
Akhtar
Persalinan yang hanya menghitung hari, menunggu pagi-siang-sore-malam membuat ku harus menjadi suami siaga, siap antar jaga. Ponsel harus standbay dua puluh empat jam. Terlebih saat aku sedang bekerja, ponsel selalu on. Bahkan ponsel Langit tak ku izinkan dalam mode sillent barang semenit pun.
Memiliki istri yang tengah hamil kembar membuatku merasa sebagai pria paling berhasil, dalam hal tabur-menabur benih. Aku bahagia dengan hadirnya mereka di rahim istriku.
Namun, hatiku tengah dilanda kekhawatiran, terlebih saat pemeriksaan kemarin dokter mengatakan bahwa kehamilan kembar beresiko melahirkan prematur atau kurang dari 37 minggu.
Ditambah lagi ucapan dokter Salma yang membuat Lintang tersenyum lebar. "Posisi janin bagus, dan bisa melahirkan normal." Tapi aku tetap tak setuju jika Lintang melahirkan secara normal setelah mendengar penjelasan dokter Salma mengenai segala kemungkinan dan resiko yang terjadi. Salah satunya adalah mengalami komplikasi.
"Caesar aja ya Lin, supaya aku lebih tenang. Kamu bakalan mengeluarkan dua bayi, loh sayang." Bujukku hampir di setiap kesempatan.
"Aku tau, mas. Aku sudah pernah melahirkan normal mas. Kamu cukup semangati aku supaya aku kuat ngedennya." Ucapnya berusaha menenangkanku.
Percuma saja berdebat dengannya. Wanita yang terlampau mandiri itu tetap tak ingin dibantah. Al-hasil aku berkeliaran kesana kemari mencari pendukung.
"Kalau dokter bilang boleh, biarkan saja Tar. Tugas kamu adalah beri dia semangat. Dan yang terpenting, segera mungkin ke rumah sakit. Supaya dokter segera mengambil tindakan jika sewaktu-waktu tidak memungkinkan untuk melahirkan normal, " ucap mama. Dan itu artinya mama tak berada dipihakku.
Begitupun bunda, "Berdoalah semoga Allah memudahkan proses persalinan nanti."
Dan semakin hari aku semakin berdebar menanti momen paling menegangkan sepanjang perjalanan hidupku. Terlebih saat beberapa kali melihat Lintang meringis menahan sakit.
"Kita ke rumah sakit sekarang!" Aku segera bangun dari kursi saat melihat Lintang tengah berpegangan kuat pada pinggiran meja makan.
Lintang menegakkan posisi tubuhnya, wajahnya kembali seperti biasa. "Kontraksi palsu, mas. Itu biasa terjadi."
"Semakin mendekati persalinan akan semakin sering. Dan jika sudah saatnya melahirkan akan semakin intens, bahkan lima menit sekali dan rasanya lebih sakit dari ini."
"Tuh kan, belum apa-apa aja aku udah merinding. Ayolah Lin, kita atur jadwal operasi caesar yuk. Aku cuti deh hari ini." Aku masih belum menyerah merayunya.
Dia hanya tersenyum menanggapiku bersamaan dengan datangnya anak-anak yang sudah berseragam rapi bersama Dini, seorang pengasuh yang dulu menjaga Zoya di rumah mama Hana. Aku memintanya mengurus dua anak kami, karena kondisi Lintang yang semakin hari semakin kesulitan bergerak dan mudah lelah.
Siangnya aku tengah menikmati makan siang bersama Langit di ruanganku. Tiba-tiba ponselku berdering. Lintang? Dia memang sering menelpon atau mengirim pesan, tapi kali ini feelingku mengatakan ada sesuatu.
Aku menatap Langit, dan pria berusia 24 tahun itu juga menatapku dengar raut wajah khawatir. Apa feeling kami sama?
__ADS_1
"Hallo sayang,"
Dan suara lirih yang ku dengar membuat kakiku lemas seperti tak bertulang. "Aku sedang diperjalanan menuju rumah sakit, Mas. Ketubanku pecah."
"Kamu sama siapa sayang?" ucapku panik dengan suara bergetar. Membuat Langit terkesiap.
"Ini di antar mang Joko. Aku sama Bunda, Mas."
"Aku segera kesana. Kita ketemu di rumah sakit." Aku menutup panggilan dan membereskan bekas makan kami dengan irama jantung yang berdetak cepat.
"Kita ke rumah sakit, Lang."
Didalam mobil aku terus menggerakkan kakiku tanda aku sedang gelisah. "Lebih cepat Lang!" Teriakku tak sabar saat Langit mengemudikan mobil tak lebih cepat dari siput.
