk dengan air mata yang mengalir dipipinya.


"Tidak ada kista atau penyakit lainnya ya Bu, Janinnya juga sehat." Lanjut dokter bername tag Salma itu.


Dokter meresepkan vitamin untukku. Sepanjang perjalanan mama tak pernah menghilangkan senyum diwajahnya. Aku bahagia bisa memberikan kebahagiaan untuk keluarga suamiku.


Mas Akhtar pasti terkejut setengah mati mendengar berita ini. Tapi kami merahasikannya sampai ia pulang.


Sekitar jam empat sore, aku sedang menunggu kepulangan mas Akhtar. Dia mengabariku akan sampai sepuluh menit lagi.


Kami menunggunya di halaman belakang. Tempat favorit berkumpul di sore hari.


"Lintang...." Suara yang ku rindu. Aku melihat kebelakang dan mendapati wajah lelah suamiku. Mata pandanya sangat jelas terlihat.


Kamu tidak tidur mas?


Aku dan mama duduk di kursi. Sora duduk dibawah dengan beralaskan tikar. Sementara papa, Abi dan anak-anak sedang bermain bola.


"Papaaaa...." Kedua putriku berlari kearahnya. Dan mas Akhtar menggendong keduanya. Aku tersenyum menyaksikan pemandangan ini.


Mas Akhtar menurunkan mereka. "Main lagi ya, papa mau bicara sama mama dulu." Keduanya menurut dan kembali bermain.


Mas Akhtar menyalami mama dan papa. Lalu bersimpuh di depanku. "Lin, aku punya kabar gembira untukmu? Untuk semua juga." Aku mengernyit. Aku juga punya kabar bahagia Mas. Batinku.


Dia mulai bercerita tentang dokter yang ia temui di acara peresmian hingga kenyataan bahwa Arum tak jujur padanya. Arum membohonginya selama dua tahun. Dan fakta itu membuat mama langsung memeluk mas Akhtar. Turut bersedih atas apa yang terjadi pada putranya.


"Dan aku bawa ini." Dia mengeluarkan selembar kertas dari kantong celananya. "Hasil pemeriksaan dan kalian bisa baca disini." Dia menunjukkan kata Normozoospermia yang artinya sp*rma normal.


Kami tak terkejut lagi. Karena memang semua sudah terbukti bahkan tanpa tes lab.


"Kalian gak ada yang senang nih?" Tanya mas Akhtar begitu menyadari kami tak bereaksi. Kami hanya saling pandang.


"Seriusan? Gak ada yang bahagia dapat kabar ini?" Kami serempak mengangkat bahu. Dia duduk lemas di tikar. "Kamu juga gak bahagia, Sayang?" Tanyanya padaku.


Aku tak menjawab dan memberikan sebuah kotak kecil padanya. Kotak yang sebelumnya kusembunyikan dibelakangku. Dia sempat bertanya isinya. "Bukalah." Ucapku padanya.


Dia membuka kotak itu. Pertama yang di ambilnya adalah foto usg. Dia menatap kami.


Lalu mengambil empat testpack. Lalu menatap kami lagi. Dia terlihat bingung.


Dan terakhir, dia membaca surat dariku.


"Kita ketemu delapan bulan lagi papa."


"From : The next Alvarendra."


Dia menatap kami bergantian. "Ini...?" Dia sepertinya mulai faham. Aku mengangguk dengan air mata yang tak mampu ku tahan.

__ADS_1


Dia memelukku. "Terima kasih sayang. Sudah hadir dalam hidupku." Dia menarik diri dari pelukan dan duduk bersimpuh di depanku. Mengelus perutku. "Hai sayang papa. Terima kasih sudah hadir disini." Aku menghapus air matanya. Semoga kebahagiaan selalu hadir dalam keluarga kita mas.


__ADS_2