"Potong mobil depan, Lang!" Teriakku lagi saat dia malah membuntuti mobil di depan kami.
"Cepat Lang, sebentar lagi lampu merah!" Teriakku lagi.
"Banci banget!! Sini biar aku yang bawa." Ucapku saat mobil terpaksa berhenti karena lampu merah. Aku berusaha melepas seatbelt.
"Tau apa kamu!" Bentakku.
"Laah, aku kan pernah menemani kak Lintang pas melahirkan Bintang." Jawabnya.
Sialan! Aku kalah telak!
"Banyak-banyak berdoa. Semoga persalinannya lancar." Aku menatapnya sinis. Sok-sok-an menasehati.
"Belum ngerasain tegangnya saat mendengar dokter bilang sedikit lagi bu. Tarik nafasnya, iya udah kelihatan kepalanya. Iya, sedikt lagi."
Ucapannya kali ini benar. Walaupun biasanya aku juga sering tegang. Tapi bukan tegang yang begini, melainkan tegang yang begitu.
*Ah, s*top Akhtar. Tak ada waktu memikirkan tegang yang iya-iya.
Kali ini aku lebih baik diam, memikirkan kata-kata paling pas untuk menyemangati Lintang.
__ADS_1
Kamu pasti kuat sayang. Ah, itu terlalu biasa.
Kamu pasti bisa, Lin. Iss, dia buka sedang ingin berkompetisi.
Kamu bertahan ya, sayang. Astaga Tar! Di bukan sedang sekarat.
Dan setibanya di rumah sakit aku langsung berlari menuju ruang bersalin setelah bertanya pada salah satu perawat yang melintas.
Akhirnya aku menemukan ruang bersalin dimana Lintang berada. "Sayang..." Sapaku saat melihatnya tengah berbaring di ranjang pasien. Aku berjalan mendekat dan duduk di sampingnya. "Sakit sayang?"
Lintang menggeleng. Aku tersenyum menatapnya. "Kamu wanita terhebat yang pernah aku temui. Kamu dan mereka," aku mengelus perutnya, "pasti akan baik-baik saja."
"Akhtar, baru saja dokter memintamu untuk bertemu. Ada hal penting yang harus di bicarakan." Ucap Bunda.
"Baik bun." Aku mencium kening Lintang. "Sebentar ya sayang."Aku segera menemui dokter Salma diruangannya.
Dokter menjelaskan tentang kondisi Lintang yang mengalami ketuban pecah dini karena usia kandungannya memang belum 37 minggu.
"Harus dilakukan operasi caesar sesegera mungkin. Karena jika tidak dilakukan maka akan membahayakan keselamatan ibu dan bayinya." Perkataan dokter berhasil membuat jantungku nyaris berhenti berdetak.
Dokter juga menjelaskan ketuban pecah dini dapat menyebabkan beberapa komplikasi seperti infeksi rahim, retensi plasenta yaitu
kondisi dimana sebagian atau seluruh plasenta tertinggal di dalam rahim, solusio plasenta yaitu terlepasnya sebagian atau seluruh plasenta dari dinding rahim sebelum terjadinya persalinan, cedera otak pada janin, dan juga kematian.
"Lakukan yang terbaik dok." Ucapku pasrah. Setelah keluar dari ruangan dokter aku segera mengurus administrasi. Aku juga segera menghubungi mama dan papa. Disaat seperti ini aku sangat membutuhkan mereka.
"Kamu sudah berusaha sayang, dan ini demi kebaikan kalian." Ucapku sambil menghapus air matanya, karena Lintang sempat merasa kecewa karena harus melahirkan secara caesar.
"Kamu hebat sayang. Semangat ya, sebentar lagi kita akan bertemu si kembar. Aku tunggu di luar. Aku gak akan kemana pun. Janji!" Aku berusaha menenangkannya saat suster mendorong bednya memasuki ruang operasi.
Padahal saat ini aku juga merasakan ketegangan, kekhawatiran dan ketakutan yang bercampur menjadi satu. Tapi aku harus kuat di hadapannya, aku harus menyemangatinya. Perjuangannya selama hampir sembilan bulan ini tak boleh sia-sia.
Aku tidak diizinkan masuk kedalam ruang operasi, karena dikhawatirkan kehadiranku akan mengganggu pekerjaan dokter dan kegelisahanku justru membuat Lintang stres dan tidak releks saat menjalani operasi.
Aku mondar-mandir di depan ruang operasi. Langit memandangku remeh. Aku memutuskan untuk duduk di sebelahnya. "Lihat saat istrimu melahirkan nanti. Aku orang pertama yang akan menertawakan wajah panikmu."
__ADS_1
Dan si tengil ini malah berkata, "Ku tunggu."